Setiap Ayat Al-Qur’an mengandung mukjizat, bahkan setiap hurufnya juga demikian. Ayat Al-Qur’an tidak akan pernah selesai dikaji dan ditafsirkan walau sampai kapan pun. Setiap kali dibaca, dikaji, diteliti akan muncul ilmu baru, ia laksana mutiara yang tidak pernah hilang keindahannya. Tidak pernah selesai, dikaji dari sisi keindahan bahasanya, faidahnya, manfaatnya, pesannya, dan lainnya, belum lagi bila dikaji dari berbagai disiplin ilmu. 

Satu Ayat berikut mencakup seluruh ketentuan Agama Islam, baik dari aspek akidah, muamalah, dan akhlak. (Ayat 177, Surat al-Baqarah)

لَيْسَ ٱلْبِرَّ أَن تُوَلُّوا۟ وُجُوهَكُمْ قِبَلَ ٱلْمَشْرِقِ وَٱلْمَغْرِبِ وَلَٰكِنَّ ٱلْبِرَّ مَنْ ءَامَنَ بِٱللَّهِ وَٱلْيَوْمِ ٱلْءَاخِرِ وَٱلْمَلَٰٓئِكَةِ وَٱلْكِتَٰبِ وَٱلنَّبِيِّۦنَ وَءَاتَى ٱلْمَالَ عَلَىٰ حُبِّهِۦ ذَوِى ٱلْقُرْبَىٰ وَٱلْيَتَٰمَىٰ وَٱلْمَسَٰكِينَ وَٱبْنَ ٱلسَّبِيلِ وَٱلسَّآئِلِينَ وَفِى ٱلرِّقَابِ وَأَقَامَ ٱلصَّلَوٰةَ وَءَاتَى ٱلزَّكَوٰةَ وَٱلْمُوفُونَ بِعَهْدِهِمْ إِذَا عَٰهَدُوا۟ ۖ وَٱلصَّٰبِرِينَ فِى ٱلْبَأْسَآءِ وَٱلضَّرَّآءِ وَحِينَ ٱلْبَأْسِ ۗ أُو۟لَٰٓئِكَ ٱلَّذِينَ صَدَقُوا۟ ۖ وَأُو۟لَٰٓئِكَ هُمُ ٱلْمُتَّقُونَ.

Ayat ini sangat menarik. Dimulai dari dengan kata “Bukanlah sebuah kabajikan….” menurut Dr. Khalid Ibrahim dalam I’Jaz Bayani, Ayat ini adalah induk dari berbagai hukum demikian juga menurut Imam al-Qurubi yang meliputi 16 kaidah, baik yang terkait dengan ibadah personal dan ibadah sosial. (I’jaz Kata Ayat ini, Insyallah akan sikaji selanjutnya). Kemudian muncul “Walakin al-birra…”, tetapi kebajikan itu…

Dalam Ayat ini kebaikan bukanlah menghadapkan diri ke arah barat atau ke arah timur. Yang tidak sedikit orang yang lebih kepada sebuah formalitas arah, yang diperdebatkan, bahkan munculnya ayat ini karena berlarut-larutnya orang Yahudi dan Nasrani mempersoalkan pemindahan arah kiblat dari Yarusalem ke Arah Makkah (Ka’bah).

Tetapi, titik tekan kebajikan di sini adalah bila percaya dan melakukan. Yaitu Akidah, muamalat dan akhlak. Kita perhatikan apakah al-birr (kebajikan, kebaikan) yang ada dalam Ayat di atas.

Baca Juga:  Belajar dari Amir bin Fuhayra, Penghapus Jejak saat Hijrah

Yang pertama aspek akidah (5 pesan) beriman kepada Allah, hari kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, dan nabi-nabi.

Aspek kebajikan kedua adalah Muamalah (6 pesan), yaitu memberikan harta yang dicintainya kepada; kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya.

Dan yang ketiga terdapat empat pesan (4 pesan); mendirikan shalat, dan menunaikanz akat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar. 

Dan sabar ini dalam tiga hal; sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan.

Satu Ayat singkat di atas, tetapi meliputi seluruh pesan agama, kemudian ayat ini ditutup dengan “Mereka itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka itulah orang-orang yang bertakwa”.

Kebajikan itu bila dapat melakukan banyak aspek tidak hanya aspek horisontal saja, atau vertikal saja, tetapi mampu melakukan keduanya. “Man amana” aspek keberimanan, kepercayaan, dan keyakininan pada Allah Dan hal yang gaib lainnya. Dan “Wa ataal-mala al hubbihi”, memberikan harta kekayaan yang dicintai dan disenangi kepada kerabat, orang miskin dan lainnya. Aspek kepercayaan tidaklah cukup, tanpa memperaktikkan ajaran dari yang dipercayai, Allah swt yang termaktub dalam Kitab-kitabnya, dijelaskan oleh NabiNya. Pribadi saleh, yang berkahlak baik, maka Ayat ini ditutup dengan pesan yang sangat menarik, “Wasshabirin fi al-ba’sa, wa dharra’ wa hinal ba’s”. Karena kesabaran, menempati, shalat, Zakat, inilah sebagai pengejawantahan dari sebuah kepercayaan. [RZ]

Halimi Zuhdy
Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang, dan Pengasuh Pondok Literasi PP. Darun Nun Malang, Jawa Timur.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini