BeritaOpini

Mengungkap Rahasia Bulan Muharram, Ini Keistimewaannya

Rasulullah Saw bersabda: “Sesungguhnya setiap perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena menginginkan kehidupan yang layak di dunia atau karena wanita yang ingin dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan”. (HR. Bukhari)

Kehadiran bulan Muharram memotivasi perilaku ummat Islam di seluruh dunia. Ada sejumlah makna dengan hadirnya bulan Muharram. Sebagai ummat Islam kiranya perlu sekali menyegarkan kembali mengetahui rahasia bulan Muharram. Dengan mengetahuinya diharapkan kita bisa mengisi bulan Muharram dengan baik dan produktif.

Muharram berasal dari kata haram yang artinya suci atau terlarang. Seperti juga sering kita ikuti sebutan Haramain, dua tempat yang disucikan dan dilarang oleh Allah, misal berbuat maksiat, pembunuhan atau lainnya, yaitu Makkah dan Madinah. Dinamakan Muharram, karena sejak zaman dulu, pada bulan ini dilarang berperang dan membunuh. Larangan itu terus berlaku hingga masa Islam.

Muharram adalah salah satu dari 12 bulan dalam kalender Islam. Sebagaimana Allah berfirman, “Sesungguhnya bilangan bulan pada sisi Allah adalah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram. Itulah agama yang lurus, maka janganlah kamu menganiaya diri kamu dalam bulan yang empat itu…” (At-Taubah: 36). Yang secara detil empat bulan itu disebutkan oleh Rasulullah Saw dalam sabdanya bahwa “Waktu berputar sebagaimana keadaannya semula ketika Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun itu ada dua belas bulan. Di antaranya ada empat bulan suci. Tiga bulan berturut-turut yaitu Dzulqa’dah, Dzulhijjah dan Muharram. Dan satu bulan lagi adalah Rajab yang terletak antara Jumadil Akhir dan Sya’ban.” (HR Muslim).

Baca Juga:  Keistimewaan Bulan Dzulqa'dah

Nama bulan Muharram dan penanggalannya ternyata secara historis telah digunakan sejak manusia pertama di dunia, berdasarkan Kitab Nazaatul Majalis Wa Muntakhobun Mawaidz karya Syaikh Abdurahman Al-Sofuri dan Kitab Al-Nawadzir karya Syaikh Sihabuddin bin Salamah Al-Qolyubi, yang dijelaskan oleh KH Jamal (Syarif Abdurahman, 2019), bahwa pada 10 Muharam telah terjadi 12 peristiwa penting, yaitu:

Pertama, Nabi Adam ‘alaihis salam bertaubat kepada Allah dari dan diterima taubatnya.

Kedua, Allah mengangkat Nabi Idris ‘alaihis salam ke langit

Ketiga, Berlabuhnya kapal Nabi Nuh ‘alaihis salam di bukit Zuhdi setelah banjir dahsyat yang menenggelamkan mayoritas penduduk bumi saat itu.

Empat, Selamatnya Nabi Ibrahim ‘alaihis salam dari siksaan api Raja Namrud.

Kelima, Allah mengampuni Nabi Daud ‘alaihis salam.

Keenam, Allah mengembalikan kerajaan Nabi Sulaiman. Di mana pada saat itu, Nabi Sulaiman ‘alaihis salam pernah kehilangan kerajaannya.

Ketujuh, Disembuhkannya Nabi Ayyub ‘alaihis salam dari penyakitnya.

Kedelapan, Keluarnya Nabi Yunus ‘alaihis salam dari perut ikan dengan selamat.

Kesembilan, Dikembalikannya penglihatan Nabi Ya’qub ‘alaihis salam.

Kesepuluh, Dibebaskannya Nabi Yusuf ‘alaihis salam dari penjara Mesir.

Kesebelas, Selamatnya Nabi Musa ‘alaihis salam dan umatnya dari pengejaran Fir’aun di Laut Merah.

Kedua belas,  Lahirnya Nabi Isa serta naiknya ke langit.

Dalam bulan Muharram ada sejumlah amalan sunnah, di antaranya:

Pertama, Puasa Sunnah di bulan Muharram, sebagaimana Sabda Rasulullah Saw, yaitu : “Puasa yang paling utama setelah puasa Ramadhan adalah (berpuasa) di bulan Allah, Muharam”. (HR. Muslim).

Kedua, berpuasa A’syura, sebagaimana Sabda Rasulullah saw, yaitu :”Rasulullah ditanya mengenai puasa asyura, beliau menjawab, “ia bisa menghapus dosa setahun yang lalu.” (HR. Muslim).

Ketiga, berpuasa Tasu’a, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang artinya, yaitu : “Apabila tahun depan (kita masih diberi umur panjang), kita akan berpuasa pada hari tasu’a (kesembilan).” (HR. As-Suyuthi; shahih).

Baca Juga:  Kisah dan Keutamaan Asyura

Keempat, menyantuni anak yatim, sebagaimana sabda Rasulullah saw yang artinya “Siapa yang mengusapkan tangannya pada kepala anak yatim, di hari Asyura’ (tanggal 10 Muharram), maka Allah akan mengangkat derajatnya, dengan setiap helai rambut yang diusap satu derajat. Saya dan orang yang menanggung hidup anak yatim seperti dua jari ini ketika di surga. Beliau berisyarat dengan jari telunjuk dan jari tengah, dan beliau memisahkannya sedikit.” (HR. Bukhari)

Kelima, membantu orang lain, sebagaimana sabda Rasulullah saw, yang artinya: “Barangsiapa memberi kelapangan bagi dirinya dan bagi keluarganya pada hari Asyura, maka Allah akan memberi kelapangan baginya sepanjang tahun itu” (HR. Baihaqi)

Penetapan kalender Hijriyah dilakukan pada zaman Khalifah Umar bin Khatab, yang menetapkan peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw dari Mekah ke Madinah, bukan berdasarkan hari lahir, hari pengangkatan kerasulan, dan hari kematian. Dalam konteks untuk kebaikan Islam dan umatnya, peristiwa hijrah memiliki banyak kebaikan.

Spirit Hijrah sebagai pilihan awal tahun Islam, karena peristiwa hijrah itu, umat Islam mengalami pergeseran dan peralihan status: dari umat yang lemah kepada umat yang kuat; dari perceraiberaian atau perpecahan kepada kesatuan negara; dari siksaan yang dihadapi mereka dalam mempertahankan agama kepada dakwah dengan hikmah dan penyebaran agama; dari ketakutan disertai dengan kesukaran kepada kekuatan dan pertolongan yang menenteramkan; dan dari kesamaran kepada keterang-benderangan

Bahwa dalam memuliakan dan memperingati tahun baru Hijriah harus memperhatikan hikmah atau pelajaran yang berharga dari peristiwa hijrahnya Nabi saw dan para sahabatnya, yang dapat disebutkan dalam delapan poin penting berikut ini:
1. Hijrah itu adalah perpindahan dari keadaan yang kurang mendukung dakwah kepada keadaan yang mendukung.
2. Hijrah itu adalah perpindahan dari kegelapan kepada kehidupan yang penuh kecerahan.
3. Hijrah itu adalah perjuangan untuk suatu tujuan yang mulia, karenanya memerlukan kesabaran dan pengorbanan.
4. Hijrah itu adalah ibadah, karenanya motivasi atau niat adalah untuk kebaikan dan kemaslahatan.
5. Hijrah itu harus untuk persatuan dan kesatuan, bukan perpecahan.
6. Hijrah itu adalah jalan untuk mencapai kemenangan.
7. Hijrah itu mendatangkan rezeki dan rahmat Allah.
8. Hijrah itu adalah teladan Nabi dan para sahabat yang mulia.

Baca Juga:  Agar Tak Lupa Niat Puasa Ramadan, Lakukan Hal Berikut

Walaupun banyak keutamaan dan keberkahan yang dapat dipetik dari momentum Muharram, namun pada prakteknya tidak selalu banyak yang bisa memperolehnya. Semuanya itu kembali kepada hati masing-masing. Hidup adalah as a matter of choice. Semoga kita termasuk golongan orang-orang yang menang, yang dengan bimbingan-Nya, bisa membuat keputusan hidup yang terbaik di hadapan Allah SWT. Saatnya kita berhijrah dari kehidupan kemarin dan hari ini menuju hari esuk yang lebih baik dan taat kepada-Nya. Aamiin.

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Berita