(Ilustrasi: Freepik.com)

Demi mencegah persebaran pandemi Corona, saat ini pemerintah gencar berkampanye kepada masyarakat agar melakukan social distancing (menjaga jarak) dan sebisa mungkin menghindari kerumunan. Sebagai bentuk dukungan, MUI baru-baru ini juga mengeluarkan fatwa agar umat Islam melakukan jamaah shalat fardlu di rumah saja, termasuk shalat jumat agar diganti shalat dhuhur di rumah. Begitu pula, NU, Muhammadiyah, dan ormas lain tidak ketinggalan menyampaikan himbauan kepada warganya agar kegiatan-kegiatan keagamaan untuk sementara ditunda dulu, untuk mencegah penyebaran covid-19.

Namun demikian, himbauan dari berbagai pihak itu ternyata tidak banyak diindahkan. Dengan alasan tawakkal, sebagian umat Islam tetap ngeyel dan maksa untuk menjalankan kegiatan keagamaan seperti biasanya. Malah ada yang sengaja mengumpulkan massa untuk acara doa bersama menangkal Corona. Tampaknya mereka belum sepenuhnay sadar, yang namanya wabah itu efeknya tidak individual, tapi massal. Matinya seseorang akibat wabah bukanlah akhir, tapi justru menjadi awaljalan pintas bagi kematian orang lain.

Persoalan wabah dan kebebalan orang-orang dalam menghadapinya sebenarnya bukanlah cerita baru. Dari dulu hingga sekarang, kebebalan orang seringkali menjadi problem dalam penanggulangan wabah. Al-Hafidz ibn Hajar al-Asqalani (w. 852 Hijriyah) merekam beberapa cerita tentang wabah dalam sejarah Islam dalam karyanya berjudul “Badzl al-Ma’un fi Fadl al-Tha’un”. Kitab ini memuat persoalan wabah mulai dari permulaan, cara antisipasi, hingga hal-hal yang dianjurkan menurut ajaran Islam. Selain al-Qur’an, hadits dan qaul sahabat, dalam kitabnya ini, imam ibn hajar juga membeberkan beberapa kisah tentang wabah dalam lintasan sejarah.

Dalam kitabtersebut, ulama ahli hadits inimenyinggung tentang wabah besar yang pernah menyerang Damaskus pada tahun 764 hijriyyah. Menukil dari al-Manbiji, saat terjadinya wabah, orang-orang berinisiatif untuk menggelar doa bersama di sebuah tempat lapang. Sebenarnya Kegiatan ini mendapat penolakan dari al-Manbiji sendiri, tetapi ritual doa bersama tetap digelar. Apa yang terjadiselanjutnya? Akibat kebebalan sebagian orang itu, penyebaran wabah pun semakin meluas dan parah. Padahalsebelum acara, penyebaran wabah masih tergolong ringan.

Ibn Hajar menyebut bahwa peristiwa doa bersama di Damaskus ini adalah yang pertama dalam sejarah Islam. Sebelum itu, Ia belum pernah menemukan data sejarah tentanggelar doa bersama untuk tolak wabah. Karena itu, beliau dengan tegas menolak kegiatan kumpul-kumpul untuk doa bersama menangkal wabah. Selain dapat menimbulkan madlarat yang lebih besar, menurutnya ritual semacam ini tidak pernah diajarkan dalam Islam. Seandainya saja ritual itu disyariatkan, tentu ia akan menjumpai para sahabat, tabi’in, atau ulama melakukan itu. Tetapi nyatanya tidak ada. Ibn Hajar juga tidak menemukan prosedur atau doa-doa tertentu dalam ajaran islam yang dikhususkan untuk acara doa bersama tolak wabah tersebut.

Semasa hidupnya, Imam Ibn hajarsendiri rupanya juga pernah berhadapan dengan wabah. Ia menceritakan, pertama kali munculnya wabah di Kairo pada tanggal 27 rabiul akhir 833 hijriyah, tercatat penderita yang meninggal dunia hanya di bawah angka 40-an. Tetapi pada tanggal 4 Jumadil Ula, orang-orang malah berbondong-bondong keluar rumah menuju tanah lapang untuk menggelar doa bersama.

Mereka mencoba menyikapi wabah itudengan cara-cara yang dilakukan dalam kondisi kekeringan (Istisqa’), yaitu dengan puasa 3 hari dan ditutup dengan doa bersama di tempat lapang. Tetapi belum sampai sebulan pasca doa bersama, korban mati karena wabah terus meningkat. Imam Ibn hajar mencatat korban meninggal dunia setiap hari rata-rata mencapai seribu orang, bahkan terus bertambah. Akibat wabah itu pula, ia kehilangan tiga putrinya, yaitu Fatimah dan Aliyah di tahun 819 Hijriyah, serta Zain Khatun pada tahun 833 Hijriyah dalam keadaan hamil.

Imam ibn Hajar pun memutuskan untuk melakukan social distancing dengan berdiam diri rumah dan tidak melakukan kontak dengan orang lain. Tak terkecuali dengan Sultan al-Muayyad, penguasa Kairo dari Dinasti Mamluk waktu itu (1412-1421 Masehi), meski ia memiliki hubungan khusus dengan sang Sultan. Dari kasus inilah imam ibn hajar tergerak untuk mengumpulkan hadits dan kisah-kisah tentang wabah dalam satu karya tulis agar menjadi pelajaran bagi generasi berikutnya.

Dari sini, umat Islam mestinya bisa mengikuti sikap para ulama terdahulu dalam menghadapi wabah, sebagaimana ditunjukkan Imam Ibn Hajar al-Asqalani. Setidaknya ada dua pelajaran penting yang bisa diambil. Pertama, selevelImam Ibn Hajar al-Asqalani yang bergelar al-Hafidz (penghafal 100.000 hadits beserta sanadnya) tentu tidak diragukan lagi kewaliannya. Akan tetapi ia tetap memegang erat prosedur kesehatan dengan tidak keluar rumah. Tentu beliau tetap tawakkal, tapi bukan tawakkal buta yang menjerumuskan dalam tindakan bodoh. Kedua, social distancing tidak serta merta menghambat produktifitas. Orang-orang kreatif selalu dapat mengambil kesempatan dalam keadaan apapun sebagaimana imam ibn hajar yang menghasilkan sebuah karya justru di tengah kondisi serba sulit.

Hingga hari ini, belum ada tanda-tanda virus corona akan segera minggat dari bumi Indonesia. Justru tren menunjukkan jika suspect corona semakin meningkat. Pengamat kesehatan mensinyalir bahwa wabah corona di Indonesia masih pada tahap muqaddimah, belum sampai setengah perjalanannya. Maka dalam kondisi seperti ini, mumpung belum terlanjur, siapapun harus mampu menahan syahwatnya dari godaan hal-hal yang tidak penting di luar rumah. Karena jika tidak, bukan tidak mungkin si Covid-19akan ikut merayakan “hari rayanya” di saat umat merayakan hari raya. Wallahu A’lam

Fathur Rohman
Dosen UNISNU Jepara, Alumnus Madrasah Qudsiyyah Kudus dan PP. Raudlatul Muta’allimin Kudus, S1 STAIN Kudus (2008), S2 UIN Sunan Ampel (2011), dan sekarang menempuh S3 UIN Sunan Ampel Surabaya, Gusdurian Jepara.

    Menyikapi Sinisisme Sosial

    Previous article

    Fiqih Female; Media Baru Dakwah Kitab Kuning

    Next article

    You may also like

    Comments

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini