@Fihril Kamal

Dunia sudah bergerak ke arah dunia baru, Internet of Think, Big Data, menjadi tren saat ini, tumbuhnya kelas menengah mempengaruhi daya beli masyarakat, naiknya kaum urban (perkotaan) mengakibatkan pola pikir yang baru dan perilaku baru.

Badan Pusat Statistik (BPS) dalam Proyeksi Penduduk Indonesia 2010-2035 jumlah penduduk kota menyalip desa, tahun 2015 jumlah penduduk kota sudah mencapai 54% (129,6 juta dari 240 juta penduduk Indonesia) padahal jika melihat tahun 2010 penduduk kota masih 49,8 % dari 237,6 juta penduduk Indonesia. dan tahun 2020 pertumbuhan penduduk perkotaan mencapai 55%.

Fenomena di atas mengakibatkan life style dan perilaku kaum urban, mereka mayoritas bekerja di perkantoran dan pabrik, rutinitas pekerjaan membuat mereka stress, deadline yang selalu membayangi membuat masyarakat urban, masyarakat perkotaan membutuhkan siraman-siraman agama yang menyejukkan, mereka sudah capek dengan rutinitas dan butuh refresh, tasawwuf hadir untuk menjawab kebutuhan masyarakat muslim perkotaan.

Berbicara tentang metode dakwah, dakwah sufisme sangat tepat jika menggunakan basis digital, karena Indonesia merupakan negara ketiga terbesar di dunia setelah China dan India dalam menggunakan internet, mayoritas masyarakat Indonesia memanfaatkan internet untuk sosial media, dan mayoritas memanfaatkan handphone (APJII 2020). Tren sosial media selalu dinamis, mulai dari twitter lalu bergeser ke facebook, bergeser ke instagram dan you tube. dan masyarakat Indonesia 80% memanfaatkan sosial media tersebut.

Tren masyarakat kota yang sibuk dengan pekerjaan dan selalu dikejar deadline membuat masyarakat kota yang religius haus akan ilmu agama, dia sambil bekerja tetap membutuhkan asupan-asupan ilmu agama, Podcast/spotify merupakan tren sosial media yang baru yang sesuai dengan karakter masyarakat urban karena menyajikan segala audio sebagai asupan informasi untuk masyarakat urban yang sibuk dengan pekerjaan mereka.

Salah satu channel di podcast/sportify yang menyajikan ilmu-ilmu agama adalah channel “Kajian Aswaja” yang diisi oleh para kiai, nyai, gus dan ning, ada juga channel “Pengajian Gus Baha” yang berisi tentang pengajian-pengajian gus baha baik di dalam pesantren maupun di luar pesantren, ada channel “Ngaos Abah” channel yang merangkum pengajian-pengajian KH. Marzuki Mustamar (Ketua PWNU Jawa Timur), dll.

konten podcast/spotify dakwah-dakwah Islam moderat masih tergolong sedikit, masih didominasi oleh konten dakwah Islam non-moderat, yang kurang sejuk dan tidak mengajak kedamaian.

Saatnya para santri ikut meramaikan konten-konten digital dengan dakwah-dakwah keagamaan yang otoritatif santun dan menyejukkan.

kalau para kiai mempunyai amalan untuk istikamah dalam mengaji kitab turos maka santri juga perlu mempunyai amalan berdakwah untuk milenial berbasis digital yang santun dan menyejukkan. Wallahua’lam

 

 

 

 

Abdulloh Hamid
Co-Founder Pesantren.id, founder Dunia Santri Community, dosen UIN Sunan Ampel Surabaya, aktif di pengurus pusat asosiasi pesantren NU (RMI PBNU)

Siapakah Santri?

Previous article

Mendidik Milenial di Era Digital

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar

More in Hikmah