Pesantren Mahasiswa: Model Pendidikan Pesantren dan Perannya untuk Mahasiswa

Di era globalisasi sekarang, setiap negara tidak bisa lagi mencegah arus masuknya barang, jasa, investasi, modal, dan masuknya tenaga-tenaga terampil dan profesional dari berbagai negara. Kondisi ini jika tidak diantisipasi maka Indonesia akan mengalami kalah saing dalam sumber daya manusianya dengan negara-negara lain yang berakibat semakin tingginya ketergantungan tenaga-tenaga kerja asing. Tenaga-tenaga asing tersebut secara tidak langsung akan membawa pengaruh dan kultur dari negaranya yang berkemungkinan mengkontaminasi kultur bangsa Indonesia, terlebih jika yang mereka bawa adalah pengaruh dan kultur yang bertentangan dengan apa yang telah menjadi jati diri kita sebagai bangsa Indonesia.

Dalam menghadapi tantangan globalisasi sektor yang perlu diperhatikan adalah pendidikan terlebih pendidikan tinggi. Karena menurut Muhammad Nuh, ketika menjabat sebagai Mendikbud pernah menyatakan bahwa dalam rentang tahun 2010-2035 jumlah penduduk Indonesia dengan usia produktif sangat melimpah. Dan di tahun 2021-2022 ini hampir 50% dari usia tersebut berada di kisaran usia penempuh pendidikan tinggi (19-27 tahun). Oleh karena itu penyiapan pendidikan yang matang adalah krusial agar sumber daya manusia Indonesia memiliki kesetaraan dan kualifikasi yang sama dengan negara lain.

Untuk menyiapkan SDM yang berkualitas ternyata tidak bisa hanya mengandalkan dimensi akademik yang biasa dikembangkan di perguruan tinggi, tetapi pembiasaan, keteladanan, dan budaya religius yang kaya akan nilai-nilai agama juga sangat perlu. Karena Indonesia sendiri adalah negara yang sangat menjunjung tinggi nilai-nilai kegamaan seperti yang tertuang di sila pertama Pancasila. Oleh karena itu, saat ini ada fenomena baru yakni berupa pesantren yang lahir dari adanya pengaruh perguruan tinggi. Model pesantren ini sedikit berbeda karena mengkaji kitab-kitab keislaman klasik yang selama ini menjadi ciri khas pesantren namun dipadukan dengan pendekatan disiplin keilmuan modern ala perguruan tinggi. Model pesantren tersebut dijuluki “Pesantren Mahasiswa”.

Baca Juga:  Pendidikan dalam Pusaran Politik

Sebagai respon terhadap dinamika zaman, pesantren mahasiswa muncul melengkapi model-model pesantren sebelumnya, seperti pesantren salafiyah (klasik) dan pesantren khalafiyah (modern). Pesantren mahasiswa mempunyai tujuan umum yakni sebagai penguatan keberagamaan di lingkungan kampus.

Dalam perkembangannya, setiap pesantren mahasiswa memiliki ciri khas dan corak pendidikan yang bermacam-macam. Contoh pesantren-pesantren besar seperti Pesantren Modern Darussalam Gontor Ponoroga, Pesantren Tebuireng Jombang, Pesantren Darunnajah Jakarta, dan Pesantren Al-Anwar Sarang yang di dalamnya telah berkembang perguruan tinggi. Demikian pula pesantren mahasiswa seperti Pesantren Mahasiswa Al-Hikam dan Ma’had Sunan Ampel al-Aly yang berada UIN Malang.

Kurikulum pendidikan pesantren mahasiswa merupakan perpaduan antara pesantren salaf dan kurikulum perguruan tinggi. Dengan kombinasi kurikulum tersebut diharapkan mampu memunculkan mahasantri yang aspiratif, progresif, dan tidak ortodoks sehingga dapat beradaptasi dalam setiap bentuk dinamika zaman dan masyarakat, akan tetapi juga tidak menghilangkan esensi spirit “kepesantrenan” dalam diri mereka. Bahwa pesantren bertujuan untuk meninggikan moral dan semangat, menghargai nilai-nilai spiritual dan kemanusian, menghindari dari jeratan kepentingan duniawi, serta memberikan keyakinan bahwa menuntut ilmu semata-mata adalah memenuhi kewajiban dan menempuh ridho Allah.

Pesantren mahasiswa sendiri juga memiliki beberapa jenis yang disesuaikan dengan perguruan tinggi maupun kondisi masyarakat di sekitarnya. Setidaknya ada tiga jenis pesantren mahasiswa menurut Abdl. Chayyi Fanani dalam bukunya “Pesantren Anak Jalanan”.

Pertama, pesantren yang membuka lembaga perguruan tinggi. Santri yang telah belajar sekian tahun di pesantren salaf atau modern kemudian diperkenal kan dengan dimensi keilmuan islam yang lebih luas lagi di perguruan tinggi. Hal ini karena terjadi kesadaran ilmiah di kalangan santri maupun mahasiswa. Para mahasiswa yang ikut nyantri di pesantren jenis ini sebagian ada yang pernah mondok di pesantren, sebagian lagi berlatar belakang pendidikan non-pesantren. Misalnya seperti Universitas Darussalam Gontor, Universitas Hasyim Asy’ari Tebuireng, STAI Darunnajah Jakarta, dan STAI Al-Anwar Sarang, yang berada di bawah naungan pesantren-pesantren yang telah disebutkan di atas.

Baca Juga:  Gus Dur dan Upayanya Menjaga Keseimbangan Wacana

Kedua, pesantren mahasiswa yang didirikan oleh alumni pesantren yang tidak jauh dari lokasi kampus. Di antara ciri pesantren mahasiswa ini adalah: (1) Bangunan pesantren yang berada di kota-kota yang identik dengan keberadaan perguruan tinggi. (2) Lokasinya yang tidak jauh dari kampus. (3) Pengasuh pesantren merupakan bagian dari masyarakat urban dan kemudian mendirikan pesantren mahasiswa. (4) Pengasuh pesantren merupakan alumni pondok pesantren sekaligus alumni perguruan tinggi. (5) Pengasuh pesantren biasanya sekaligus juga menjadi pengajar di perguruan tinggi terdekat. (6) Pola relasi santri yang lebih berjalan cair dan egaliter dibanding pesantren salaf. Contoh pesantren jenis ini seperti Pesantren Luhur Al-Husna dan An-nur di sekitar UIN Sunan Ampel Surabaya. Pesantren Luhur, Pesantren Al-Hikam dan PP. Sabilurrasyad yang tidak jauh dari kampus-kampus di Kota Malang. PP. Hasyim Asy’ari dan PP. Wahid Hasyim yang tidak jauh dari UIN Sunan Kalijaga Yoyakarta.

Ketiga, pesantren mahasiswa dari kampus dimana mewajibkan mahasiswanya untuk mengikuti kegiatan pesantren, atau pihak kampus menyediakan asrama bagi para mahasiswa dan pembelajaran ala pesantren diterapkan di dalamnya. Seperti Ma’had IAIN Jember, begitupun sama dengan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dan UIN  Sunan Ampel Surabaya.

Keberadaan pesantren mahasiswa dengan berbagai jenis di atas merupakan bentuk adaptasi dan kontekstualisasi keberadaan pesantren di zaman modern ini. Dinamika zaman yang bejalan cepat membuat pesantren melakukan langkah antisipasi untuk mempertahankan identititasnya sebagai salah model pendidikan Indonesia.

Peran pesantren mahasiswa bertitik tekan sebagai benteng moral bagi mahasiswa, karena salah satu kekhasan pesantren yakni suri tauladan dan akhlakul karimah tidaklah hilang di dalam model pesantren mahasiswa. Pesantren mahasiswa juga berguna untuk membangun spiritualitas mahasiswa karena kegiatan-kegiatan di dalamnya dapat membangun spiritualitas mahasiswa melalui pelatihan dan pembiasaan. Misalnya saja sholat subuh berjamaah dimana ini adalah salah satu kebiasaan yang sering dilalaikan mahasiswa yang mana kebiasaan sholat subuh berjamaah sulit bahkan tidak didapatkan mahasiswa kecuali mereka berada di pesantren. Pesantren mahasiswa juga dapat menjadi wadah bagi para mahasiswa untuk mempelajari atau memperdalam ilmu agama sebagai penunjang perkuliahan mereka. Dengan mempelajari ilmu agama yang sesuai baik dari segi sumber dan guru maka akan membentuk out-put mahasiswa yang akademis-religius. Dengan aspek religiusitas yang kuat dalam diri mahasiswa maka akan terbentuk tenaga-tenaga profesional yang tingkah lakunya bersih dan benar.

Baca Juga:  Spiritualitas Pendidikan di Era Normal Baru

Di sisi lain, penyediaan asrama – sekaligus tata tertib – di pesantren bagi mahasiswa membuat orangtua mahasiswa tidak perlu khawatir dengan pergaulan bebas, karena hal tersebut bertujuan untuk mendampingi mendisiplinkan mahasiswa dalam membentuk mental serta karakter mereka secara sungguh-sungguh ketika kehidupan mereka jauh dari pengawasan orang tua. Memang hal tersebut dinilai mengekang kebebasan bagi sebagian mahasiswa, akan tetapi menghindari dari resiko pergaulan bebas tentu lebih membawa mashlahat bagi si mahasiswa.

Pola interaksi para mahasiswa di pesantren mahasiswa pada akhirnya akan memberikan kesadaran baru yakni memadukan keilmuan pesantren dan keilmuan perguruan tinggi, namun tidak serta merta mereduksi dan mengubah orientasi dan idealisme pesantren itu sendiri. Demikian juga nilai-nilai pesantren tidak perlu dikorbankan demi program modernisasi, jikalaupun berubah maka pesantren dapat menyesuaikan tanpa harus kehilangan jati dirinya yang khas. Keberadaan pesantren mahasiswa dengan berbagai jenisnya di atas merupakan bentuk adaptabilitas dan kontekstualitas keberadaan pesantren di era modern ini sehingga eksistensi pesantren tidak tergerus oleh zaman. []

Azizul Rizki Dwi Pramudya
Mahasiswa S-1 UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Pesantren