Sebenarnya, seberapa cepatkah waktu itu berjalan dan turut melibas umur manusia? Apakah ia tak peduli jeda? Apakah ia tak sudi menerima keluh kesah dari jutaan peluh manusia yang mengaduh mengadu doa sebab kenangan-kenangan yang baru sejumut saja dinikmati lekas dan cepat berlalu sama sekali.

Dan barangkali apakah waktu tak mau berkompromi dengan perasaan? Yang baru kemarin rasanya jatuh cinta, namun seketika semua lenyap dan regas entah ke mana perginya. Tapi, memang demikianlah cara waktu bekerja. Ia tak digaji apali sebagai honorer, perintah Tuhanlah satu-satunya bentuk kepatuhan mengapa dirinya berjalan dengan teguh dan tak peduli sama sekali dengan apa yang terjadi. Ia akan terus menggamit siapapun yang ada di depannya, merangkum semua, mulai dari air mata bahagia dan juga duka, senyum sumringah atau nestapa yang tak tiada habis.

Begitulah kira-kira dilema manusia dalam menghadapi waktu. Mereka sering lalai dan alpa dengan waktu sehingga tanpa disadari waktu telah menghabiskan kesempatan mereka dan penyesalan adalah perbuatan paling mungkin terjadi setelah kegagalan memanfaatkan waktu.

Hal demikian dulu pernah diutarakan dan oleh Imam Syafi’i bahwa beliau menuturkan waktu itu laksana pedang. Petuah tersebut dimaksudkan bahwa waktu akan melibas dan merangkum siapapun yang tak siap dengan kenyataan jika waktu memang terus berjalan.

Salah satu bukti bahwa waktu amat cepat berjalan ialah rasa-rasanya baru kemarin Ramdan berlalu, kini Ramadan sudah berada di pelupuk mata. Satu tahun seolah tak terasa dan sepertinya manusia banyak yang kaget ketika menyaksikan Ramadhan tinggal menghitung hari.

Padahal semestinya lewat momentum Idul Fitri tahun yang telah lalu mampu menjadikan manusia lebih baik dan mengenal Tuhannya, namun yang terjad justru sebaliknya yaitu kealpaan-kealpaan begitu datang berjibu baik disengaja atau pun tidak. Rasa-rasanya diri begitu gagal dalam mempertahankan ketaqwaan sehingga selalu saja runtuh dan terjerembab dalam jurang kefanaan berupa dosa.

Menyikapi hal di atas, tentunya manusia akan merasa malu sebab kegagalan mempertahankan kebaikan selalu saja ada bentuk dan variasinya. gemerlap perhiasan dunia  menjadi musuh paling nyata yang membuat manusia terlena lalu lelap di dalamnya. Manusia hanya sibuk menghitung pujian dan anggap baik sesamanya. Atau bila pun tidak mereka sibuk bertengkar dan berebut perkara yang sifatya fana, apalagi bila membahas soal politik.

Ramadan tinggal sejengkal lagi akan datang menghampiri, pintu rahmat yang Tuhan janji akan terbuka selebar mungkin mestinya telah manusia siapkan sebelumnya untuk memasukinya. Segala bentuk peribadahan dan ketaan mesti lebih dulu pemanasan sebelum ramadhan datang dan eksekusi ketaan manusia harus dieprjuangkan habis-habisan agar ia mampu menjadi suci kembali dan fitrah.

Menginsyafi segala kekeliruan dan kealpaan diri kiranya perlu ditingkatkan. Apalagi bagi mereka yang hidup dalam riuh rendahnya masyarakat perkotaan. Sebab, dalam keramaian sudah tentu manusia bukan hanya besar potensi berbuat kealpaan namun lebih jauh dari itu ialah manusia dalam kerumunan akan gagal mengenal dirinya sendiri.

Maka sesekali jalan menarik diri dengan bermuhasabah menjadi satu trik khusus untuk menelanjangi diri sendiri. Seperti perkataan Soekarno bahwa

Ada saatnya dalam hidupmu engkau ingin sendiri saja bersama angin , menceritakan seluruh rahasia lalu meneteskan air mata.

Wallahu A’lam Bishawab

Teni Maarif
Mahasiswa UIN Raden Intan jurusan Pendidikan Agama Islam semester 7 sekaligus Mu’allim (Pengurus Ma’had Al-Jami’ah UIN Raden Intan)

Fiqih Female; Media Baru Dakwah Kitab Kuning

Previous article

Menyikapi Korona, Merefleksi Budaya

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar

More in Opini