Sayyidah Aisyah Juga Cemburu

Abu Bakar Ash-Shiddiq dan istrinya Ummu Ruman sungguh beruntung, pasalnya mereka berdua dikasih amanat Allah untuk membesarkan, mendidik, dan merawat putri cerdas berlaqab Ummul Mukminin yakni Aisyah r.a.

Putri kecil itu lahir bulan Syawal 17 sebelum Masehi atau 5 tahun sebelum kenabian. Perasaan bahagia sekaligus was-was menyelimuti hati keluarga Abu Bakar ketika menunggu kabar dari tabib yang menangani Ummu Ruman, waktu kelahiran Aisyah sudah dinantikan oleh banyak orang bahkan saat itu banyak kerabat yang hadir untuk melihat si bayi. Selang beberapa menit tangisan pertama Aisyah membuat siapa saja yang menanti di luar ruangan menetaskan air mata, serta ada pula yang menunduk pertanda syukur.

Aisyah kecil sudah terlihat cantik menawan, secara fisik beliau memiliki tubuh ideal ditambah akhlak yang menghias menggambarkan wujud kedamaian Islam. Buah hati Abu Bakar dan Ummu Ruman seolah mempunyai kualitas yang sempurna wajar saja karena menurut ungkapan “buah yang jatuh tidak jauh dari pohonnya” tersebut sesuai bagi dia. Abi dan Ummi Aisyah merupakan orang kepercayaan Rasul Muhammad SAW. Sehingga apabila putra putrinya sangat gemilang sudah sepatutnya itu terjadi.

Namun Aisyah juga tetap manusia yang punya hawa nafsu pun perasaan. Api cemburu Aisyah menyala saat undian bermalam nabi jatuh pada Saudah dan Aisyah, seperti yang telah kita ketahui istri Rasulullah berjumlah tigabelas jadi beliau menerapkan bermalam secara bergiliran supaya tetap adil antara satu sama lain. Kisahnya hari pertama Aisyah tinggal dengan suami ia berniat melayani secara baik seperti kebanyakan pasangan lain, ia memasak makanan lezat yang akan diberikan sendiri kepada Rasul, pesan ayahnya selalu diingat bahwa taatlah pada suamimu, layani dia karena menikah dengannya adalah suatu kemuliaan dan kehormatan.

Dan ketika makanan sudah siap diantarkan, Aisyah sedih melihat Saudah telah terlebih dahulu berdiri di belakang Rasulullah lengkap membawa masakan. Mengetahui kejadian yang membakar hatinya ia kembali masuk dengan makanan yang masih utuh, ketika Sa’udah datang padanya spontan Aisyah berkata “makanlah!” sambil menyodorkan makanan. “Tidak!” jawab pendek Sa’udah. Tetapi Aisyah mengulangi perintahnya dan Sa’udah pun tetap menolak, karena ditolak dua kali Aisyah mengancam akan membuat kotor wajah Sa’udah dengan makanan masakannya. Namun Sa’udah tetap tidak mau makan makanan pemberian Aisyah.

Kekesalan Aisyah atas penolakan itu memaksa ia mencoreng muka Sa’udah dengan makanan, Rasulullah yang menyaksikan tingkah kedua istrinya diam dan tersenyum. Beberapa menit kemudian diambillah tangan Sa’udah dan diarahkan pada makanan untuk mengambil segenggam darinya lalu beliau berkata “Corenglah muka Aisyah dengannya” akhirnya keduanya sama-sama kotor tercoreng akibat makanan.

Lain cerita perihal kecemburuan Aisyah terhadap Hafshah. Perjalanan jauh akan dimulai dan istri yang terjadwal menemani nabi Muhammad adalah Aisyah dan Hafsah, karena dipersunting terlebih dahulu oleh Rasulullah daripada Aisyah ia lumayan banyak hafal kebiasaan suaminya. Sebelum berangkat Hafshah menawarkan untuk bertukar kendaraan (unta) dengan Aisyah, tanpa berfikir macam-macam Aisyah mengiyakan penawaran tadi. Entah kenapa terlintas difikiran Hafshah untuk melakukan pertukaran kendaraan, apakah dia ingin menunjukkan kemesraan di depan madunya ataupun memang karena yang lain tidak ada yang tau pasti.

Dan benar Rasulullah menaiki unta Aisyah yang sesungguhnya tetapi beliau tidak mengetahui jika yang ada di dalam bukanlah Aisyah malah Hafshah, walaupun begitu uluk salam beliau ketika menaiki kendaraan tetap dilakukan seperti kebiasaanya. Berbeda rasa di lain tempat, dari kejauhan Aisyah menggerutu kesal pada dirinya sendiri juga pada Hafshah.

Rombongan pasukan Rasul siap berangkat, kendaraan berjajar lurus rapi. Aisyah yang berada di belakang kendaraan Hafshah dan Rasulullah bergeming tiada henti, hatinya panas terbakar perasaan cemburu, tetapi ia hanya bisa terdiam sembari menenangkan diri.

Perjalanan yang sangat jauh dan melelahkan memerlukan istirahat barang sejenak agar tenaga para pejalan pulih kembali. Di saat itu Rasulullah turun lalu berkumpul dengan rombongan, sedangkan Aisyah menepi dan duduk sendirian ditemani rasa galau yang tak kunjung hilang di bawah pohon izhkir, pohon ini apabila dilihat dari atas akan tampak dipenuhi beberapa hewan kecil penyengat.

Disana Aisyah berkata “Ya Allah, izinkan hewan penyengat ini menggigitku karena diam dan tak kesanggupanku mengatakan sesuatu pada Rasul-Mu”.

Dampak dari kecemburuan Aisyah pernah mendapatkan teguran lewat ayat al-qur’an yang tertulis pada surat al-tahrim ayat satu sampai lima. Saat mendengar hal itu Hafshah dan Aisyah menyesal, minta maaf dan berjanji untuk tidak mengulang kesalahan sepele lagi.

Aisyah sungguh istimewa terbukti dipenghujung masa Rasulullah meninggal dalam pangkuannya, ia juga mendapat banyak pujian dari nabi diantaranya yang disebutkan dalam hadis riwayat Bukhari “Keutamaan ‘Aisyah terhadap wanita-wanita lain bagaikan keutamaan makanan tsarid (sejenis makanan yang terbuat dari daging dan roti yang dijadikan bubur dan berkuah) dibandingkan seluruh makanan lain”. [IZ]

Akiya Qidam Hayya
Mahasiswi hukum fakultas syariah dan hukum UIN Sunan Ampel Surabaya dan Santri Al-jihad Surabaya

    You may also like

    Tinggalkan Komentar

    More in Perempuan