Persoalan Pendidikan di Era Pandemi

Selama era pandemi Covid-19 kita dihadapkan banyak persoalan dalam kehidupan kita. Termasuk di dalamnya persoalan pendidikan. Kita tidak bisa melangsungkan layanan pendidikan sebagaimana biasanya. Kita harus bisa mengidentifikasi persoalan pendidikan dengan cermat dan tepat, sehingga layanan pendidikan yang diberikan dapat menyelesaikan persoalan dan dapat memberikan kepuasan kepada semua stakeholder utamanya siswa dan orangtua.

Berkenaan dengan layanan pendidikan jalur pendidikan formal dapat diidentifikasi persoalannya berdasarkan jenjangnya. Variasi karakteristik jenjang pendidikan secara langsung atau tidak langsung berdampak terhadap varian persoalan yang dihadapinya. Persoalan pendidikan prasekolah, bahwa hakekat pendidikan prasekolah merupakan layanan pendidikan yang diorientasikan untuk fasilitasi pertumbuhan dan perkembangan anak, maka aktivitas yang dibangun lebih dikaitkan dengan tugas perkembangan daripada penguasaan substansi pendidikan.

Pendidikan lebih diwujudkan dengan dengan permainan. Kits permainan perlu disiapkan sesuai dengan kondisi tempat belajar masing-masing. Yang semula anak bisa dikondisikan di sekolah dalam pembentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik, personal, sosial, bahasa, kognitif dan moral, maka kini orangtua yang harus memainkan peran penting di rumah dengan panduan yang sudah disiapkan guru. Hal ini tentu berbeda bila dilakukan sendiri oleh guru.

Persoalan pendidikan dasar, bahwa anak-anak yang absen memperoleh pembelajaran dan pendidikan akademik hampir penuh di semester dua, berdampak pada kehilangan penguasaan akademik. Dengan perubahan jadwal pembelajaran yang dilakukan secara mendadak tanpa persiapan yang cukup.

Sementara itu ketika mau kembali ke sekolah pada semester pertama pada tahun pelajaran berikutnya, ternyata ditiadakan lagi modus luring. Dan dilanjutkan dengan modus pembelajaran daring. Kondisi ini berdampak terhadap penguasaan literasi yang jauh dari idealnya. Bisa dibayangkan jika tidak segera ada adaptasi kurikulum, maka pada akhirnya bisa terjadi kualitas pendidikan dasar mengalami penurunan.

Baca Juga:  Kebijakan Pendidikan Tinggi Masa Pandemi COVID-19

Persoalan pendidikan menengah, bahwa normalnya anak-anak yang belajar di jenjang pendidikan menengah mengalami kecepatan pertumbuhan fisik, mental dan emos. Namun akibat pandemi, kesehatan mental anak-anak mengalami gangguan, yang ditunjukkan dengan meningkatnya penyimpangan perilaku.

Termasuk penggunaan obat dan perilaku anti sosial yang menjadi konsekuensi logis dari semakin banyak waktu kosong, masih rendahnya tindakan pengawasan baik yang terkait dengan pergaulan bebas maupun penggunaan IT dan medsos yang miskin tindakan monitoring.

Persoalan pendidikan tinggi, bahwa kehadiran pandemi Covid-19 secara tiba-tiba berdampak terhadap layanan pendidikan, di antaranya respon legal yang minimal, penundaan yudisium atau wisuda, dan digitalisasi kurikulum, berkurangnya mobilitas mahasiswa internasional, biaya perkuliahan dan kost, terganggunya pelaksanaan penelitian baik sebagai tugas akhir maupun agenda dosen serta kegiatan pengabdian pada masyarakat.

Walaupun sistem layanan akademik dan non akademik telah diupayakan segar online, namun tetap masih dijumpai sejumlah persoalan. Dengan begitu kualitas kinerja perguruan tinggi juga relatif menurun.

Jika memperhatikan praktek pendidikan yang ada di seluruh jenjang pendidikan, maka terjadi perubahan yang sangat berarti dalam penyelenggaran E-learning. Adopsi berbagai model E-learning dalam pembelajaran telah dilakukan.

Perubahan perilaku belajar terjadi secara masif. Partisipasi orangtua dalam pendidikan lebih ikut menentukan kelancaran dan kualitas proses pendidikan. Di samping dukungan infrastruktur, terutama jaringan dan hardware yang menjadi tumpuan aktivitas pembelajaran.

Oleh karena itu demi keberlanjutan pembangunan pendidikan untuk semua, segala persoalan yang muncul sebagai konsekuensi logis dari kehadiran Covid-19, perlu dihadapi dengan penciptaan sistem pendidikan yang komprehensif. Dengan mengacu pada tatanan kehidupan baru, visi dan misi pendidikan perlu dilakukan adaptasi.

Demikian juga prioritas program pendidikan perlu disesuaikan dengan era RI 4.0 dan Society 5.0, serta era Disrupsi, juga pemilihan strategi pendidikan yang tepat dan relevan, sehingga mampu menghadirkan praktek pendidikan yang bisa menghasilkan insan yang bermartabat, unggul, kompetitif dan adaptif, sehingga mampu menjadi agen perubahan.

Baca Juga:  Sifat Guru yang Baik

Akhirnya kita perlu menyadari bahwa kehadiran pandemi Covid-19 seharusnya bukan kita pandang sebagai musibah, gangguan, atau hambatan, melainkan kita pandang sebagai ketentuan Allah swt untuk menguji semua manusia di atas bumi, baik terkait dengan iman, ilmu dan amal kita.

Dalam konteks pendidikan, kita perlu Instrospeksi secara jujur, sehingga kita bisa memberikan solusi terhadap persoalan yang ditimbulkan oleh pandemi. Kita tidak boleh lari, tetapi wajib belajar dan bekerja keras agar bisa menyelesaikan masalah tanpa menimbulkan masalah baru. Semoga Allah swt selalu membimbing kita. Aamiin. [HW]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini