“Maaf mas, saya salut pada anda. Saya saja yang SEMPURNA tidak bisa seperti anda”.

“Mas masnya sudah berkeluarga? Istri mas normal? Wah mas ini luar biasa, saya yang NORMAL masih jomblo mas”.

Sudah ratusan kali kalimat senada ditujukan pada saya oleh pengemudi taxi, orang yang baru berjumpa dengan saya, dan bahkan beberapa staff kementerian juga melakukan hal yang sama. Awal mulanya ketika pertama kali mendengar pernyataan seperti itu, reaksi saya adalah ganti bertanya pada sang pemberi pernyataan. “Memangnya saya tidak normal mas?”, begitu reaksi saya sambil sedikit dibumbui senyum untuk menghilangkan kekakuan.

“Oh..maaf mas maksud saya tidak begitu, tapi gimana ya…”, begitulah biasanya orang bereaksi ketika pernyataannya saya balas dengan pertanyaan seperti di atas. Lalu untuk menetralisir rasa bersalah lawan bicara saya, biasanya kemudian saya bikin guyonan. “Saya ini juga sempurna mas, lha wong saya terlahir begini ini juga atas kehendak Yang Maha Sempurna. Saya juga masih manusia normal, lha wong saya juga masih bernafasnya pakai paru-paru dan makannya lewat mulut, kalau saya bernafas pakai insang dan makan lewat hidung, baru saya tidak normal”.

Memang selama ini sudah jamak lumrah di masyarakat kita bahwa kata disabilitas atau dulu disebut cacat dilawankan dengan kata normal atau sempurna. Kami yang mengalami hambatan fungsi tubuh dan atau konsisi seringkali disebut tidak normal atau tidak sempurna. Sebaliknya mereka yang tidak mengalami seperti apa yang kami alami menyebut diri mereka sebagai sempurna atau normal.

Kata disabilitas sendiri merupakan hasil konstruksi sosial yang cukup panjang dan melibatkan berbagai aspek ilmu pengetahuan; ilmu kesehatan, budaya, sosial, dan ilmu statistik. Salah satu ilmu pengetahuan yang berpengaruh dalam membangun konstruksi disabilitas adalah ilmu statistik yang memperkenalkan istilah normal kepada masyarakat.

Ditilik dari sejarahnya, istilah normal, normality, normalcy, norm, average dan abnormal masuk ke daratan Eropa relatif belum lama. Kata-kata tersebut mulai diperkenalkan dalam bahasa Inggris sekitar tahun 1840. Selanjutnya kata normal tersebut dipakai secara luas antara tahun 1840-1860. Jika konsep normalitas yang selanjutnya dibakukan dalam sebuah kata “normal” muncul di Eropa pada abad 19, lalu pertanyaannya apa yang melatarbelakangi munculnya bempbentukan kata tersebut. Jawabnya adalah ilmu statistik salah satu cabang ilmu matematika.

Menurut Porter (1986), kata statistik muncul pertama kali pada tahun 1749 yang diperkenalkan oleh Gottfried Achenwall sebagai aritmatik politik- penggunaan data untuk kebutuhan negara dalam merancang kebijakan. Konsep ini kemudian beralih fungsi dari bidang politik ke bidang kesehatan ketika Bisset Hawkins memperkenalkan konsep medical statistik pada tahun 1829. Medical Statistik adalah sebuah konsep penggunaan angka untuk menggambarkan kondisi kesehatan seorang pasien.

Selanjutnya seorang ahli statistik Prancis Adolphe Quetelet (1796-1849) membakukan konsep normalitas pada pola pikir masyarakat. Dia mengatakan bahwa “law of error” yang digunakan oleh para ahli astronomi dalam menentukan posisi bintang dengan menghitung masing-masing kekuatan cahaya dari seluruh bintang dan kemudian mengukur rata-ratanya, juga dapat diaplikasikan pada manusia untuk mengukur berat dan tinggi mereka. Kemudian Quetelet merumuskan konsep yang diberi nama “l’homme moyen” atau manusia rata-rata.

Konsep manusia rata-rata ini kemudian diadopsi oleh seluruh masyarakat di seluruh dunia, dimana ukuran rata-rata disesuaikan dengan kondisi masing-masing masyarakat di setiap negara. Selain itu Quetelet juga memperkenalkan konsep “kelompok dibawah rata-rata” yang dia sebut “les classes moyen”.

Dua teori normalitas yang disodorkan Quetelet tersebut yang kemudian memunculkan konsep tentang kecacatan. Sebuah konsep yang didasarkan pada karakteristik rata-rata manusia. Karakteristik yang lebih menekankan pada kondisi fisik manusia seperti berat badan, tinggi badan, dan bentuk tubuh.

Maka jika ada salah satu kelompok atau individu dalam masyarakat yang memiliki karakteristik di luar karakteristik rata-rata, maka mereka digolongkan sebagai kelompok atau individu yang “tidak normal”. Konsep ini kemudian berpengaruh pada pola pikir masyarakat kita terutama para ahli kesehatan dalam melihat kecacatan. Mereka berfikiran bahwa sesuatu yang berada di luar standard kenormalan harus diubah atau disesuaikan untuk menjadi normal. Penyandang cacat adalah kelompok masyarakat yang berada di luar dari standard normal yang diyakini oleh masyarakat. Meskipun demikian istilah normal yang digunakan oleh masyarakat secara umum dalam konteks kecacatan sulit untuk didefinisikan.

Sebagaimana keyakinan saya bahwa saya dan teman – teman yang terlahir sebagai disabilitas adalah kehendak Sang Maha Sempurna. Logika keimanan saya susah untuk memahami “Bagaimana yang Maha Sempurna, menciptakan mahluk yang tidak sempura?”. Jika ada mahluk yang tercipta tidak Sempurna, maka mahluk tersebut adalah produk gagal akibat bari proses penciptaan yang tidak Sempurna. Jika proses penciptaan tidak sempurna, artinya Sang Pencipta telah mengalami Kekeliruan atau Kealpaan. Padahal Mustahil bagi Sang Pencipta yang Maha Sempurna mengalami kekeliruan atau kealpaan.

Memang seringkali manusia tidak konsisten dengan keimanannya. Satu sisi manusia beriman bahwa Tuhan Maha Sempurna, pada sisi lain dia memperlakukan mahluk Tuhan sebagai yang tidak sempurna. Satu sisi manusia beriman bahwa Tuhan Maha Kaya dan menjamin hidup mereka, di sisi lain mereka korupsi karena kuatir hartanya tidak mencukupi hidupnya. Di satu sisi manuasia bersaksi Tiada Tuhan Selain Allah, di sisi lain mereka “mentuhankan” hartanya, jabatannya, kepandaiannya, dan kesombongannya.

Acuan saya adalah Firman Allah dalam QS At Tiin 4-6 “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan dia ke tempat yang serendah-rendahnya, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh; maka bagi mereka pahala yang tiada putus-putusnnya”.

Bagi saya manusia cacat atau manusia yang tidak sempurna adalah, “mereka yang tidak beriman kepada Tuhan dan enggan melakukan perbuatan baik”. Karena fitrah manusia adalah beriman pada Tuhan dan selalu berbuat kebaikan pada sesamanya; menebar kasih dan kebajikan.

Selaras dengan doktrin Kristen bahwa manusia adalah Citra Allah; “Allah menciptakan manusia itu menurut citra-Nya, menurut citra Allah diciptakan-Nya dia: laki-laki dan perempuan diciptakan-Nya mereka” (Kej 1:27). Sehingga apapun adanya manusia, dia adalah Citra atas Kesempurnaan Tuhan. Kesempurnaan Tuhan justeru tercitrakan pada eksistensi “ketidaksempurnaan” yang dimiliki manusia.

Sebagaimana yang diungkapkan oleh pujangga mashur William Shakespeare dalam Twelve Night; “Di alam ini tiada orang yang ternoda kecuali pikirannya. Dan tiada seorangpun boleh disebut cacat kecuali yang kejam”.

Bahrul Fuad
Alumnus PP Bahrul Ulum Tambakberas, Disabilitas, Mahasiswa S3 Sosiologi Universitas Indonesia.

Kisah Lelaki yang Terbunuh Tragis pada 10 Muharram

Previous article

Orientasi Pendidikan Masa Depan

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar

More in Hikmah