Ilustrasi: lovezin.fr

Mungkin kerap kali kala anda merenung sembari melempar tanya ringan seusai menarik diri dari keramaian, adalah mengapa pergunjingan atau sinisisme (hal-hal nyinyir: terjemah bebas) selalu melingkupi hidup anda. Padahal sesadar dan sepengetahuan diri anda, apa-apa yang anda lakukan sudah dipertimbangkan matang-matang serta porsi dan proporsinya pun sudah dipirkikan sebelumnya. Namun kenyinyiran itu selalu datang dan ada saja bentuk serta varian warnanya. Yang seiring waktu membuat anda bingung geleng kepala bukan main.

Manusia, selaku makhluk Tuhan yang sempurna (dengan anugerah berupa akal) telah mengalami fase sejarah yang unik. Kita sebut saja dari mulai penciptaan manusia itu sendiri yaitu Adam dan disusul pujaan hatinya bernama Hawa. Ada apa dengan keduanya? Kira-kira demikianlah pertanyaan sederhana yang perlu kita ucapkan untun nanti kita tarik garis lurus analoginya ke kehidupan sosial kita.

Tuhan, selaku dzat yang Maha Sempurna dalam prosesi sebelum menciptakan Adam telah mendapatkan sanggahan dari malaikat, tentu hal ini bukan berarti malaikat tidak taat, namun terlebih karena kekhawatiran mereka dengan anugerah akal dan pikiran itu manusia justru gagal menjinakkan keduanya sehingga hanya akan menjadikan mereka pembuat konflik, pencipta kerusuhan, perawat kerusakan, serta yang lebih parah ialah mereka lah yang nantinya membuat gejolak riuh alam semesta. Namun kendati pun demikian, Tuhan menjawab kekhawatiran malaikat dengan tutur halus dan sangat meyakinkan bahwa apa yang mereka ketahui tidak sepenuhnya valid, dalam arti sederhana Tuhan memiliki recana lain yang tidak diketahui oleh malaikat dalam penciptaan manusia.

Biila malaikat bisa mafhum dan mampu memaklumi Tuhan tentang penciptaan manusia, itu tidak sama halnya dengan iblis yang justru menentang terhadap prakaarsa Tuhan. Iblis terlampau purba sangka dan merasa dirinya lebih prestis ketimbang manusia. Hal tersebut tergambar ketika Tuhan meminta iblis untuk bersujud (secara bahasa) atau dalam terjemah bebasnya memberi hormat kepada adam, seketika ia menolak dengan alasan dirinya lah yang paling sempurna, sebab mereka tercipta dari api sedangkan adam hanya lumpur atau tanah yang hina dina pada anggapan mereka. Sikap demikian telah cukup untuk membuat Tuhan murka lalu mengutuk makhluk bernama iblis sebagai penghuni neraka dan merekalah pemiliki abadi ruang panas itu dan tentunya bersama manusia-manusia turunan adam yang mau mengikuti jejaknya.

Prilaku buruk iblis ini mendapat kritikan dari Rumi lewat petuahnya yang sungguh sastrawi. Rumi mengatakan bahwa Jangan kau seperti Iblis, hanya melihat air dan lumpur ketika memandang adam. Tapi lihatlah di balik lumpur, beratus-ratus ribu taman yang indah. Hal ini begitu relevan bila menengok lingkungan sosial anda, saya, atau kita semua yang kadang kala sudah berniat dan berbuat baik namun selalu saja menyisahkan orang-orang yang berpikiran sinis serta teramat purba sangka. Mereka adalah kaum yang serupa iblis, yang enggan memandang kebaikan di luar dirinya, pikirannya yang jernih telah buntu oleh egoisme ke-diri-annya. Kebaikan yang ada di depan matanya kendatipun lebih ternag dari pada cahaya pun gagal ia tangkap sebagai kebaikan. Kegelapan tak hanya membuat matanya tertutup dan gagal melihat, namun turut membakar hati nurani dan jiwanya sebab kebenciannya telah begitu akut. Hal semacam ini pun turut dikritik oleh Filosof modern Barat bernama Immanuel Kant, ia mengatakan bahwa dalam kaca mata hukum, orang dinyatakan bersalah ketika ia melanggar hak orang lain. Namun dalam kaca mata etika, orang dinyatakan besrsalah bila ia berpikiran negative (ingin melanggar) hak orang lain. Sindiran Immanuel Kant nampaknya menjadi satu ramuan yang mesti direnungkan semua dari kita. Betapa Kant menyatakan bahwa dalam berkehidupan sosial, Kant menganggap seseorang telah melakukan kesalahan kendati pun mereka hanya berniat (dalam pikiran) buruk atau ingin melanggar hak orang lain.

Dalam laku keseharian, mengharap semua orang menyukai perbuatan, tindakan, keputusan, atau gaya hidup serta kenbijakan kita adalah satu hal yang mustahil. Perbedaan isi kepala dan jenis makanan (bukan hanya yang dapat dimamah perut) turut serta mempengaruhi bagaimana ia melihat orang lain. Hal serupa pernah diutarak seorang Filosof yang konsen dalam bidang Psikologi bernama Abraham Maslow, ia menuturkan Jika alat yang kau punyai hanya palu, niscaya kau hanya akan menganggap yang lain sebagai paku. Sindirian ini rasa-rasanya sungguh cocok bagi siapapun yang secara langung atau pun tidak langsung berperilaku Prejudice atau dalam bahasa Indonesia kita sebut sebaga buruk sangka karena hanya memadang orang lain dari kesalahannya semata. Mereka gagal menagkap pesan lain, padahal hidup bukan soal benar dan salah, manusia di bumi bukan hanya antara hitam dan putih. Serupa pelangi, warna hidup sejatinya beragam dan berbeda-beda.

Maka bila ingin tetap menjadi Easy going dengan segala purba sangka, hasut, dan segala macam kebencian, serta bebas dari semua kealpaan tadi, ada baiknya dan kiranya memang itu satu-satunya jalan ialah menempuh jalan cinta. Jalan cinta adalah jalan penuh kasih yang memandang semua orang yang berbuat salah adalah manusiawi dengan berasumsi mereka (selagi masih hidup) memiliki kesempatan untuk bertobat dan menginsyafi kesalahannya. Sebab dalam kajian Otoritas Keagamaan dikatakan bahwa sejatinya tiap perjalan hidup umat manusia adalah sebuah upaya perjalanan mencari Tuhan.

Jiwa pecinta akan membaut hati menjadi terang dan tenang, menggiring pikiran ke arah positif serta membuat orang yang memiliki jiwa pecinta tak gelap hati dan berbalut awan mendung dalam laku kesehariannya. Ia yang memiliki cinta akan tumbuh sebagai manusia yang manusiawi, mereka akan mampu memahami dimensi-dimensi lain yang tak terjamah bahkan kerap kali gagal ditafsirkan kaum pembenci akut sebagai kebaikan. Ini adalah satu keistimewaan.

Namun kendatipun demikian, sebuah persoalan tentang berbuat baik akan tetapi masih dinilai buruk adalah bukan hal baru. Ia adalah perkara lama yang telah dialami jutaan umat manusia sebelumnya, namun terasa baru barangkali karena kita yang baru pertama kali mnegalaminya. Seiring bertambahnya umur dan pengalaman, akan selalu ada dan bisa jadi mengalamo transformasi bentuknya. Tugas jiwa pecinta ialah tetap menjaga akalnya dengan waras dan memelihara emosionalnya sebagai mana mestinya. Sebab bila kita membaca novel karya Jostein Gaarder yang berjudul Dunia Cicilia sebuah novel yang mengisahkan Cicilia yang berjumpa dan bisa berdialog dengan malaikat bernama Ariel, ada satu pesan penting yang tergambar di situ bahwa Ariel atau pernah berkata bahwa kehebatan manusia ialah mampu mengendalikan antara akal dan emosionalnya, sebab malaikat tak merasakan keduanya.

Maka betapapun banyak orang yang membenci anda, tugas anda bukan ganti membencinya. Sebab, balas dendam terbaik justru bukan dengan cara berbuat hal yang sama, akan tetapi dengan jalan menjadikan diri lebih baik serta berkualitas.

Hidup adalah serangkaian peristiwa yang kerap kali tak diduga-duga apa yang akan terjadi, bila hal yang tak diduga itu soal bahagia dan keberuntungan, tentu semua manusia siap diri menerimanya. Namun bila yang terjadi sebaliknya, tentu pil pahit dan kabar buruknya ialah tidak semua manusia mampu melahapnya. Baik atau buruk, itu adalah dua hal yang perbedaanya setipis embun, keduanya akan hadir dalam derap langkah manusia sanpai kapanpun masanya. Kebaikan terbaik ialah berbuat baik karena memang hal itu baik, dan sebaliknya berbuat kebaikan yang dibangun atas dasar ingin dianggap baik justru bukan perbuatan baik sama sekali, namun hal tersebut adalah sebuah bentuk tindakan kontra produktif atau dalam bahasa kekinian sering disebut pecitraan.

Teni Maarif
Mahasiswa UIN Raden Intan jurusan Pendidikan Agama Islam semester 7 sekaligus Mu’allim (Pengurus Ma’had Al-Jami’ah UIN Raden Intan)

Sikap Menghadapi Corona

Previous article

Imam Ibnu Hajar Al Asqalani dan Social Distancing

Next article

You may also like

2 Comments

  1. Aku udah baca sampai slesai dong😁

    1. Terima kasih, ditunggu tulisannya ya

Tinggalkan Komentar

More in Opini