Pesantren Al-Arfiyyah dan Pendidikan Karakter Santri

Pondok Pesantren Al-Arfiyyah ini berdiri sudah lama sekali di desa Mojoduwur, Kec. Ngetos, Kab. Nganjuk, Jawa Timur. Pondok yang berdiri ditengan lingkungan masyarakat dengan mayoritas pekerjaan sebagai petani membuat sang kiai menerapkan pendidikan karakter mengkuti budaya masyarakat setempat. Meskipun tidak semua santri berasal dari kalangan petani, namun hal itu tidak membuat mereka patah semangat untuk belajar.

Pondok Al-Arfiyyah memang mempunyai lahan pertanian yang cukup luas, hal ini dijadikan sang kiai, pemimpin pondok, untuk tetap mengelola dan mengembangkannya disamping kegiatan mengasuh ponpes dan mengikuti kegiatan santri-santrinya. Lahan yang ada juga tidak terlalu jauh letaknya dari pesantren, jika hendak pergi ke sawah para santri cukup berjalan kaki saja. Karena mondok di sana tidak dimintai biaya syahriah bulanan, hal inilah yang dilakukan kiai untuk tetap bisa mengasuh para santrinya dan tetap bisa memberikan makanan selama tinggal di pesantren.

Dari dulu, santri yang mondok disana memang disuruh untuk pergi ke sawah dan mengolah lahan pertanian milik pesantren. mereka para santri putra akan pergi ke sawah pada pagi hari kemudian santri putri memasak makanan lalu mengantarnya ke sawah pada jam makan siang. Bagi yang belum biasa memang merupakan kegiatan yang berat jika setiap hari tinggal di pesantren tidak hanya mengaji dan memperdalam ilmu agama, namun juga harus bekerja mengurus sawah kiai.

Di pondok pesantren ini, para santri di didik dengan sangat mendalam. Perlahan namun sangat mengena untuk jiwa dan karakter santri kedepannya. Santri disana biasa menanam padi, jagung juga tidak lupa menanam sayur untuk bahan lauk seadanya. Mereka biasa menanam terong, kacang panjang dan juga kangkung. Hasil panen akan mereka petik kemudian hari dan disetorkan ke dapur pondok untuk kemudian diolah menjadi masakan yang lezat. Jika hasil panen lebih banyak, biasanya mereka akan menjualnya di pasar. Uang hasil penjualan akan masuk kas pesantren dan bisa untuk berbelanja lauk lain seperti tahu atau tempe. Hasil menanam padi juga berlaku seperti itu. Melihat bahwa ini merupakan pekerjaan yang tidak mudah, namun para santri melakukannya dengan senang karena ingin mendapat barokah sang kiai.

Baca Juga:  Menjadi Guru

Karakter diciptakan sejak santri datang ke pesantren Al-Arfiyyah ini, mengingat pendidikan karakter membutuhkan proses yang lama, maka setiap santri harus segera beradaptasi dengan kegiatan sehari-hari yang dijalankan di pesantren ini. Santri yang datang tidak hanya masyarakat lokal namun juga dari luar daerah bahkan luar provinsi.

Karakter mandiri dan sabar serta tidak mudah mengeluh akan mereka dapatkan setelah melalui berbagai tempaan. Bagaimana mereka sabar menanam dan akan menuai di kemudian hari. Tidak hanya menanam, mereka harus merawat tanaman mereka. Sama halnya dengan orang yangs sedang mencari ilmu, bagaimana prosesnya yang dia lakukan maka itulah hasil yang didapatnya.

Ponpes Al-Arfiyyah telah menciptakan alumni pesantren dengan karakter yang kuat dan mandiri. Dihormati di masyarakat karena kecerdasan dan cekatan dalam hal apa pun baik urusan agama maupun urusan masyarakat. Mereka juga masih sering datang ke pondok untuk membantu proses panen jika musim panen tiba, karena mengingat jasa sang kiai yang begitu besar serta tempat tinggal yang telah memberinya pelajaran hidup. Bahkan santri luar provinsi pun tidak akan lupa untuk sowan setiap tahun jika ada acara haul di pesantren.

Pengalaman kakak keponakan saya yang lama nyantri disana, beliau masih sering datang setiap hari rabu malam untuk mengikuti kegiatan di pesantren yaitu kegiatan dibaiyyah. Karena rumah juga tidak terlalu jauh beliau juga membantu saat musim panen di pesantren. beliau bahkan menikah juga dengan jodoh yang dipilih sang kiai, sekarang beliau dan istri sudah mempunyai dua orang anak dan menjadi seorang imam masjid di desanya.

Dengan pengalaman yang di dapatkan di pesantren, beliau mempunyai bekal untuk berbaur dan bersosial di masyarakat dan menjadi seorang panutan serta menyebarluaskan lagi ilmu agama, mendirikan TPQ dan membuat kegiatan mengaji untuk ibu-ibu dan bapak-bapak. Kegiatan rutinan itu juga mendapat apresiasi yang begitu besar melihat betapa semangat mereka mengikuti kegiatan itu.

Baca Juga:  Ilmu Nahwu menuju Pembaruan?

Sungguh luar biasa sebuah pendidika karakter yang telah tertanam dalam diri seorang santri, bekal untuk masa depan tidak hanya ilmu dan teori, namun pengalaman dan karakter yang kuat juga merupakan sebuah nikmat yang harus disyukuri karena bisa membawa kita untuk mengarungi masa depan yang lebih baik lagi. Wallahua’lam Bisshawab. []

Yeni Sri Purwati
Yeni Sri Purwati, lahir di kota angin Nganjuk pada 08 April 2000. Aktif menulis sejak SMA dan sudah menerbitkan buku antologi puisi solo serta sebuah novel.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini