(Ilustrasi: Detik.com)

Mengapa dalam hidup ini banyak cobaan? Ya, kalau sedikit namanya cobain. Kenapa banyak jual-beli kepentingan dan isu agama di kancah politik? Karena itu jangan ke sana. Mengapa pula dalam munajat masih sempat kita layangkan doa-doa buruk kepada sesama kita? Berarti memang jahat sejak dalam pikiran.

Salah satu andalan kaum umat beragama adalah doa. Ya, doa adalah senjata orang-orang beriman. Bahkan, ia adalah saripati segala bentuk ibadah. Dengan doa itu pula manusia bisa “mengawal” kerjanya untuk menggapai sukses dan pencapaian-pencapaian monumental. Meskipun, sekian ironi menyeruak belakangan ini, yakni maraknya politisasi doa di Monas. Membawa dan mengajak Tuhan untuk memusuhi lawan politiknya. Mengancam Tuhan tidak akan disembah, dan sebagainya.

Di sisi lain, mobilisasi doa kerap dilakukan kaum sarungan dalam bentuk istighotsah rutin guna dimudahkan segala urusan mereka dalam belajar dan membangun diri, bahkan demi kedamaian NKRI. Karuan saja, tak satupun hal-hal baik dalam hidup ini yang tak dimulai dengan doa. Dalam teramat banyak hal, tak bisa kita selesaikan urusan hidup ini sendirian.

Memang, doa juga merupakan upaya manusia untuk merundingkan nasibnya dengan sang Mawla, sehingga Dia yang Maha mengijabah segala doa itu akan terus membuktikan tanggung jawab ketuhananNya senyampang manusia menjalankan kemanusiaannya dengan terus bergantung dan bersandar semata kepadaNya.

Oleh karena kita tidak tahu dari lisan yang mana doa akan terkabul, tugas kita hanya memperbanyak doa dan minta didoakan kepada sebanyak mungkin manusia, terutama kepada orang tua dan guru, bahkan kepada siapapun yang berbeda dari kita.

Kabar baiknya, ijabah Tuhan telah mendahului seluruh doa manusia. Bahkan, oleh karena Dia Maha Mangabulkan segala doa, dijadikanNya kita senantiasa bermohon kepadaNya. Dan, hanya ada satu bukti bahwa doa kita terkabul: tindakan!

Namun demikian, siapkah kita jika doa dikabulkan oleh Tuhan dengan sangat segera dan atau diijabah dalam bentuk yang tidak kita suka? Well, untuk memperoleh, Anda harus melepas, untuk menerima Anda harus memberi, semakin banyak Anda memberi, kian banyak pula Anda mendapatkan, seperti petani yang memberikan bibitnya ke tanah, pada saatnya nanti ia akan panen dari tanah.

Alhasil, kerjakan doamu, doakan kerjamu. Ini rumus sukses!

Ach Dhofir Zuhry
Alumni PP Nurul Jadid Paiton, Penulis Buku Peradaban Sarung, Kondom Gergaji dan Mari Menjadi Gila, Pengasuh Pesantren Luhur Baitul Hikmah Penasehat Dunia Santri Community dan pengampu kajian Tafsir Tematik NUonline tiap ahad sore 16.30 WIB

    Hadits Palsu di Masa Khilafah

    Previous article

    Jilbab, Hijab dan Kesalehan (1)

    Next article

    You may also like

    Comments

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah