Mimpi Rumah

Bulan dzulhijah adalah bulan buwuhan, banyak sekali undangan nikahan yang bertebaran di bulan ini. Meskipun banyak yang mengeluh karenanya, namun saya pribadi memilih untuk menikmati saja. Karena memang pernikahan adalah salah satu hal yang sangat membahagiakan bagi seorang manusia. Saya belajar untuk ikut bahagia dengan kebahagiaan lain orang.

Bila kebetulan menghadiri resepsi pernikahan bareng dengan bapak, dan beliau diminta mengisi mauidzah, maka saya tak pernah lupa untuk mencatat pesan-pesan beliau kepada kedua mempelai. Dan salah satu pesan beliau adalah tentang rumah.

Bapak mengutip sebuah hadis yang saya terjemah-bebaskan: “empat hal yang akan menyempurnakan kebahagiaan seseorang: yaitu wanita sholihah, tempat tinggal yang luas, tetangga yang baik, dan kendaraan yang nyaman“. Dalam hadis ini jelas diterangkan bahwa rumah yang luas adalah salah satu penyempurna kebahagiaan hidup kita didunia.

Namun sebelum mendapatkan rumah yang luas, kita harus tahu proses panjang mewujudkannya. Bahkan untuk sekedar bermimpi pun, kita harus memupuknya sejak dini.

Saya pernah menulis beberapa tahun yang lalu, bagaimana bapak mencoba untuk merayu tuhan agar ditempatkan didaerah terbaik, dan terutama agar dimampukan untuk mempunyai tempat tinggal yang layak. Karena memang memandang keadaan bapak yang tumbuh dalam keluarga yang sangat sederhana, maka beliau merasa harus mengusahakan doa yang terbaik sejak dini, demi memperbaiki nasib dimasa depan. Salah satu usaha beliau adalah dengan mewiridkan doa sejak di pondok dulu. Doanya yaitu:

رَبِّي اَنْزِلْنِي مُنْزَلََا مُبَارَكََا وَاَنْتَ خَيْرُ الْمُنْزِلِيْن

Saya pernah bertanya, dibaca berapa kali doa niku pak? Beliau menjawab: “sak akeh-akeh e, pokok sopo ae seng pengen dipanggonke panggonan seng barokah, utowo ben ndang diparingi omah, kon moco dungo iki setiap bakda sholat fardlu. Sak akeh-akehe (doa ini dibaca sebanyak mungkin yang dimampui. Pokok siapa saja yang ingin ditempatkan ditempat yang barokah, atau ingin segera diberikan rumah, maka sebaiknya dia membaca doa ini setiap bakda shalat fardhu. Sebanyak mungkin)”.

Baca Juga:  Mengapa Tuhan Tidak Menjauhkan Keburukan dari Kita?

Tak hanya mengajarkan tentang doa agar segera mempunyai rumah, bapak juga sering berpesan kepada kami tentang usaha dzohir untuk menujunya. Yaitu dengan sabar berproses setiap hari, sedikit demi sedikit. Bahkan hingga ke detail terkecil. Pesan bapak: “njenengan bendinten nyambut damel, gadah penghasilan sekedik damel maem, terus sisane dicelengi. Mangke lek celengane pun ngumpul lan cekap damel tumbas pasir, ditumbasaken pasir. Nyelengi maleh damel tumbas semen. Lek mpun gadah pasir kaleh semen, terus nyetak batako. Mangke lek pas nganggur-nganggur nyetak batako sekedik-sekedik. Angger dinten nyetak 20 nopo 30, mangke kan sebulan pun angsal lumayan. Mangke ajeg ngoten setahun, insyaallah cekap damel griyo niku. Mangke nabung maleh kalem-kalem, lak suwe-suwe iso nduwe omah meskipun geh sak wontene riyen (anda setiap hari bekerja, punya penghasilan sedikit untuk makan, dan sisanya ditabung. Nanti bila tabungannya cukup dibelikan pasir, belikan pasir. Kemudian nabung lagi untuk beli semen. Kalau sudah punya keduanya, kemudian mencetak sendiri batako. Ketika pas ada waktu luang, nyetak batako sedikit demi sedikit. Setiap hari nyetak 20 atau 30, nanti sebulan kan sudah dapat lumayan. Bisa ajeg begitu setahun saja, insyaallah cukup buat bikin rumah. Kemudian sabar menabung lagi, lama kelamaan pasti akan bisa punya rumah sendiri, meskipun seadanya dulu)”.

Pesan ini bukanlah omong kosong belaka, bapak berpesan seperti ini berdasarkan kisah pribadi. Dulunya, beliau pun berproses seperti itu. Meskipun tidak sama persis. Kalau tidak bisa mencetak batu bata atau batako sendiri, ya berarti membeli bahan bangunannya sedikit demi sedikit. Bapak sendiri tidak langsung punya rumah yang layak, beliau pernah bertempat tinggal dibangunan yang ukurannya 4*3 meter dan berdinding gedek atau anyaman bambu. Kemudian pindah kerumah warisan kakek yang lumayan pantas. Hingga akhirnya bisa menabung sedikit demi sedikit untuk membangun rumah yang baru.

Baca Juga:  Mentafakuri Pemadaman Listrik di Madura

Meskipun sudah mampu membangun rumah baru yang lebih luas, tapi tetap saja masih banyak kekurangan. Bahkan diceritakan, rumah yang baru dibangun ini pun butuh bertahun-tahun kemudian untuk sekedar menutupi jendelanya dengan jendela yang pantas. Sejak awal hingga bertahun-tahun kemudian, jendela rumah hanya ditutupi dengan bambu seadanya karena memang belum punya kemampuan untuk membeli yang pantas.

Bila sudah mempunyai rumah, kita harus sadar dan tahu tentang hakikat rumah.

Rumah bukan hanya tempat berlindung dari dingin malam,dan berteduh dari terik siang. Rumah adalah tempat dimana rindu selalu pulang. Juga tempat keluarga bertumbuh kembang. Maka sangat wajar bila banyak kiai yang berpesan untuk tidak lupa mengisi rumah dengan kegiatan keilmuan. Agar kelak anak-anaknya menjadi generasi penerus sesuai dengan yang diharapkan.

Bila ingin anaknya ahli kitab, maka harus ada kegiatan dirumah yang berhubungan dengan ngaji kitab. Bila ingin anaknya ahli Qur’an, maka dalam kesehariannya orang tua harus mencontohkan dengan adanya rutinan ngaji al-Qur’an didalam rumah tersebut. Pun bila ingin anaknya menjadi ahli dibidang lain, minimal sejak dini orang tua harus menanamkan keakraban dalam bidang tersebut di keseharian. Semua ini adalah cara kita mensyukuri nikmat rumah yang diberikan tuhan.

Semoga kita dimampukan membangun dan atau mempunyai tempat tinggal yang menjadi rumah sejati. Tak sekedar tempat melanjutkan hidup, tapi juga membangun kehidupan. []

#salamKWAGEAN

Muhammad Muslim Hanan
Santri Alumnus PIM Kajen dan PP Kwagean Kediri

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah