Puasa Plastik, Alternatif Mencintai Lingkungan Sekitar

Bumi yang kita tinggali ini, tempat kita hidup, berkembang biak, makan, minum, bernafas, beribadah, bekerja dan melakukan segala hal di dalamnya, adalah satu-satunya tempat hidup di dunia yang kita punya, tak ada yang lainnya, tak ada penggantinya. Jadi, sudah sepatutnyalah kita menjaganya, merawatnya dengan sepenuh hati dan sepenuh jiwa. Kalau bumi kita rusak, kalau bumi kita sakit, mau pindah ke mana kita? Memangnya ada yang mau menampung kita, makhluk yang bernama manusia yang seringkali serakah dan banyak maunya ini.

Tanggal 5 Juni merupakan Hari Lingkungan Hidup Sedunia (World Environment Day) yang awal mulanya dicetuskan pada Konferensi Stockholm yang diadakan pada tanggal 5-12 Juni 1972 dikarenakan keadaan lingkungan pada saat itu yang memprihatinkan, sehingga perlu dilakukan langkah-langkah konkrit untuk menjaga lingkungan kita, bumi kita satu-satunya ini. Manusia hidup di bumi berdampingan dengan makhluk hidup lainnya dan juga lingkungan sekitarnya. Perilaku dan tindakan kita, seringkali tanpa sadar membuat bumi kita tersiksa dan menderita. Pada dasarnya bumi kita ini merupakan tempat yang sangat cukup untuk memenuhi segala kebutuhan dasar hidup semua manusia, namun sebagaimana perkataan Mahatma Gandhi “Bumi ini cukup untuk memenuhi kebutuhan kita semua, namun tidak cukup untuk memenuhi keinginan segelintir kecil manusia yang serakah”. Keserekahan manusialah yang sejatinya menimbulkan kerusakan di bumi, dan tidak hanya segelintir manusia saja yang serakah, namun bergelintir-gelintir tentunya. Kesadaran akan pentingnya menjaga lingkungan sudah sepatutnya kita lakukan, diperlukan aksi nyata, bukan hanya koar-koar peduli isu lingkungan di medsos saja, mari kita mulai dari diri kita masing-masing.

Perintah untuk menjaga lingkungan sekitar dan merawat bumi kita tercinta ini telah termaktub dalam Q.S. Al-A’rof: 56 yang berbunyi:

وَلَا تُفْسِدُوا فِي الْأَرْضِ بَعْدَ إِصْلَاحِهَا وَادْعُوهُ خَوْفًا وَطَمَعًا ۚ إِنَّ رَحْمَتَ اللَّهِ قَرِيبٌ مِنَ الْمُحْسِنِينَ

Artinya: “Dan janganlah kamu membuat kerusakan di muka bumi, sesudah (Allah) memperbaikinya dan berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut (tidak akan diterima) dan harapan (akan dikabulkan). Sesungguhnya rahmat Allah amat dekat kepada orang-orang yang berbuat baik”.

Manusia diperintahkan untuk tidak membuat kerusakan di muka bumi, bumi yang ada ini merupakan rahmat Allah yang harus kita jaga dan rawat dengan sebaik-baiknya. Menjaga lingkungan dan alam sekitar merupakan salah satu perbuatan dan perilaku baik yang dapat kita lakukan dalam rangka ikut andil dalam pelestarian lingkungan.

Berbicara mengenai lingkungan, tidak bisa lepas dari pembicaraan mengenai sampah. Volume sampah di Indonesia pada tahun 2020 menurut Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) mencapai 67,8 juta ton, dari angka tersebut sekitar 14% di antaranya adalah sampah plastik. Negara kita tercinta ini, Indonesia, menempati urutan kedua tertinggi di dunia sebagai negara penghasil sampah plastik ke laut (KLHK, 2016). Sekitar 9,8 miliar lembar kantong plastik digunakan oleh masyarakat Indonesia setiap tahunnya, sekitar 95% kantong plastik tersebut hanya menjadi sampah, sedangkan plastik sulit diurai oleh lingkungan, butuh waktu yang sangat panjang agar plastik bisa terurai secara alami di lingkungan.

Sampah plastik yang ada di lingkungan ini tidak hanya tertimbun menjadi tumpukan sampah saja, namun plastik-plastik tersebut akan berubah menjadi mikroplastik (plastik dengan ukuran yang sangat kecil, skala mikro) yang bisa meresap di tanah dan juga perairan. Material mikroplastik yang ada di lingkungan ini merupakan material yang berbahaya bagi makhluk hidup lainnya, sehingga bisa merusak ekosistem terutama perairan. Ikan-ikan, terumbu karang, dan ekosistem laut lainnya akan sangat terganggu dengan adanya mikroplastik ini, apalagi dalam jumlah yang cukup besar.

Tercemarnya lingkungan perairan akan menimbulkan dampak negatif terhadap banyak sekali sisi kehidupan manusia, karena manusia tidak bisa terlepas dari lingkungan sekitarnya. Sehingga, meminimalisir penggunaan plastik atau puasa plastik, terutama plastik sekali pakai (single-use plastic) merupakan langkah bijak yang dapat dilakukan untuk menjaga kelestarian lingkungan. Plastik sekali pakai (single-use plastic) yang banyak menimbulkan sampah plastik di antaranya adalah kantong kresek, sedotan plastik dan styrofoam. Beberapa cara yang bisa kita lakukan dalam upaya puasa plastik ini antara lain:

  1. Membawa dan menggunakan kantong belanja sendiri saat berbelanja
  2. Membawa dan menggunakan sedotan sendiri yang berbahan logam atau bambu saat membeli produk minuman
  3. Menggunakan wadah makanan berupa besek atau daun untuk membungkus makanan
  4. Membawa wadah makanan sendiri saat membeli makanan untuk dibungkus
  5. Membawa botol minum sendiri saat berpergian agar meminimalisir penggunaan air minum kemasan

Dan masih banyak lagi langkah-langkah bijak yang dapat kita lakukan untuk puasa plastik ini. Kita mungkin tidak bisa seratus persen tidak menggunakan plastik sama sekali, namun perlahan-lahan kita bisa mengurangi penggunaanya. Langkah kecil yang kita lakukan mulai dari sekarang dan dari diri kita sendiri akan memberikan dampak yang sangat besar terhadap kelangsungan hidup manusia dan alam sekitar kita ke depannya. Semoga niat baik kita untuk menjaga dan mencintai lingkungan sekitar dengan cara puasa plastik ini menjadi catatan amal baik di mata Allah Swt. Terimakasih. Wallahu a’lam bish shawab.

Selamat menjalankan ibadah puasa plastik. [HW]

Luluatul Hamidatu Ulya
Dosen UIN Maulana Malik Ibrahim Malang. Santri PP. Nurul Ulum Malang dan PP. Sunan Pandanaran Yogyakarta.

Rekomendasi

1 Comment

  1. […] berharap dapat menumbuhkan rasa kepedulian santri terhadap lingkungannya dan mengurangi sampah plastik yang bisa menyebabkan  lingkungan menjadi kotor dan rusak, Padahal Nabi Muhammad Saw bersabda […]

Tinggalkan Komentar

More in Opini