Muktamar NU adalah sebuah hajat terbesar organisasi berlambang bola dunia. setiap daerah memiliki ghiroh yang sangat besar untuk menjadi tuan rumah even terbesar NU tersebut, mereka berebut untuk menjadi pelayan (khodim) para Masyayikh. hal ini dilakukan hanya demi ingin mendapatkan keberkahan dari acara tersebut. sebab dalam momen lima tahunan tersebut seluruh Ulama, Kyai, Masyayikh para Guru Pondok Pesantren rawuh di acara tersebut.

Tidak bisa dipungkiri Nahdlatul Ulama Adalah sebuah organisasi yang memang lahir dari Pesantren sebagai wadah aspirasi para ulama dan santri untuk menjaga kemurnian nilai-nilai agama Islam sepanjang zaman.
Sering orang menyebut NU adalah pesantren besar, sementara pesantren ialah NU kecil. Dikatakan demikian karena kebangkitan NU tidak bisa lepas dari peran para kiai berlatar belakang pesantren
Jika kita melihat sejarah, dahulu Rais Akbar NU, KHM. Hasyim Asy’ari mencetuskan fatwa resolusi jihad. Itulah yang menjadi pemicu perjuangan kiai dan santri pesantren untuk mempertahankan kemerdekaan dari penjajah yang mencoba masuk kembali ke Indonesia.

Dengan demikian NU tidak bisa dilepaskan dengan Pondok Pesantren, karena secara historis pesantrenlah yang paling besar kontribusinya di dalam membesarkan NU.

Maka sangat wajar hampir seluruh kegiatan NU bertempat dan berpusat di Pondok Pesantren, mulai rapat harian, konfrensi tingkat wakil cabang / MWC NU, Musyawarah kerja, pemilihan ketua Tanfidziyah dan Rois suriah mulai dari tingkat ranting sampai dengan pemilihan ketua umum dan Rois Am PBNU yang lebih dikenal dengan Muktamar NU.

Pesantren manapun akan sangat bangga dan senang sekali ketika pesantren tersebut dijadikan tempat untuk hajat NU baik untuk konfrensi, rapat-rapat apalagi sebagai tuan rumah Muktamar yang notebenenya Muktamar adalah hajat terbesar NU.

Mereka berpandangan sangat sederhana sekali, bukan keuntungan materi ataupun keuntungan finansial lain yang ia harapkan, akan tetapi keberkahan dan kesempatan keterlibatan para santri untuk berkhidmah kepada Masyayikh, memang pesantren mengajarkan bagaimana para santri memiliki sifat wajib untuk melayani para Masyayikh. Disamping itu pesantren dengan kesederhanaannya adalah tempat keluh kesah, tempat mengadu, tempat untuk mencari ketentraman diri dan rumah kedua bagi banyak masyarakat terutama warga Nahdliyyin-Nahdliyat.

Pesantren mengajak seluruh santrinya untuk memperjuangkan NU dengan tanpa pamrih, sering para Kyai berpesan hidupkanlah NU tapi jangan hidup dari NU.

Sebentar lagi Muktamar NU ke-34 akan segera dilaksanakan, berdasarkan Surat Keputusan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Nomor 420/AII/04 D/10/2019 mengenai tempat penyeleggaraan Muktamar Nahdlatul Ulama ke-34. Provinsi Lampung ditunjuk untuk menerima amanah sebagai tuan rumah Muktamar ke-34 tersebut. Tentu keputusan itu disambut dengan riang gembira oleh warga Nahdliyyin se-Provinsi Lampung lebih-lebih Pondok Pesantren yang ada di pulau Sumatra tersebut.

Provinsi Lampung ditunjuk sebagai tuan rumah Muktamar NU ke-34 karena provinsi Lampung dianggap telah memenuhi lima kriteria yang telah ditetapkan PBNU yaitu Pertama, aspek historikal. kedua adalah performa organisasi, ketiga, perkembangan sosial kultural dan aspek-aspek politik lokal, keempat adalah kemampuan sharing (berbagi) tanggung jawab, kelima adalah infrastruktur.

Tidak sedikit Pondok Pesantren di Lampung dengan gagah gempita merasa percaya diri untuk ditunjuk sebagai tuan rumah even tersebut, banyak sekali Pondok Pesantren yang siap untuk menerima amanah tersebut karena di Lampung tidak hanya puluhan tapi ratusan Pondok Pesantren yang terbiasa mengadakan even besar, sebab di Lampung setiap tahun hampir di setiap Pondok Pesantren mengadakan pengajian akbar dalam rangka haul Syekh Abdul Qodir Al-Jilani maupun acara-acara lain yang pengunjungnya bisa mencapai ratusan ribu jamaah.

Maka dengan harapan besar, seluruh kegiatan Muktamar ke-34 di Lampung bisa digelar di Pondok Pesantren. karena seluruh santri, Nahdliyyin-Nahdliyat, ibu-ibu Muslimat, sahabat-sahabat Fatayat tanpa sungkan dan rasa canggung akan all out berbondong-bondong ikut memeriahkan dan mensukseskan acara akbar tersebut, bukan kemewahan yang mereka cari tapi kebersamaan yang penuh kekeluargaanlah yang dicari, Pesantren adalah rumah kedua bagi mereka. Akan sangat kecewa apabila Pesantren yang notabenenya pusat kegiatan NU tidak lagi diberi amanah untuk berkhidmah kepada para Masyayikh dan lebih memilih tempat dadakan yang jauh dari kegiatan NU. Wallohu A’lam

Tertanda: Gowais Lampung

Redaksi
Redaksi PesantrenID

Hijab, Jilbab dan Khimar

Previous article

Membaca Kembali Ajengan Cipasung KH Moh Ilyas Ruhiat

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar

More in Santri Kita