neoplatonisme

Saya kemudian membacanya halaman demi halaman secara acak dan tertatih-tatih buku tebal berhalaman 532 itu. Dan saya menemukan kerumitan-kerumitan yang tajam, mendalam dan meluas. Meski Harry, filsuf muda itu, telah menerjemahkan secara baik dan berusaha membuat pembacanya mengerti, tetapi ia masih tetap saja menyisakan kerumitan-kerumitan tersendiri. Kata demi kata dirangkai dalam susunan yang demikian ketat dan ruwet, khas tulisan filsuf, seperti tak ingin meninggalkan gugatan-gugatan pembacanya. Pemula yang membaca karya ini tak pelak akan dibuat lelah berhari-hari.

Buku ini bicara tentang gagasan-gagasan filsafat Neoplatonisme secara luas, dan secara khusus bagaimana pikiran-pikiran Proclos, seorang penganut Neoplatonisme akhir terkemuka.

Sungguh-sungguh, buku ini sangat menarik. Ia menghadirkan pikiran-pikiran Proclos di tengah-tengah pikiran-pikiran penganut Neoplatonisme lain pada umumnya dengan seluruh dimensi pikiran filsafat yang saling terkait ; metafisika, etika, logika dan filsafat alam.

Dalam pikiran saya pembacaan atas pikiran-pikiran filsafat Neoplatonisme yang bicara tentang hakikat Tuhan/ketuhanan, alam semesta dan manusia, terus menciptakan kebingungan-kebingungan yang akut dan seperti tak akan pernah selesai. Ia begitu musykil. Pendekatan atasnya melalui logika rasional dan sains saja tidak selalu menemukan jawaban yang dapat memuaskan semua orang.

Sebagai orang yang bergumul dalam tradisi Islam dan boleh disebut “Ortodoks”, hal pertama yang terpikir oleh saya adalah bagaimana respon kaum muslimin terhadap gagasan-gagasan Neoplatonisme dan kemudian lebih khusus lagi Proclos?.

Saya mengenal hanya secuil saja tentang Neoplatonisme ini. Nama Proclos, penafsir besar Neoplatonisme akhir, juga begitu jarang ditemukan dalam khazanah intelektual Arab-Islam. Neoplatonisme adalah ajaran-ajaran Plato yang diperbarui. Pendirinya adalah Plotinos (lahir tahun 270 M), seorang mistikus dari Timur. Lahir di Lykopolis, Alexandria, Mesir dari orang tuanya yang berasal dari Yunani. Plotinus pernah mengembara ke Persia dan belajar Spiritualisme Persia dan India. Ia menyerap begitu banyak ajaran-ajaran spiritual Timur ini. Pikiran-pikiran filsafat Plotinus dengan begitu di samping dipengaruhi oleh pemikiran filsafat Yunani dengan pendekatan rasionalismenya, juga filsafat timur dengan pendekatan intuitif dan mistisnya. Neoplatonisme dengan demikian pula merupakan pembaruan atas Platonisme yang di dalamnya terdapat pengaruh dari unsur-unsur beragam; filsafat Plato, Aristoteles, Stoa, dan tradisi-tradisi agama timur yang sarat mistis (gnostik). Ia berusaha mengharmonisasi dua filsuf terbesar: Platon dan Aristoteles.

Baca Juga:  Hunain Ibn Ishaq, Penerjemah Islam tapi Nasrani

Salah satu pandangan Plotinos, sebagaimana dikemukakan buku ini, ialah konsepsinya tentang The One, atau To Hen, Tuhan yang Esa. Ini gagasan utama para pemikir filsafat Platonisme. Dalam merumuskan filsafatnya, Plotinos mendasarkan diri atas konsep Metafisika Platon dan mistisisme Timur. Sistem metafisika Plotinos ditandai oleh prinsip transenden. The One (Yang Esa) dalam pandangannya adalah Realitas yang tidak mungkin difahami melalui pendekatan inderawi dan logika. Ia berada di luar eksisitensi dan di luar segala nilai yang ada. Keber-Ada-annya bersifat transenden. Ia tak dapat dijangkau dengan akal-intelek, melainkan dengan simbol-simbol dalam semesta raya dan pengalaman diri.

Neoplatonisme paling tidak memperkenalkan tiga Realitas: The One, The Mind dan The Soul. Ketiganya saling berhubungan. Tetapi The One adalah yang mendasari semuanya. Yang Esa merupakan prinsip yang sungguh-sungguh sempurna. Ia mengatasi segala “maujudat”, entitas-entitas. Dengan mengatakan bahwa Yang Esa adalah Maha Sempurna, Yang Tak Terbatas (Allanihayah), maka Dia tidak memuat karakter positif, karena karakter ini akan membuat Dia berhingga (nihayah) dan terbatas. Dengan begitu maka memahami Yang Esa Yang Maha Sempurna tersebut hanya dapat dipahami melalui pendekatan negatif. Yakni bahwa Yang Esa itu Ada tetapi tidak dapat didefiniskan dengan cara apapun. Tidak ada bahasa manusia yang bisa merumuskannya. Bagi Proclos “Yang Esa bukan sebatas abstraksi metafisis yang berada nun jauh di sana melampaui dunia kita yang berserakan, tetapi juga hadir dalam setiap peristiwa dalam kehidupan kita”. “Yang Esa meresap ke dalam segala sesuatu dan tidak akan ada yang tidak terisi resapan tersebut”. [HW]

Bersambung

Husein Muhammad
Dr (HC) Kajian Tafsir Gender dari UIN Walisongo Semarang, Pengasuh PP Darut Tauhid Arjowinangun Cirebon, Pendiri Yayasan Fahmina Institute

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini