(Ilustrasi: mediasi.me)

“Birrul Walidain merupakan sesuatu yang sangat berharga dan sangat membahagiakan dalam hidupku”

Birrul Walidain adalah sangat penting dalam kehidupan manusia, terutama merupakan hal sangat esensial dalam akhlak mulia atau budi pekerti. Karena Birrul Walidain itu menunjukkan sikap dan perilaku loyalitas atau ketaatan terhadap kedua orangtua setelah ketaatan kepada Allah swt. Perilaku patuh dan taat kepada kedua orangtua adalah wajib ain, sekalipun orangtua berbeda agama. Begitu tingginya kedudukan birrul walidain.

Secara etimologis, birrul walidain dapat diartikan sebagai tindakan atau perbuatan baik kepada orang tua dengan cara membahagiakannya, menuruti perintahnya, melaksanakan hal-hal yang disarankan, diinginkannya dan diperintahkannya selama tidak bertentangan dengan agama. Demikian juga tidak ada perilaku menghardik, berdusta, menyiksa, melupakan, mengusir, menyiksa, menelantarkan, berbohong, berkhianat, membikin malu, melukai, menyusahkan, dan bahkan membunuh. Pendek kata seorang anak yang birrul walidaiin sudah seharusnya mampu menunjukkan loyalitasnya secara total kepada kedua orangtuanya.

Memurut Badrul Tamam (2014) bahwa Birrul walidain menjadi kewajiban kita karena setidak-tidaknya didasarkan dalil naqli sebagai berikut:

Pertama, memuliakan orang tua dan berbuat baik kepada keduanya bentuk ketaatan kepada Allah dan rasul-Nya saw. Allah swt berfirman, dalam QS. Al-Ahqaf: 15, yang artinya “Kami perintahkan kepada manusia supaya berbuat baik kepada dua orang ibu bapaknya, ibunya mengandungnya dengan susah payah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula). Mengandungnya sampai menyapihnya adalah tiga puluh bulan. Dari Ibnu Mas’ud ra ia pernah bertanya kepada Nabi saw “Amal apa yang paling dicintai Allah Ta’ala” beliau menjawab, “Shalat tepat pada waktunya.” Lalu bertanya agi, “Lalu apa?” beliau menjawab, “Birrul walidain (berbuat baik ke orang tua).” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)

Kedua, Memuliakan kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya menjadi sebab masuk surga. Dari Abu Hurairah ra dari Nabi saw beliau bersabda, yang artinya, “Celaka, celaka, celaka. Ditanyakan kepada beliau: siapa itu wahai Rasulullah? Beliau menjawab: siapa yang mendapati kedua orang tuanya berusia tua, salah seorang atau kedua-duanya lalu ia tidak masuk surga.” (HR. Muslim dan lainnya)

Ketiga, memuliakan kedua orang tua dan berbuat baik kepada keduanya sebab mendapat ridho dan cinta keduanya. Dari Ibnu Umar ra, Nabi saw bersabda, yang artinya “Keridhoan Allah tergantung kepada keridhoan orang tua dan kemurkaan Allah tergantung kepada kemurkaan orang tua.” (HR. Tirmidzi)

Keempat, melalui sebab orang tua kita hadir di dunia. Jasa keduanya dalam melahirkan, merawat, menjaga, dan membesarkan kita tak terkira nilainya. Maka sangat pantas kalau kita memuliakan kedua orang tua kita, berbuat baik kepada keduanya, berterima kasih kepada keduanya. Secara khusus, Allah perintahkan untuk bersyukur (berterima kasih dan membalas budi) kepada keduanya, setelah perintah bersyukur kepada-Nya dalam QS Lukman:14, yang artinya “Dan Kami perintahkan kepada manusia (berbuat baik) kepada dua orang ibu-bapaknya; ibunya telah mengandungnya dalam keadaan lemah yang bertambah-tambah, dan menyapihnya dalam dua tahun. Bersyukurlah kepada-Ku dan kepada dua orang ibu bapakmu, hanya kepada-Kulah kembalimu.”

Kelima, birrul walidain menjadi sebab seseorang akan disayang anak-anaknya dan mendapat bakti mereka. Karena, balasan bagi seseorang sesuai dengan jenis amalnya. Siapa yang berbakti ke orang tua, maka anak-anaknya kelak akan berbakti kepadanya sebagai balasan atas baktinya tersebut. Allah swt berfirman, QS. Al-Rahman: 60, yang artinya Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula).”

Nabi Saw bersabda,

Berbuat baiklah ke orang tua–orang tua kalian, niscaya anak-anakmu akan berbuat baik kepadamu.” (HR. Al-Thabrani, Al-Hakim, dan Abul Qasim).

Selain dari 5 alasan itu ada lagi pentingnya birrul walidain itu bisa mendapatkan ampunan atas kesalahannya dari Allah swt, sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam QS.Al Ahqaf:16), yang artinya “Mereka itulah orang-orang yang kami terima dari mereka amal yang baik yang telah mereka kerjakan dan kami ampuni kesalahan-kesalahan mereka, bersama penghuni-penghuni surga. Sebagia janji yang benar yang telah dijanjikan kepada mereka.”

Kewajiban birrul walidaiin tidak boleh kita pandang sebagai yang membebani, namun kita harus bisa terima dengan ikhlas. Bahkan seharusnya menjadi kebutuhan kita. Kendatipun banyak kenaikan dan manfaat yang dapat diperoleh dari birrul walidaiin, kita tidak boleh mengabaikan. Karena ada ancaman terhadap siapapun yang mengabaikan birrul walidain.

Pertama, Nabi saw bersabda: “Barangsiapa yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup atau salah satunya, lalu setelah itu ternyata ia masuk neraka, maka Allah akan masukan ia lebih dalam lagi ke dalam neraka” (HR Imam Ahmad).

Kedua, Nabi Saw bersabda “Kehinaan, kehinaan, kehinaan“. Para sahabat bertanya: “siapa wahai Rasulullah?”. Nabi menjawab: “Orang yang mendapati kedua orang tuanya masih hidup ketika mereka sudah tua, baik salah satuya atau keduanya, namun orang tadi tidak masuk surga” (HR. Muslim).

Birrul walidaiin adalah sesuatu yang istimewa dalam kehidupan manusia, terlebih-terlebih ummat Islam. Di satu sisi birrul walidain sebagai kewajiban, di sisi lain mengabaikan birrul walidaiin dapat ancaman yang berat dari Allah swt. Di era kini yang sarat dengan materialisme, kapitalisme, dan pragmatisme, bahkan hedonisme, diperkuat dengan demokrasi yang kebablasan, hubungan antara anak dan orangtua cenderung menjadi hambar dan jauh dari nilai-nilai akhlaq terpuji, kendatipun terus digalakkan pendidikan karakter. Anak berlaku kasar, kurang santunnya, berani membentak, dan sebagainya.

Tatakrama menjadi sesuatu yang mahal. Betapapun kemajuan iptek yang diwarnai dengan dunia digital harus bisa dimanfaatkan untuk menjaga hubungan anak dan orangtua tetap baik, perlindungan dan penghormatan dengan loyalitas yang tinggi. Sebaliknya ipteks tidak boleh merusak perilaku birrul walidain, sehingga merusak tatanan kehidupan. Ingat kebahagiaan dunia bukanlah segala-galanya, melainkan kebahagiaan dunia dan akhirat.

Prof Rochmat Wahab
Guru Besar Ilmu Pendidikan Anak Berbakat Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Yogyakarta, Ia Pernah Menjabat Rektor UNY periode 2009-2017

    Politisasi Aqidah: Membedah Mihnah dan al-I’tiqad al-Qadiri

    Previous article

    Patriotisme Ulama Nusantara

    Next article

    You may also like

    Comments

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah