“Persoalan pendidikan adalah persoalan kasih sayang, karena itu pendidik yang baik seyogianya mampu memberikan kasih sayang secara tulus dan tepat untuk anak didiknya” – Rochmat Wahab

Segala puji hanya milik Allah swt. Yang telah menjadikan, memelihara, melindungi dan mendidik seluruh alam semesta. Kita manusia sebagai makhluk selalu menyadari dan mengakui tanpa mengingkari sedikitpun atas kemahakuasaan-Nya. Dia mendidik alam ini dengan sifat-sifatnya yang sangat terpuji. Karenanya, kita utamanya sebagai pendidik sudah sepatutnya mengikuti dan meneladani sifat-sifat-Nya yang terpuji untuk menunaikan amanah di atas bumi ini.

Pendidik saat ini, sadar atau tidak sadar banyak yang mereduksi dan men-downgrade-kan posisinya sebagai salah satu karir yang bermartabat menjadi turun, bahkan dalam batas tertentu menjadi terendahkan di hadapan anak didik dan di tengah-tengah masyarakat. Apalagi ada sejumlah pendidikan yang melanggar kode etik dan pelanggaran norma sosial. Mereka melakukan bullying dan penyimpangan sosial terhadap anak-anak. Apapun alasannya, pendidik harus ditegakkan wibawanya. Mereka tetap sangat dibutuhkan. Jika ada persoalan yang sifatnya kasuistik dan personal, bukan yang profesional atau institusional.

Pengertian pendidik dalam perspektif Al Quran diturunkan dari suatu firman Allah swt dalam QS Al Fatihah : 2-3, yang artinya “Segala puji bagi Allah, (yang mendidik) semesta alam, Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang”. Betapa tingginya sifat Allah yang telah mendidik (seluruh alam, baik makhluk sosial maupun makhluk alam) dengan penuh kasih sayang. Dengan begitu kasih sayang merupakan sifatnya yang paling utama harus dimiliki oleh seorang pendidik.

Untuk memperkuat pentingnya sifat kasih sayang, Allah juga mengingatkan kepada kita, bagaimana fitrahnya kedua orangtua itu mendidik anak dengan penuh kasih sayang, sehingga kita memiliki kewajiban mentaati mereka sebagai konsekuensi logisnya. Ingat firman Allah swt dalam QS Al Isra’:24, yang artinya: “…Dan rendahkanlah dirimu terhadap mereka berdua dengan penuh kesayangan dan ucapkanlah: Wahai Tuhanku, kasihilah mereka keduanya, sebagaimana mereka berdua telah mendidik aku waktu kecil“.

Baca Juga:  Hari Santri, Kita Baca Asal-Usul Pesantren di Jawa

Selain secara personal, bagaimana orangtua atau pendidik itu memiliki sifat utama, yaitu kasih sayang terhadap anak atau anak didiknya, juga kasih sayang merupakan sangat penting bagi dan dimiliki Rasulullah saw untuk membina dan mendidik umatnya. Hal ini ditunjukkan oleh Allah swt melalui firmannya, yaitu “Sungguh telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (QS. At Taubah : 128).

Sifat kasih sayang pada prakteknya dalam proses pendidikan bersifat kontekstual, bukan bersifat linier. Karena itu sifat kasih sayang bisa diwujudkan berupa hadiah atau pujian, bisa juga bersifat hukuman atau sanksi. Hadiah itu diberikan, ketika ada maksud untuk penguatan terhadap perilaku yang baik atau hasil yang sukses. Hukuman itu diberikan, ketika ada maksud untuk penghilangan perilaku yang tidak baik atau hasil yang gagal.

Selain sifat kasih sayang seorang pendidik perlu juga menunjukkan sifat-sifat lain untuk bisa mendidik anak menjadi insan insan kamil. Sifat-sifat itu ditunjukkan oleh Allah swt dalam QS Fushilat : 34-35, yaitu “Dan tidaklah sama perbuatan yang baik dan yang jahat. Tolaklah (kejahatan itu) dengan cara yang lebih baik, maka tiba-tiba antara kamu dan dia ada permusuhan jadikan seolah-olah ia adalah teman yang sangat setia. Sifat-sifat yang baik itu tidak dianugerahkan melainkan kepada orang-orang yang sabar, dan tidak dianugerahkan kecuali kepada orang-orang yang mempunyai keberuntungan yang besar”. Sifat-sifat pendidik lainnya yang bisa diturunkan sari kedua ayat tersebut, di antaranya: bertakwa, ikhlas, berperilaku baik, sabar, dan pemaaf. Sifaf-sifat ini sangat penting sekali bagi peserta didik menjadi termanusiakan, sehingga bisa tumbuh dan berkembang secara optimal.

Baca Juga:  Ben Anderson Memandang Pesantren

Demikianlah beberapa hal penting sifat-sifat pendidik dalam perspektif al Quran. Bahwa kasih sayang merupakan sifat pendidik yang utama, tanpa mengabaikan sifat-sifat lainnya. Sifat-sifat pendidik adalah sesuatu yang sangat berarti bagi proses pendidikan yang unggul, karena sifat-sifat itu tidak hanya diturunkan dari sifat Rasulullah sebagai pendidik, melainkan juga sifat yang diturunkan dari sifat Allah swt. Hal yang ideal ini memang tidak mudah untuk dibumikan, namun dengan kesungguhan pendidik, insya Allah yang profil pendidik yang ideal dapat diwujudkan. Semoga kita sebagai orangtua dan guru bisa memanifestasikan. Aamiin. [HW]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    1 Comment

    1. […] yang sangat berarti di sekolah yang bertanggung jawab mengawal proses pendidikan adalah pendidik. Pendidik selain guru di sekolah yang mengawal proses perkembangan siswa adalah konselor. Bahkan […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini