Tidak terasa kita sudah memasuki hari ke 22 Ramadan 1441 H. Sebelum Ramadan kita menanti-nanti bisa bertemu, dan bisa beribadah optimal, meraih rahmat dan magfirah-Nya. Tunaikan ibadah wajib dan sunah. Akibat Covid-19 belum reda, kita tidak bisa menunaikan salat jamaah salat wajib dan Tarawih di masjid. Bahkan tidak bisa iktikaf di masjid. Padahal kita ingin sekali menyempurnakan ibadah Ramadan 1441 H dengan penuh harapan bisa termasuk golongan orang-orang yang menang.

Kita telah lalui 10 hari pertama Ramadan dengan bekerja dan beribadah dengan sungguh-sungguh. Melakukan adaptasi dari tidak puasa menjadi puasa. Dari tidak ada salat Tarawih menjadi harus melakukan salat Tarawih. Dari tidak biasa tadarus menjadi tadarus. Dari suatu ibadah yang biasanya mendapatkan pahala satu kebaikan, berubah menjadi berlipat kebaikan dan sebagainya. Dengan pengorbanan dan perjuangan itu kita dianugerahi rahmat-Nya.

Selanjutnya 10 hari kedua Ramadan

Artinya, “Siapa yang menghidupkan bulan Ramadan (dengan puasa atau ibadah) dengan iman dan mengharap pahala dari Allah Swt. maka diampuni dosanya yang telah lalu, dan siapa yang menghidupkan (beribadah) malam lailatul qadar dengan iman dan mengharap pahala dari Allah subhanahu wata’ala maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari dan Muslim). Saatnya untuk perbanyak istigfar dan taubat kepada Allah swt. Walaupun istigfar dan taubat juga bisa dilakukan pada sebelumnya, bahkan juga setelahnya. Selain itu perbanyak zikir lainnya, karena dengan banyak berzikir akan mendatangkan banyak kebaikan. Dengan berzikir akan membikin jiwa tenang dan damai. Dengan kondisi yang demikian, semua tugas dan pekerjaan dapat dilakukan dengan fokus dan konsentrasi penuh, sehingga peluang keberhasilan tinggi. Aamiin.

Bagaimana dengan 10 hari terakhir Ramadan? Sepuluh hari yang ketiga adalah itqun minan nar (terbebas dari api neraka). Hal ini seiring dengan doa kita sehari-hari, “Rabbanaa aatina fiddun-ya hasanah wa fil aakhiroti hasanah waqinaa ‘adzaabannaar” yang berarti : “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”. Setelah kita mendapatkan rahmat dan magfirah, kita mohon surga tanpa harus melewati menghuni di neraka. Untuk itu kita perlu terus semakin tingkatkan komitmen untuk perbanyak ibadah. Sebagaimana Hadis Rasulullah saw, “Rasulullah saw. sangat giat beribadah di bulan Ramadan melebihi ibadahnya di bulan yang lain, dan pada sepuluh malam terakhirnya beliau lebih giat lagi melebihi hari lainnya”. (HR. Muslim). Di kesempatan yang lain, bahwa Rasulullah saw, di akhir Ramadan sebagaimana penjelasan hadis dari Aisyah radhiyallahu ‘anha berkata, “Kebiasaan Rasulullah Saw jika telah datang sepuluh hari terakhir bulan Ramadan adalah beliau menghidupkan waktu malam (dengan ibadah), membangunkan keluarga (istri-istrinya), bersungguh-sungguh dalam beribadah dan mengencangkan sarungnya”. (HR. Bukhari dan Muslim). Lebih spesifik lagi bahwa Rasulullah saw, memberikan penegasan dalam hadis, “Carilah malam lailatul qadar pada malam ganjil sepuluh hari terakhir bulan Ramadan”. (HR. Bukhari)

Baca Juga:  Keistimewaan Bulan Dzulhijjah

Mengingat 10 hari terakhir Ramadan merupakan waktu yang terbaik di antara sebulan Ramadan, mari kita manfaatkan untuk menyempurnakan ibadah Shiyam Ramadan 1441 H ini, dengan semakin khusyuk salat wajib berjamaah, Salat tarawih dan shalatul lail lainnya, membaca dan menghatamkan Al Quran, Iktikaf secara sungguh-sungguh dengan banyak zikir, baca al Quran, dan salat sunnat, membayar Zakat Fitrah, membayar Zakat Mal dan Sedekah lainnya, berusaha meraih Lailatul Qadar, dan banyak takbir di malam Idul Fitri. Semoga dengan ibadah yang sungguh-sungguh pada akhirnya kita bisa meraih hasil yang terbaik. Kembali ke suci (idul fitri), masuk golongan orang-orang yang menang (minal faaiziin), dan diterima semua amal ibadah (al maqbuuliin)

Walaupun dengan adanya hambatan yang berarti Pandemi Covid-19, yang hanya terjadi sekali dalam seabad, melanda semua rakyat sedunia, terutama di wilayah Indonesia pada hari Kamis, 14 tercatat ada 16.006 kasus positif virus Corona, 3.518 orang sembuh dan 1.043 orang wafat. Di samping kita prihatin atas musibah itu, kita alhamdulillah masih bisa tunaikan puasa Ramadan dengan baik. Tentu ada sejumlah kekurangan, walau tidak berarti. Karena itu dengan kesempatan yang ada, kita fastabiqul khairat dengan optimalkan ibadah kita selama sisa waktu ini. Termasuk juga upaya tingkatkan silaturahmi. Bisa dilakukan dengan online maupun offline. Yang penting kita terus waspada terhadap penyebaran. Bahkan tanda-tanda penurunan kasus secara berarti belum ada, kita kemungkinan besar melaksanakan ibadah Idul Fitri dengan melakukan penyesuaian diri untuk keselamatan.

Akhirnya, semoga dengan niat yang baik dan ikhlas kita bisa akhiri Ramadan dengan amal ibadah sesuai dengan kondisi masing-masing. Dengan harapan dapat menyempurnakan Ramadan. Ingat bahwa Allah swt tidak membebani kita melebihi dari kemampuan kita, “laa yukallifulloohu nafsan Illaa wus’ahaa”. Semoga Allah swt selalu meridai setiap ikhtiar kita. Aamiin. [HW]

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah