tertawa syar'i

Anda suka tertawa dan atau membuat orang lain terbahak-ngakak? Pernahkah Anda menertawakan diri sendiri hingga terpingkal geli dan kemudian lupa untuk menertawakan orang lain? Bersyukurlah atas anugerah Tuhan berupa lelucon-lelucon tak lucu dalam hidup ini. Apa sebab? Banyak di antara kita yang belum sanggup menertawakan diri sendiri sehingga tugas “tertawa” itu lalu kita bagi-bagi ke orang lain. Itulah mengapa banyak orang lain menertawakan kita.

Tawa adalah sebuah ekpresi suara—juga ekspresi budaya—yang diikuti air muka dan gerak tubuh sebagai dampak psikologis dari keriangan atau kebahagiaan yang mungkin dipicu oleh canda menggelitik dan simultan serta prilaku dan kejadian lucu dalam keseharian. Tawa yang terlalu lebar dan lama dapat mengeluarkan air mata atau bahkan sakit perut. Namun demikian, tak jarang tawa adalah cara bagi sementara orang untuk menutupi rasa sedih yang dalam dan tak dapat diungkapkan.

Kabar baiknya, jika Anda tertawa dalam 10 menit, Anda dapat membakar 1000 kalori dalam tubuh Anda. Jadi, tawa itu olah raga dan olah mental, baik bagi kesehatan.

Tertawa semacam “fakultas“ untuk kita merefleksikan kekacauan dari sudut pandang kekonyolan. Kita tidak hanya perlu teladan untuk menyembuhkan krisis akal sehat ini, tapi juga perlu diktat untuk menyadari betapa penyakit-penyakit itu tidak sedang menjalar dan menyebar di luar sana, melainkan di dalam diri kita sendiri, tanpa terkecuali para birokrat, ilmuwan, agamawan, pengusaha, dan siapapun saja yang sengaja atau tidak telah melakukan pendangkalan moral dan rasionaliras.

Perhatikan betapa orang tua sampai anak-anak, betapa yang palibg gila sampai yang paling waras, semua menertawakan polah para pejabat dan penguasa seolah meraka kencing di celana mereka sendiri, seolah mereka beramai-ramai kantut dalam kantong plastik untuk kemudian mereka masukkan kepala mereka ke dalam kantong-kantong tersebut sekian lama. Pendek kata, mereka mabuk bau kentut mereka sendiri. Ya, ada perasan geram beralas dendam, ada pula perasan sedih bertelungkup lirih, akan tetapi tertawa adalah cara lain untuk mendewasakan keindonesiaan kita, bahkan keberagamaan kita sebagai bangsa.

Terdapat beberapa hal yang ingin saya tertawakan beberapa hari ini, terutama karena saya sering keluyuran dari kampung ke kampung, dari kampus ke kampus dan bahkan ke beberapa pusat keramaian dan perbelanjaan. Nah, apa yang hendak saya tertawakan itu?

Baiklah, agar Anda tidak menunggu terlalu lama, ini dia: pertama, ada orang-orang yang berpakaian bukan untuk menutupi tubuhnya, tapi justru untuk menonjolkan “bagian terpenting”nya. Pakaian ketat dan pressed body adalah ironi modernitas dan kemajuan yang disembah-sembah manusia modern. Jika ditelisik lebih dalam, sejatinya hasrat ingin “mempertontonkan diri” adalah dorongan purba setiap manusia. Karena masing-masing kita adalah “sex exhibitionist” dalam beragam bentuk dan levelnya. Jadi, memamerkan bentuk tubuh dalam pakaian adalah kenikmatan bagi yang bersangkutan sebagai pelaku dan orang-orang di sekeliling sebagai penikmat.

Kedua, ibadah-ibadah personal, shalat misalnya, justru menjadi penghalang sampai (wushul)nya seorang hamba kepada Tuhannya, apa sebab? Shalat hanya “pelarian liturgis” demi menghindari suara-suara tetangga yang anaknya kelaparan dan tak bisa sekolah. Prinsip lebih baik membangun tempat ibadah dari pada peduli, berbagi dan toleran kepada sesama dan umat beragama masih jauh lebih tinggi dan laris di khalayak publik. Dalam bahasa yang ugal, pola ke(ber)agamaan kaum beragama justru menjauhkan mereka dari agama dan Tuhan. Maka, berlama-lama di atas sajadah karena lari dari persoalan kemanusiaan dan filantropi adalah kemunafikan spiritual.

Memang, Bapak Ekonomi dan Sosiologi modern, Ibnu Khaldun (w. 808 H) pernah mengingatkan kita bahwa masyarakat primitif (badawah) akan kerap terjebak pada prilaku “taqdisiy”, yakni pemberhalaan dan pengkultusan kepada agama, kepada tokoh, termasuk menyembah ibadah dan kesalehan personal, bukan menyembah Tuhan yang lalu membias pada kesalahan sosial.

Nah, tawa saya yang ketiga adalah, manusia cenderung membangun dengan cara merusak: membangun manusia dengan menghancurkan manusia lain, membangun pusat-pusat keramaian dan perbelanjaan sebagai tempat hiburan palsu dan surga semu dengan cara merusak dan mengeksploitasi alam sedemikian gila. Sekali lagi, kerana kemajuan dalam pandangan manusia “jaman now” adalah kemajuan infrastruktur dan realitas fisik semata. Alih-alih mensejahterakan dan mencerahkan, pembangunan justru tidak memanusiakan manusia (ta’nis al-insan) dalam beragam bentuknya.

Nah, lantas, sikap kita bagaimana? Tidak ada satu keburukanpun yang tidak bisa diperbaiki. Tidak ada satu permulaanpun yang tidak bisa diakhiri. Tugas kita adalah memaafkan dan mohonkan ampunan untuk mereka, mendidik mereka agar memiliki kesadaran semesta bahwa manusia adalah pengelola, bukan penindas dan perusak. Memaafkan adalah hadiah yang Anda berikan kepada diri Anda sendiri. Menyalahkan hanya akan membuang-buang waktu dan energi. Anda mungkin berhasil membuat orang lain merasa bersalah, tetapi Anda tidak akan berhasil mengubah apapun yang membuat Anda tidak bahagia.

Sekali lagi, seandainya saya berada pada posisi pertama, kedua dan ketiga, tulisan ini tidak akan pernah hadir dan lalu Anda baca. Apapun itu, hidup ini adalah teofani, yakni fase-fase kehadiran Tuhan untuk kita sadari, kita cerdasi untuk kemudian kita khalifahi. Teofani berarti Tuhan menampakkan diri dengan tanda-tanda yang dapat dihayati oleh setiap orang, sehingga yang bersangkutan sadar bahwa mereka berhadapan dengan Tuhan sendiri dalam setiap aksentuasi hidup.

Sangat boleh jadi Tuhan “hadir” pada keburukan dan kemaksiatan, tidak melulu di tempat-tempat ibadah. Oleh karena itu, kanjeng Nabi pernah membakar masjid dan meratakannya dengan tanah, kenapa? Saya kira, Anda cukup cerdas untuk menjawabnya.
Salam Takzim,

Ach Dhofir Zuhry
Alumni PP Nurul Jadid Paiton, Penulis Buku Peradaban Sarung, Kondom Gergaji dan Mari Menjadi Gila, Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Penasehat Dunia Santri Community dan pengampu kajian Tafsir Tematik NUonline tiap ahad sore 16.30 WIB

    Pembelajaran yang Memerdekakan

    Previous article

    Wajah (Ramah) Islam Indonesia

    Next article

    You may also like

    Comments

    Tinggalkan Komentar