(Ilustrasi: mormonsud.net)

Manusia secara alamiah adalah makhluk yang dari muasalnya tak bisa hidup sendiri, sebagaimana Adam sebagai penghulu dari umat manusia dulu ketika di surga pun tak kuasa menahan gundah gulana serta risau yang menimpa hatinya begitu berkalut, kendati pun hidupnya di surga penuh dengan kenikmatan namun nahas dirinya harus menanggung beban kesendirian.

Semuanya yang ada di surga pasti serba nikmat, namun apalah arti segalanya kalau hati selalu gelisah dalam kesepian. Itulah gelora yang dirasakan Adam dalam surga (Saputra, 2017). Kendati dalam keadaan demikian adam tak kunjung siap mental untuk menghadap Tuhan guna mengutarakan gundah gulana yang berkecamuk di dasar hatinya.

Namun pun demikian atas berkat kuasa Tuhan yang Maha Mengetahui relung hati terdalam dari hambanya, Tuhan pun menghadirkan (menciptakan) Hawa sebagai pelengkap (pasangan) bagi Adam yang saat itu keduanya menikah dengan disaksian oleh para malaikat dan menjadi maharnya adalah shalawat sepuluh kali atas (nur) Muhammad SAW.

Kisah tersebut tentu amat jarang diketahui oleh banhyak kalangan, bahkan kadang santri atau akademis pun jarang.

Berangkat dari kisah keduanya, penulis bukan akan membahas soal asmara Adam dan Hawa, namun bagaimana manusia seperti Adam yang sudah jelas di surga pun tak kuasa menanggung kesepian lantaran hidup sendirian. Maka apalagi anak cucu Adam yang sudah terlanjur terlempar ke dalam dunia bernama bumi, tentunya manusia tak bisa dan rasanya amat mustahil untuk bisa hidup sendiri. Oleh sebab itu konsekuensinya adalah manusia harus menjalin Hablum Min Al-Nas atau hubungan dengan sesama manusia dalam arti manusia hari memiliki jiwa sosial.

Hal tersebut yang perlu kita renungkan saat ini, apalagi kepada kita yang mungkin berkesempatan atau malah mengalami kecelakaan sejarah untuk hidup di masyarakat kota yang syarat dengan budaya lo elo gua gua atau Ananiah (ke-aku-an) yang sering disebut egois.

Apalagi kasus tersebut diperparah dengan maraknya media, yang justru dalam hemat penulis malah menjadikan manusia cenderung bersifat asosial. Kita tak lagi mengenal siapa tetangga, siapa belakang samping kanan kiri rumah, atau saat berjamu makan bersama pun mereka tak melihat siapa dan apa yang ada di depan matanya, dan yang lebih parah mereka tak mengenal diri kita sendiri sebab terlaku fokuus dan asyik untuk melihat smartphone yang mungkin terlalu khusyu’ menyelami dan berselancar di dunia maya

Selaku manusia yang memiliki kesadaran sosial, penting bagi kita untuk melawan tingkah laku demikiam, minimal dari diri sendiri agar tak bersifat asosial baik terhadap lingkungan tempat kita tinggal atau lingkungan tempat kita makan dan nongkrong bersama teman, missal.

The last but not least

Kemajuan zaman dan peradaban adalah satu keniscayaan logis, namun bila hal tersebut membuat kita lupa dengan lingkungan dan kerabat terdekat sampai yang paling fatal kita berlaku egois, sungguh kita tidak saja kehilangan naluri alamiah kita selaku makhluk sosial, namun lebih jauh dari itu kita t’lah kehilangan marwah kita sebagai manusia. Peristiwa Adam dan Hawa adalah simbol bahwa manusia yang mustahil mampu hidup di atas kakinya sendiri. Wallahu A’lam Bishawab

Tabik, salam

Teni Maarif
Mahasiswa UIN Raden Intan jurusan Pendidikan Agama Islam semester 7 sekaligus Mu’allim (Pengurus Ma’had Al-Jami’ah UIN Raden Intan)

Desember Bulan Gus Dur, Doktor Humoris Causa

Previous article

HAM dalam Pancasila

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar

More in Hikmah