Krisis, satu kata yang hari-hari ini begitu pekat menyelimuti benak manusia Indonesia semakin terasa menjemukan. Negara dengan jumlah penduduk dua ratus lima puluh juta jiwa lebih, tak hanya sedang menghadapi krisis kolektif global tahun ini yaitu pandemi dari COVID-19 yang begitu memporak-porandakan kehidupan global. Hari-hari ini Indonesia juga sedang dan mungkin masih (karena sejak lampau) mengalami krisis kemanusiaan. Sebuah krisis yang riskan terjadi karena kepongahan manusia serta egoisitas dirinya yang menyebabkannya jatuhnya martabat diri dari kata ‘manusiawi’.

Kesedihan dan keprihatinan akibat krisis corona belum juga reda, apalagi bila melihat kasus yang semakin bertambah menjadikan kesedihan dan keprihatinan bagai gumpalan awan hitam yang menyelimuti langit Indonesia dan serupa kecamuk badai yang meluluh-lantahkan semua.

Krisis yang belum juga reda, namun malah diperparah dengan hadirnya krisis pengiring berupa krisis kemanusiaan pada sebagian warga. Alih-alih saling bergandeng tangan untuk melawan pandemi ini, mereka justru berbuat yang tak semestinya sehingga menimbulkan sakit hati di dalam perasaan manusia lain.

Fakta tersebut terasa mencabik-cabik hati semua dan terutama petugas medis ketika kedapatan sebagian warga menolak ambulan yang akan memakamkan jenazah PDP.

Lebih lanjut dari kasus itu yang belum usai, Indonesia kembali digegerkan dengan aksi youtuber yang membuat konten prank berisi mengerjai beberapa waria dengan memberikan donasi berupa sampah, tak pelak kelakuannya pun mendapatkan serangan masif dari para netizen sehingga berbuah pada penangkapan pelaku oleh pihak kepolisian.

Dua kasus di atas seolah menggambarkan bahwa krisis yang paling mengerikan pada kehidupan manusia adalah krisis kemanusiaan itu sendiri. Manusia selaku makhluk paling sempurna –menurut dogma agama- dengan akalnya ternyata kerap kali justru berlaku nista. Ketakbecusannya mendaya-gunakan akal dan memfungsikan hatinya pada akhirnya tak lebih hanya mengantarkannya pada predikat murah dan rendahan.

Baca Juga:  PHK Grab-Gojek dan Status Driver

Mari kita merentangkan nalar dengan tenang dan mendinginkan hati terlebih dulu agar pribadi tak jengkel terhadap kasuistik ini.

Bayangkan betapa terpukulnya petugas medis yang telah berdarah-darah bertaruh nyawa untuk menyelamatkan satu nyawa manusia (pasien) dengan segala keterbatasan APD dan juga obat-obatan, kemudian perjuangannya berakhir pada situasi pertemuan pasien keadaan ajal -tak ada kata gagal dalam perjuangan petugas medis-, mereka harus menelan pil pahit berupa penolakan di berbagai tempat karena stigmatisasi warga dan phobia berlebih bahwa jenazah dapat menularkan virus tersebut.

Hal ini tentu tak menutup kemungkinan mereka (para petugas medis) tak kuasa menahan air mata lalu mengucurkannya sedemikian derasnya. Apalagi bila kita saksikan, beberapa darinya ialah wanita muda yang sedang hamil tua, dalam kondisi darurat semacam ini dan demi tugas suci, ia mengacuhkan kondisi pribadinya demi keselamatan yang lebih luas. Namun nahas, perjuangannya tak disambut solidaritas dari masyarakat. Miris!

Beranjak dari cerita tersebut, kasus youtuber –saya tak mau menyebut nama, saya yakin pembaca sudah mafhum maksud saya- yang membuat konten prank murahan dengan memberikan donasi sampah kepada waria turut memberi pukulan telak bagi nilai kemanusiaan secara universal. Mengapa? Sebab, atas dasar apapun, tindakan ini tentu keji dan begitu nista. Kendati mereka adalah waria akan tetapi mereka pun memiliki hak yang sama untuk hidup dan diperlakukan layaknya manusia normal, apalagi dalam situasi pandemi yang setiap dari kita membutuhkan uluran tangan dan solidaritas demi melanjutkan hidup dan melewati badai hitam. Namun kenyataannya sungguh memilukan, mereka hanya diberikan harapan palsu yang sama sekali tak terpuji oleh konten kreator yang cuti nalar

Menyaksikan kisah tersebut, kita mungkin perlu belajar pada kisah pelacur yang mendapatkan hadiah berupa ampunan dan surga dari Tuhan lantaran menolong atau memberikan minum kepada anjing yang kehausan dan nyaris mati, seekor hewan  berpredikat najis berat. Namun ia menolong hewan itu lantaran naluri belas kasihnya terketuk menyaksikan hewan tersebut dalam kemalangan dan keadaan sekarat.

Baca Juga:  Akhirnya Dosen Senior IAI Al-Aziziyah Samalanga yang juga Alumni MUDI Ini Raih Doktor di Era Covid-19

Apa salahnya dengan menolong? Bila menolong anjing saja dapat menyebabkan ampunan Tuhan terbuka, apalagi (menolong) manusia?! Help is’nt fault.

Dalam hal ini, ketulusan serta kemanusiaan –meskipun menolong hewan- adalah nilai luhur di atas segalanya. Ia tak peduli dengan predikat ke-lacur-annya yang nista untuk berbuat buat baik, ia juga tak peduli siapakah yang ditolongnya. Sebab, mungkin, yang lebih penting dari keduanya adalah bagaimana nurani berperan untuk menggerakkan badan demi menolong sesama makhluk agar dapat selamat dari ancaman maut.

Mari kita belajar bijak dan arif dalam bertindak serta berperilaku, terutama pada kondisi krisis semacam ini. Mengapa? Karena dalam kondisi genting dan krisis semacam ini, sesungguhnya mentalitas seseorang benar-benar diuji. Ujian yang berskala global ini perlu ditempuh dengan semangat kebersamaan, solidaritas serta menihilkan egoisitas diri demi masa depan yang lebih baik. Sebab sejarah kelak akan mencatat siapa yang berbuat mulia dan siapa yang berbuat nista.

The last but not least

Manusia dan kemanusiaan adalah dua hal yang berlainan, jika meminjam istilah Sidharta, seorang pengajar Filsafat, memahami manusia dapat dengan cara menerangkan sedangkan memahami kemanusiaan mesti dengan cara memahami. Maka manusia yang secara sederhana adalah makhluk sebatas visual, perlu berbuat tindakan yang melampaui visual sehingga kemanusiaan dapat terengkuh dengan cara berbuat baik tanpa memandang agama, ras, golongan, gender atau apapun. Bahkan kepada hewan dan tumbuhan sekalipun, terlebih sesama manusia.

Tabik, salam. [HW]

Teni Maarif
Mahasiswa UIN Raden Intan jurusan Pendidikan Agama Islam semester 7 sekaligus Mu’allim (Pengurus Ma’had Al-Jami’ah UIN Raden Intan)

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini