Jika E. Kapp menyimpulkan bahwa Etika untuk Eudemus adalah otentik tulisan Aristoteles setelah melakukan perbandingan dengan tulisan Etika untuk Nicomakhus atau Nicomachea pada tahun 1912. Sebelumnya, pada tahun 1909, Von der Muhll menghasilkan kesimpulan yang sama dalam tulisannya yang berjudul “De Arist eth Eudem Auctoritate” yang terbit di Gottingen. Akan tetapi, Von der Mull dengan melalui penelitiannya mengulik benang merah antara naskah Etika untuk Eudemus dan naskah buku Politik karya Aristoteles dan buku-buku yang lainnya.

Adalah Spengel In, salah seorang ilmuan yang masih kekeh dengan pendapatnya bahwa naskah Etika untuk Eudemus bukanlah tulisan Aristoteles, melainkan tulisan Eudemus sendiri. Akan tetapi ini pendapat minoritas ilmuan. Sedangkan mayoritas ilmuan bersepakat dengan kesimpulan Von der Mull dan E. Kapp.

Pada tahun 1851, Fritzche menerbitkan Naskah Etika untuk Eudemus dan beredar di Jerman. Pada tahun 1884 terbit versi terjemahan Bahasa Jerman dengan judul “Eudemi Rhodii Ethica, By Aristoteles” oleh Franz Susemihl.

Sedangkan Etika untuk Nocomachea atau Etica Nicomachea banyak dikaji, diberi komentar, diberi penjelasan, disunting, dan diterjemah ke Bahasa dunia oleh para ilmuan, seperti Jerman, Inggris, dan Perancis. Di antara ilmuan yang konsen pada Etica Nicomachea yaitu Grant dengan tulisannya “The Ethics of Aristotle” yang terbit di London secara berkala pada tahun 1857 dan 1884, J.A. Stewart dengan tulisannya “Notes on the Nicomachean Ethics of Aristotle” di Oxford pada tahun 1892, J. Burnet dengan tulisannya “The Ethics of Aristotle” di Londok pada tahun 1900, dan ilmuan yang lain.

Menurut Werner Jaeger dalam tulisannya “Aristoteles Grundlegung einet Geschichte seiner Entwicklung” (Berlin: 1923) menyatakan bahwa pemikiran Aristoteles mengalami dinamika dan perubahan ke dalam tiga tahap.

Baca Juga:  Ketika Mereka Mempertanyakan Akhlak Penghafal Al-Qur’an

Tahap Pertama, pemikiran Aristoteles masih terpengaruh oleh pemikiran-pemikiran gurunya, yaitu Plato. Pemikiran Aristoteles muda masih sering taklid kepada pemikiran Plato. Seperti soal metafisika dan konsep politik Aristoteles cukup terlihat nuansa pengaruh pemikiran Plato. Kita mengenal buku Republika karya Plato, yang diterjemah ke Bahasa Arab dengan judul Jumhuriyat Aflathun, adalah pemikiran politik Plato yang sangat berpengaruh, bukan hanya kepada Aristoteles saja, akan tetapi hampir semua filsuf Yunani pun terpengaruh.

Tahap kedua, pemikiran Aristoteles yang mencoba move on dari pengaruh pemikiran gurunya, yakni Plato. Ia berusaha melakukan kolaborasi, elaborasi, dan merevisi pemikiran lamanya serta mencoba merumuskan pemikirannya sendiri. Akan tetapi pada tahap ini masih bercampur antara pengaruh gurunya dan pemikirannya sendiri. Pada tahap ini, Aristoteles menulis naskah Etica untuk Eudemus. Konsep etika dalam naskah ini merupakan pemikiran etika Aristoteles yang mencoba pertama kalinya move on dari pengaruh gurunya, meski masih belum bisa murni dan masih tercampur secara kolaboratif.

Tahap ketiga, pemikiran Aristoteles yang sudah murni, otentik, dan benar-benar move on dari pengaruh gurunya, yakni Plato. Pada tahap ini, tahap kematangan pemikirannya, di mana Aristoteles sudah memasak pemikirannya sendiri (meminjam bahasanya Romo Yai Ulil Abshar Abdalla). Tahap ini terdapat dalam Etica Nicomachea. Sehingga pemikiran atau filsafat etika murni Aristoteles ada pada Etica Nicomachea.[AH].

 

Mukti Ali Qusyairi
Alumnus Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir dan Santri Alumni PP Lirboyo Kediri

    Rekomendasi

    air wudu
    Opini

    Keistimewaan Air Wudu

    Berwudu adalah syarat wajib bagi setiap muslim sebelum melaksanakan shalat. Berwudhu berarti mensucikan ...

    1 Comment

    1. […] dibilang, bahwa sejatinya pandangan Aristoteles tentang etika telah disampaikan secara oral kepada publik Yunani. Sedangkan catatan atas apa yang disampaikan ada […]

    Tinggalkan Komentar

    More in Manuskrip