Menjadi seorang terpelajar yang memiliki kesempatan mengenyam dua dunia pendidikan  sekaligus yaitu pesantren dan juga kampus tentu memiliki keunikan tersendiri. Hal ini tentu istimewa, mengapa? Sederhana saja, karena pada dasarnya, tidak semua orang siap dengan pergulatan dunia pesantren atau juga sebaliknya tidak semua orang siap hidup dalam suasana pendidikan perguruan tinggi. Namun bagi kalangan mahasiswa yang masih istikamah nyantri sambil ngampus tentu hal ini memiliki keistimewaan sendiri di tengah berbagai kalangan yang tidak siap dengan keduanya.

Berbicara soal santri, atau di pesantren mahasiswa disebut sebagai mahasantri, tentu tak terlepas dari pengabdian. Mengabdi menjadi satu kegiatan alamiah yang sebenarnya bukan hanya bagi mahasantri, namun juga seluruh manusia. Dan tentu kita mengenal banyak tokoh-tokoh besar yang menghabiskan seluruh waktunya untuk mendarma baktikan dirinya untuk mengabdi baik kepada agama, masyarakat, negara, atau bentuk pengabdian yang lainnya.

Membincang soal pengabdian seumur hidup, kita mengenal tokoh ulama kharismatik Indonesia yang amat disegani dan dihormati dunia, beliau ialah KH Maimoen Zubair, di mana beliau didaulat sebagai santri mengabdi sepanjang hayat 2019 oleh Islam Nusantara Centre.

Mari kita mulai menjelajahi kata kecil bertajuk mengabdi.

Mengabdi secara literatur diartikan sebagai menghambakan diri untuk berbakti. Hal ini berarti bahwa mereka yang mengabdi sejatinya menjadi manusia yang berbakti untuk suatu kegiatan atau kepentingan yang dianggap bernilai luhur dan abadi, dan dalam dunia pesantren, mengabdi adalah satu jalan suci untuk mendapatkan ridha dari seroang kyai (guru) guna menempuh hidup di masa depan agar mendapat keberkahan dan dalam selalu kasih sayang Tuhan.

Mengabdi, bagi seorang santri adalah sebagai aktualisasi dirinya kepada tepat di mana ia tinggal untuk mencurahkan segala potensinya demi menumbuh-kembangkan tempat yang ia pijak (membantu pimpinan pesantren) agar lebih maju serta mengalami progresifitas yang signifikan. Lebih dari pada itu adalah bahwa mengabdi juga berarti belajar menjadi manusia yang bermanfaat yang tak diukur oleh rupiah, menjadi manusia bermartabat yang dituntut agar ikhlas batin dan juga lahirian, menjadi menusia yang memaksimalkan segala kemampuan yang ada dalam dirinya sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa.

Selain itu, mengabdi juga berarti mendefinisikan santri bahwa dirinya memanglah santri yang tidak hanya mengaji atau mengkaji khazanah-khazanah intelektual keislaman namun juga mengkaji dan mengaji dirinya sendiri untuk menemukan definisi santri secara lebih halus dan bernilai luhur lewat pengabdian. Hal ini memungkinkan karena mengabdi sendiri menuntut seorang santri untuk berlaku ihlas dan tabah dengan segala problema pengabdian yang tak mudah tentunya, selain ia harus membantu pesantren, ia juga melayani keperluan belajar mengajar bagi para santri yang lain (junior). Namun di balik semua itu, kabar baiknya mereka akan tuai di hari kelak sebuah seperti pepatah arab mengatkan bahwa Al-Khidmatu Miftahul Karamah yang berarti bahwa mengabdi adalah kunci dari kemuliaan.

Secara psikologis, mengabdi juga berarti membentuk karakter santri di mana secara hirarki kebebasannya tidak bisa ia dapatkan sepenuhnya karena ia harus tunduk pada otoritas pesantren, namun di sisi lain ia juga belajar membangun karakter ke-diri-anya lewat kombinasi tabah, tekun, ikhlas dan juga ulet untuk menjalani pengabdian. Sebab hanya mereka yang mengabdi yang merasakan bagaimana nilai sesungguhnya hidup lebih bermakna.

Terkahir tentang mengabdi, adalah tentang etos atau sering juga disebut etika. Hal ini merupakan suatu yang esensial bagi santri untuk menuai masa depan yang gemilang dan cerah. Karena pada dasarnya seseorang yang masa mudanya tidak menjalankan pengabdian (apalagi sepanjang usia tidak sama sekali) maka ia tak layak mendapat kemuliaan derajat dan keistimewaan harkat ke-diri-annya yang sering disebut sebagai manusia. Mengabdi adalah berlaku jujur atas diri dan sang guru, berlaku bermartabat dengan tidak mementingkan dirinya sendiri atas kepentingan orang lain, dan lebih jauh dari itu mengabdi adalah berlaku manusiawi, di mana ia meluapkan seluruh kemampuan dirinya demi sesuatu yang lebih baik sebagi bukti berbakti yang tak hanya kepada sang guru namun juga berbakti atau menghamba kepada Tuhan, Raja dari seluruh jagat alam.

The last but not least.

Sebagai santri yang juga hidup dalam lingkungan kampus, penulis ingin mengatakan bahwa mengabdi adalah sebuah idealisme moral dan etika, sebuah aktualisasi atau jalan mengekspresikan rasa tanggung jawab atas kehidupan dan anugerah Tuhan Yang Maha Esa. Berbahagialah dalam pengabdian. Tabik, salam.

Wallahu A’lam Bishawab

Teni Maarif
Mahasiswa UIN Raden Intan jurusan Pendidikan Agama Islam semester 7 sekaligus Mu’allim (Pengurus Ma’had Al-Jami’ah UIN Raden Intan)

Siapakah Sosok KH. Habibulloh Zaini?

Previous article

Ora Obah, Ora Mamah?

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar

More in Santri Kita