Gus Dur, Kiai Sahal dan Gus Ipul/Doc Istimewa

Dalam bursa perjodohan level kampung dan bahkan nasional, santri selalu menempati top ranking untuk diangkat menjadi menantu. Bayangkan, agama dan negara saja dijaga, apalagi kamu! Well, mengapa santri menjadi The Most Wanted and Valuable Menantu? Karena santri pekerja keras, fleksibel dan dinamis. Hal ini paralel dengan filosofi sarung. Lantaran kedigdayaan santri itu lintas disiplin, lintas negara dan generasi, maka santri cenderung modern dan visioner.

Sepulang dari Pesantren, berkeluarga dan bermasyarakat, santri juga dituntut untuk bekerja sebagai bentuk tanggung jawab kepada anugerah Allah berupa hidup. Tidak sok paling alim dengan berebut mimbar dan tongkat Anshitu.

Santri lebih senang mendialogkan ilmu dengan kehidupan yang tentu gampang-gampang sulit. Oleh karena itu, sebelum pulang lazimnya Pesantren mewajibkan santri untuk mengajar di luar daerah, bahkan di luar pulau dengan menjadi guru tugas selama minimal satu tahun. Hal ini jauh lebih ekstrim daripada KKN yang notabene agenda tahunan Perguruan Tinggi. KKN atau pengabdian masyarakat biasanya hanya 30-40 hari dan berkelompok. Tetapi santri datang hanya sendirian atau minimal berdua di daerah asing lagi terpencil untuk belajar mengabdi dan melayani masyarakat setidaknya selama 12 purnama.

Tantangan dalam bermasyarakat, bagaimana membangun sinergi antara agama dan negara acapkali membenturkan kaum sarungan untuk berijtihad, kreatif dan inovatif serta fleksibel dalam berpikir dan bertindak. Islam itu satu, mazhabnya banyak. Indonesia itu satu, perbedaan pendapat dan benturan kepentingan penduduknya teramat kompleks. Di sinilah santri kerap mengakomodasi dan lantas mengkompromikan teks agama (aqwal) dan kondisi sosial (ahwal).

Oleh karena itu, biasanya santri tidak pilih-pilih kerja, tidak melulu mangajar, santri tak lain adalah gerak dinamis, sembada dan sak-madya, tidak hanya merakyat, karena santri memang rakyat itu sendiri. Kiai juga tak sekadar mendidik santri, tidak menjadikan pendidikan sebagai mata pencaharian, Kiai banyak memiliki bidang usaha untuk menopang kelangsungan pesantren. Hal ini jelas berbeda dengan (oknum) ustadz-ustadz layar kaca, dai-dai musiman cum penceramah karbitan yang melulu menganggap dakwah sebagai mesin ATM. Ujung-ujungnya, jual agama, makan dari agama dan lalu berpolitik praktis dengan berkendara agama. Ini sangat berbahaya bagi kemanusiaan, keagamaan dan keindonesiaan tentu saja.

Nah, dalam bekarja, apakah Anda sungguh-sungguh menyukai dan menikmati pekerjaan dan kesibukan Anda selama ini? Adakah sisa-sisa kemalasan purba yang selalu membekap Anda setiap kali hendak berangkat beraktivitas? Ataukah pekerjaan Anda—setelah dipikir-pikir, itupun kalau tidak sesat pikir—sedemikian menyiksa hingga Anda dapati diri Anda seolah menjadi mesin nan ringkih? Masih adakah produktifitas di sisa usia Anda kini, di pengunjung tahun ini?

Sesekali bacalah buku Self-Esteem and Peak Performance-nya Jack Canfield, juga Life with Passion-nya Les Brown, atau bahkan The Joy of Working-nya Denis Withly.

Secara umum, hasilnya sangat mengerikan dan mencengangkan, ternyata lebih dari 90 % penduduk planet bumi ini membenci pekerjaan dan rutinitas mereka. Ada puluhan apa, ratusan mengapa dan ribuan bagaimana yang berhamburan dari fakta-fakta riset dalam buku-buku tersebut. Tetapi, inilah hidup yang Anda jalani. Jika pun Anda enggan menjalani dan melalui, maka kehidupanlah yang justru akan melalui Anda. Konsekuensi logisnya, Anda akan terus-menerus ditindas dan digilas.

Hidup bukan tentang apa dan siapa serta deretan fakta di luar sana. Hidup (sepenuhnya) adalah tentang diri Anda sendiri. Anda boleh berpretensi dan berteori yang paling teori soal hidup: hidup adalah proses, hidup adalah perjuangan, hidup adalah pengorbanan, hidup adalah pertarungan, hidup adalah ujian, hidup adalah kebahagiaan, hidup adalah anugerah, hidup adalah berbagi, hidup adalah bersyukur, hidup adalah menipu dan menebar kepalsuan, hidup adalah menindas sebelum ditindas, hidup adalah pura-pura, hidup adalah permainan dan senda gurau, hidup adalah menjual agama dan mengebiri moralitas, hidup adalah melarikan diri dari kematian, hidup adalah mengada bersama-sama, hidup adalah…(teruskan sendiri). Apapun itu, hidup adalah tentang diri Anda sendiri, bukan tentang orang lain—life is you, it’s all about you.

Tetapi faktanya, masing-masing manusia terjebak pada kubangan faktisitas dan (lalu) aktivitas. Anda kerap mengeluh, “saya bosan menjadi buruh, saya diperbudak pekerjaan, sampai kapan saya menjadi karyawan dan bawahan, kalau terus-terusan menjadi guru dan tenaga kesehatan honorer bisa mati muda?”

Nah, jika Anda mencintai apa yang Anda lakukan, jika Anda mencintai tugas-tugas dan kewajiban, Anda tidak perlu bekerja pada siapapun sepanjang hidup Anda. Orang-orang bahagia tidak menunggu dan berhitung apa yang akan terjadi, mereka hanya berfokus memberikan penghargaan pada dirinya (self-esteem) dengan memuliakan orang lain sebagai manusia. Maka, sangat jauh dari keliru jika Kiai selalu mengingatkan para santri bahwa “dia yang melayani orang lain dengan kebaikan, telah melayani dirinya sendiri.”

Lantas, “mengapa saya dihargai dengan sangat murah?” gumam Anda dalam hati. Tentu saja, karena Anda menetapakan standar dan harga yang murah untuk diri Anda sendiri. Soal dipecat dari pekerjaan? Bekerjalah untuk diri sendiri, dan tidak ada lagi yang akan memberhentikan dan apalagi memecat Anda! Soal ditinggal kekasih? Di mayapada ini mana ada yang abadi, bukankah untuk setiap “Selamat Datang” akan segera disusul oleh ”Selamat Tinggal”? apa lagi yang Anda cemaskan? Tapi, kadang tangisan ini tak terbendung? Bolehlah sesekali cengeng dan baper, namun demikian, orang yang pantas Anda tangisi tidak akan membuat Anda menangis, maka apapun dan siapapun yang membuat Anda menangis tidak pantas untuk ditangisi! Kabar baiknya, Anda boleh menjadikan prinsip ini sebagai Resolusi Tahun Baru.

Intinya, jika saat ini Anda bahagia dengan memiliki sesuatu, seharusnya Anda merasa jauh lebih bahagia ketika nanti tidak memilikinya sama sekali. Pertanyaan lugunya, apakah yang Anda miliki sungguh-sungguh milik Anda? Bukankah manusia ini hanya juru parkir dari Dia yang menitipkan segala hal di dalam dan di luar diri? Mengapa pula harus merasa kehilangan terhadap apa yang tidak pernah Anda miliki? Ini filsafat hidup dalam aforisma Al-Hikam karya Ibnu Athaillah as-Sakandari (w. 1309 M), salah satu kitab wajib di Pesantren. Sikap mental inilah yang senantiasa ditanamkan di Pesantren. Dari keseharian santri, nasib Indonesia kini dan nanti sangat dipertaruhkan.

Akhirul Kalam, keharuman selalu ada pada tangan yang memberi mawar, sementara durinya hanya akan dimiliki oleh para pembenci. Bergembiralah karena memiliki musuh dan pembenci, sebab diam-diam mereka adalah penggemar Anda yang sangat militan dan rela menghabiskan seluruh enerjinya untuk mencari-cari kesalahan Anda. Semantara itu Anda terus bergerak maju dengan cita-cita. Di antara keriuhan para pembenci, Anda bisa melenggang pergi menggamit mimpi-mimpi.

Jangan lupa ngopi!

Ach Dhofir Zuhry
Alumni PP Nurul Jadid Paiton, Penulis Buku Peradaban Sarung, Kondom Gergaji dan Mari Menjadi Gila, Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Penasehat Dunia Santri Community dan pengampu kajian Tafsir Tematik NUonline tiap ahad sore 16.30 WIB

    Tradisi Diba’an dan Toleransi Budaya

    Previous article

    Tahun yang Baru dan Kumpulan Harapan

    Next article

    You may also like

    Comments

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah