(Ilustrasi: inilah.com)

Dalam dewasa ini, kita telah banyak dipertontonkan bentuk-bentuk kekerasan dalam rumah tangga. Entah itu berita di televisi, di instragam, facebook ataupun media sosial lainnya. Berita yang menunjukkan segala macam kekerasan, pemukulan, atau bahkan hingga meregang nyawa sekalipun.

Lalu bagaimana ini bisa terjadi? Apa yang salah? Bagaimana islam memandang terhadap segala macam peristiwa tersebut?

Tentu, dalam sejarahnya Nabi Saw telah mencontohkan bagaimana membina rumah tangga yang sakinah, mawaddah hingga warahmah. Hal ini tercamtum indah dalam hadis riwayat Imam Muslim no. 6195 yang berbunyi:

عَنْ عَائِشَةَ، قَالَتْ: مَا ضَرَبَ رَسُولُ اللَّهِ شَيْئًا قَطُّ بِيَدِهِ، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا خَادِمًا، إِلَّا أَنْ يُجَاهِدَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَمَا نِيلَ مِنْهُ شَيْءٌ قَطُّ، فَيَنْتَقِمَ مِنْ صَاحِبِهِ، إِلَّا أَنْ يُنْتَهَكَ شَيْءٌ مِنْ مَحَارِمِ اللَّهِ، فَيَنْتَقِمَ لِلَّهِ

Artinya:

“Dari Aisyah ra, berkata: bahwa Rasulullah Saw tidak pernah memukul siapapun dengan tangannya, tidak pula perempuan (istri), tidak juga pada pembantu, kecuali dalam perang di jalan Allah. Nabi Saw juga ketika diperlakukan sahabatnya secara buruk tidak pernah membalas, kecuali ada pelanggaran atas kehormatan Allah, maka ia akan membalas atas nama Allah Swt.”

Hadis diatas dari Aisyah ra secara jelas mencerminkan akhlak teladan Nabi Saw. Dimana Nabi dalam kehidupan rumah tangganya sangat menjauhi segala bentuk kekerasan terhadap perempuan atau istri.

Padahal apabila dilihat pada konteks kondisi saat itu, dikalangan masyarakat Arab atau bahkan seluruh peradaban dunia kekerasan terhadap perempuan sangat lumrah dilakukan para suami terhadap istri mereka. Namun Nabi justru berbeda, beliau menjadi teladan bagi kita semua dengan menjauhi segala bentuk kekerasan tersebut.

Nabi sebagai suami teladan, pendidik panutan dan guru terbaik memilih tidak mengikuti kebiasaan-kebiasaan para laki-laki masa itu. Nabi Saw memilih menjadi yang terbaik, menjadi pengasih dan penyanyang. Beliau dengan sengaja memilih untuk tidak pernah memukul istri sama sekali dalam keadaan apapun. Ini adalah pilihan yang seharusnya menjadi panutan semua umat islam yang menjadi pengikut beliau.

Bahkan dalam lanjutan hadis diatas, Nabi tidak pernah membalas perlakuan buruk shahabatnya. Bayangkan saja, seorang shahabat saja yang notabennya orang lain namun Nabi Saw justru memilih tidak membalasnya. Lalu bagaimana bisa seorang suami memukul istrinya padahal ia selalu membersamainya?

Inilah pula yang telah didakwahkan Imam Asy-Syafi’i dalam kitab al-Ummnya, bahwa kita selayaknya mencontoh teladan Nabi Saw terhadap istrinya sekalipun ada ayat yang membolehkan. Kata Syekh Ibn Asrur, kebolehan tersebut hanya diperuntukkan bagi para suami yang bisa mengendalikan diri. Sehingga ketika seorang suami pada praktiknya memukul istri tanpa bisa mengendalikan diri, maka ia harus dilarang oleh pemerintah. Karena ini semua demi kebaikan dan kemaslahatan yang menjadi spirit islam.

Sumber hadis: Imam Muslim dalam Shahihnya no. 6195, Imam Abu Dawud dalam Sunannya no. 4788, dan Imam Ahmad dalam Musnadnya no. 26354, 26596, dan 27047.

Ahmad Khaelani
Mahasiswa IAIN Syekh Nurjati Cirebon.

Seandainya Nabi Bersikap Keras, Tentu Mereka akan Menjauh

Previous article

Penghapusan UN dan Research-Based Public Policies

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar

More in Hikmah