“Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (QS. Al-Hujurat: 13)

Pada dasarnya setiap individu itu berbeda, tidak ada yang benar-benar sama. Manusia itu unik antara yang satu dan lainnya berbeda, baik kondisi, masalah, kebutuhan maupun orientasinya. Karena perbedaan individu, maka tidak mudah dapat mengatasinya dengan satu cara. Terbukti banyak orang mempelakukan sama terhadap setiap individu, padahal setiap individu itu berbeda. Untuk bisa efektif dalam memperlakukan individu, maka sangat diperlukan strategi yang tepat dalam mengatasinya.

Perbedaan individu itu bisa terjadi dalam berbagai aspek, aspek fisik, bakat, intelligenti, sikap, emosi, kepribadian, prestasi, kemampuan motorik, jenis kelamin, suku, bangsa, agama, status sosial dan ekonomi dan sebagainya. Perbedaan ini juga bisa terjadi berdasarkan varian yang ada pada setiap aspek. Karena itulah wujud dan penampilan individu itu benar-benar unik. Bahkan bisa dikatakan bahwa setiap individu misteri, yang kadang-kadang sulit dibaca perilakunya.

Di satu sisi dengan keunikan individu, membuat kita dalam memahaminya mengalami kesulitan, karena takut keliru, sehingga tidak tepat memperlakukannya. Yang kadang-kadang perlakuan yang semacam ini bisa tidak menguntungkan. Di sisi lain dengan keunikan individu hakekatnya ada sifat yang sama (common trait), walau ada sedikit bedanya. Dalam kondisi ini sedikit memudahkan kita dalam menyikapi dan menghadapinya. Konsekuensinya dalam hal tertentu, kita bisa perlakukan secara kolektif.

Perbedaan individu itu muncul tidak bisa diabaikan dari berbagai faktor yang mempengaruhinya. Ingat bahwa individu itu tidak berada di alam hampa. Setidak-tidaknya ada sejumlah faktor yang menyebabkannya, di antaranya: keturunan (kemampuan mental dan fisik), lingkungan (keluarga, sekolah, masyarakat), asal suku/bangsa, perbedaan jenis kelamin, usia, kepribadian dan stabilitas emosi, status sosial-ekonomi, kematangan, dan media masa atau dunia digital. Diminasi faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan individu bersifat kontekstual. Tentu dinamika interaksi di antara aspek-aspek ini ikut memainkan peran yang penting juga terhadap perbedaan individu.

Baca Juga:  Mengapa Tidak Saling Menerima Saja?

Salah satu tujuan penting pendidikan modern adalah pengembangan individu secara utuh. Individu memiliki potensi berbeda, minat berbeda, kepribadian berbeda, problem berbeda dan tujuan berbeda. Perbedaan yang terjadi pada individu tidak bisa diabaikan. Semuanya harus diperhatikan oleh institusi pendidikan dengan membuat program pendidikan berbasis individu, kelompok, atau dan kelas dikaitkan dengan tantangan hebat di era kini dan mendatang.

Berbagai upaya yang bisa dilakukan oleh sekolah atau institusi pendidikan dalam menghadapi perbedaan individu di antaranya: (1) besaran kelas ukuran kelas, (2) pembagian kelas yang benar, (3) tugas rumah yang terkendali, (4) pertimbangan jenis kelamin, (5) adaptasi kurikulum, (6) metode pembelajaran, (7) layanan bimbingan dan konseling, dan (8) latihan terkait dengan ekstra kurikuler. Upaya-upaya ini dapat dipilih sesuai dengan kondisi dan kebutuhan.

Perbedaan individu seharusnya tidak dipandang sebagai potensi konflik. Juga tidak seharusnya dianggap sebagai penyebab konflik, baik pada tataran yang paling rendah individu versus individu. Apalagi pada tataran kelompok yang lebih besar, yang bisa sebabkan munculnya permusuhan dan peperangan. Untuk menghindari adanya permusuhan yang bisa timbulkan biaya sosial yang tinggi, maka perbedaan individu seharusnya dipandang secara proporsional dan sikap positif.

Perbedaan individu seharusnya lebih dipandang sebagai kekuatan atau kelebihan. Dengan begitu kita perlu melihat dari potensi yang ada, bukan kelemahannya. Karena itu sebagai orang dewasa atau pendidik perlu tunjukkan sikap husnudz-dzon dalam menghadapi perbedaan individu. Dengan husnudzdzon kita cenderung lebih meng-encourage individu daripada men-discourage. Dengan begitu perilaku kita lebih motivatif.

Akhirnya, bahwa perbedaan individu yang terjadi tidak perlu dipandang sebagai persoalan. Namun yang lebih baik bahwa perbedaan individu wajib dipandang sebagai rahmat. Dengan begitu kita perlu tunjukkan sikap respek, karena dengan respek, kita lebih mengedepankan menghargai martabat individu. Respek dengan saling mengenal dan saling membantu, karena antara yang kuat dan lemah harus saling melengkapi dan membantu. Bahwa antara suku dan bangsa adalah sama, tidak ada yang saling merendahkan. Hanya yang bertakwalah yang berhak ada di sisi-Nya. Ingat bahwa sikap kita baik terhadap ciptaan Allah SWT, berarti sikap baik kita kepada Penciptanya.

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Berita