Source : weboundmarketing.com

Cerita ini berawal saat adik saya yang kelas 3 SMA bertanya soal penerimaan maba (mahasiswa baru) perguruan tinggi. Meski model penerimaan maba saat ini berbeda dengan yang saya alami dulu, saya usahakan semaksimal mungkin mencarikan informasi tersebut untuk adik saya. Nah, saya terhenti pada laman penerimaan maba sebuah kampus di Malang. Ada proses penerimaan maba lewat jalur influencer. Tepatnya kampus UMM. Benar, Anda tak salah baca. Jalur influencer.

Seperti saya duga sebelumnya, pasti ada tulisan soal penerimaan maba UMM lewat jalur influencer. Tema tulisan itu jelas menarik. Pasalnya, siapa sangka seorang influencer saat ini mendapat perhatian lebih? Apalagi ada jalur khusus buat diterima kuliah. Modal kuota internet, hape kamera ciamik cum tampang yang ‘menarik’, predikat influencer akan mudah didapat. Lagian, mana ada sih cewek cantik atau cowok cakep yang followernya sebanyak hitungan jari. Meski tak semudah itu juga sih. Heuheu.

Kompas pernah mewartakan soal diatas pada hari Sabtu, 21 Maret 2020. Kompas menerima konfirmasi dari Humas UMM bahwa berita soal penerimaan maba lewat jalur influencer itu benar. Tapi, tidak semua influencer bisa diterima. Tentu ada syaratnya. Seperti seberapa kreatif, positif, edukatif atau informatif konten yang dihasilkan influencer tersebut. Dan juga disediakan tim khusus untuk mentracking kemungkinan adanya follower atau subscriber palsu.

Rasanya wajar saja kalo UMM membuka jalur seperti itu. Yhaa gimana, pendidikan itu hak setiap warga negara, jeh. Idealnya, tanpa terkecuali sih. Termasuk latar belakang warga negara tersebut. Mau dia tukang desain cover buku, mau tukang jual bakso, tukang jualan baju, mereka semua berhak mendapatkan pendidikan, bahkan bagi seorang influencer. Jadi, woles saja tho.

Jalur penerimaan maba seperti ini bisa kasih keuntungan lho buat kampus. Influencer itu bisa diberdayakan sebagai cara promosi kampus agar semakin dikenal masyarakat. Lha wong presiden Jokowi saja berencana kasih dana miliaran buat influencer biar bisa promosikan pariwisata, kenapa kampus mesti keluarkan dana banyak buat cetak banner, pamflet, dan lainnya buat promosi.

Lagian, jadi influencer itu juga gak mudah. Butuh kuota internet tanpa batas, tampang yang menarik, suara yang jernih didengar, dan masih banyak deh. Konten yang dibikin pun tak serampangan. Lha gimana bisa dapet banyak follower, kalo kontennya tutorial masak mie instan, atau cara menulis pake bolpoin. Sama lha kyak atlet atau hafidz Quran. Atlet perlu jaga stamina, jaga kesehatan, atau hafidz Quran yang perlu menjaga hafalannya.

Bagi saya pribadi, langkah UMM ini patut diacungi jempol. Artinya UMM mampu beradaptasi dengan perkembangan jaman. Ia tidak hanya melihat pendidikan lewat jalur formal a.k.a tes tulis dan lainnya. Tapi, lebih jauh dari itu, pendidikan harus menembus sekat-sekat formal, jalur informal seperti influencer pun perlu mendapat sentuhan pendidikan. Lah, kok jadi serius amat kayak makalah gini yak? Wqwqwq.

Tapi, serius. Ini langkah yang saya yakin perlu ditiru kampus lain, atau kampus menerima maba lewat jalur lain yang tidak biasa. Lha wong bayar UKT aja udah bisa pake hape (bayar pake uang elektronik), masak nerima maba cuma pake jalur itu-itu aja sih? Ayo dong, ada gebrakan lha. Nerima maba lewat jalur hafidz Quran atau atlet olahraga, itu kan udah biasa. Coba, selain influencer, jalur apa lagi ya yang bisa memungkinkan seseorang buat diterima jadi mahasiswa?

Hanif Nanda Zakaria
Penulis Buku "Bang Ojol Menulis" Alumnus Pascasarjana UIN Maulana Malik Ibrahim Malang

    Berpulangnya Sang Guru Pecinta Al Qur’an

    Previous article

    Sikap Menghadapi Corona

    Next article

    You may also like

    Comments

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini