Pendidikan adalah sebuah upaya memanusiakan manusia, kalimat demikian sudah menjadi rahasia umum bagi kalangan akademis apalagi mereka yang konsen meneliti dan bergelut dalam diskursus pendidikan. Dialog tentang pendidikan selalu relevan sepanjang masa, mengapa sebabnya? Tak lain dan tak bukan adalah karena dalam setiap zaman, tantangan kehidupan sosial memaksa pendidikan mesti mencari celah terbaiknya guna menjawab tantangan zaman tersbut, tak terkecuali pada era kini.

Namun menghadapi dinamika demikian, secara teoritis tentu kita tak perlu khawatir sebab tiap tahunnya mereka yang melek serta peduli bahkan konsen membahas serta mencari bentuk ideal tentang konsep pendidikan akan selalu bertambah. Hal ini tentu selaras dengan semakin meningkatnya kesadaran masyarakat akan pendidikan. Kendati pun demikian, kita tetap perlu merefleksikan dalam keseharian terkait sudahkah lahirnya cerdik panda-cerdik pandai ini turut member sumbangsih bagi kekayaan dunia pendidikan di Indonesia.

Beranjak dari hal tersebut, maraknya kekerasan dan segala bentuk kriminalisasi turut memberikan pukulan bagi semua pihak, tentunya. Dan yang kadang kala menjadi hal miris ialah kekerasan terjadi di sekolah atau lembaga pendidikan yang lainnya, yang semestinya mereka-mereka adalah cerminan prilaku terdidik yang jauh dari kekerasan dan tindak kriminal.

Ambil contoh, tertanggal 11 Desember 2019 tepatnya di wilayah Lampung (tempat saya tinggal) di sekolah SMAN 9 Bandar Lampung terjadi tindak penyaniayaan yang dilakukan oleh seorang siswa kepada temannya sendiri.

Seorang siswa SMAN 9 Bandar Lampung berinisial MF melakukan penganiyaan kepada temannya berinisial AY. Peristiwa tersebut terjadi saat kegiatan studi tour di Yogyakarta, 11 Desember 2019 lalu

Akibat peristiwa itu korban mengalami memar di bagian mata kanan. Kartika, orang tua korban menjelaskan anaknya mengalami pecah pembuluh darah di bagian mata. “Setelah pulang, saya bawa ke rumah sakit Imannuel, kemudia di rujuk ke dokter spesialis, ternyata ada pembuluh darah yang pecah di bola matanya,” ujarnya, Rabu 22 Januari 2020. (Dikutip dari akun Instagram @Lampost.co)

Pertama kali membaca berita tersebut, saya sungguh merasa tercengang. Mengapa dalam dunia pendidikan yang mestinya menjadi wilayah suci pada gilirannya malah hal-hal serupa masih saja lestari.

Padahal secara sederhana mestinya kita harus menghargai siapapun dan tidak etis tentunya untuk berbuat aniaya yang tidak mencerminkan kaum terdidik sama sekali. Secara radikal saya ingin mengatakan bahwa atas dasar tanpa agama sekalipun, misal, kita tetap dituntut untuk berlaku etis terhadap semua dan berbuat baik tanpa melukai atas dasar pemahaman paling universal, yakni kemanusiaa. Satu paham yang mesti disadari secara khusyu’ dan cermat bagi setiap orang tentunya.

Lebih dalam dan jauh ke wilayah yang intim, melihat fenomena demikian tentu membuat kita perlu merefleksikan dengan suasana tenang dan damai, sudah tepatkah proses pendidkan yang kita jalankan selama ini? Atau mungkin pertanyaanya perlu kita imbuhi, sudahkah pendidikan kita menyentuh ranah paling sakral dalam perjalanan hidup umat manusia, yaitu kemanusiaan itu sendiri?

Segenap proses pendidikan haruslah ditujukan untuk pengembangan keseluruhan potensi manusia demi mencapai kehidupan sejahtera, baik secara fisik, mental, dan spiritual.Bagir(2019:27) mencapai titik terbaik (insane kamil) adalah satu tugas terbaik pendidikan. Selain daripada itu, wujud bahwa pendidikan mampu mengimplementasikan nilai-nilai kemanusiaan ialah secara sederhana tergambar dengan tidak terganggunya orang lain dari apa yang kita miliki berupa lisan, tangan, dan tingkah laku.

Maka jelas di sini, pendidikan kita perlu menyentuh ranah terdalam dalam  diskursus umat manusia yaitu kemanusiaan itu sendiri. Pendidikan perlu menerapkan nilai-nilai kemanusiaan semisal saling menghargai dan menyayangi sesama manusia dan tentu saja tidak mengabsahkan tindak kekerasan atas dasar apapun.

Terakhir selaku manusia budiman, meskipun kasus-kasus serupa di atas (mungkin) akan terus ada, namun dakwah tentang pendidikan humanisme yang menghargai harkat dan martabat manusia perlu terus kita perjuangkan setiap hari dengan cara-cara kreatif dan selalu terbarukan tanpa menghilangkan substansi humanisme itu sendiri.

Wallahu A’lam Bishawab

 

Teni Maarif
Mahasiswa UIN Raden Intan jurusan Pendidikan Agama Islam semester 7 sekaligus Mu’allim (Pengurus Ma’had Al-Jami’ah UIN Raden Intan)

Jilbab, Hijab dan Kesalehan (4)

Previous article

Mbah Ibrohim Brumbung Mursyid Thoriqoh, Santrinya Mbah Karim Banten

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar

More in Hikmah