Hikmah

Menemukan Sumber Kebahagiaan dalam Hidup

(Ilustrasi: Pixabay.com)

“Kaya (yang sebenarnya) bukan dengan banyaknya harta, tapi kaya yang sebenarnya adalah kaya hati.” (HR. Muttafaq Alaih)

Happiness belongs to the self-sufficient.”
– Aristotle.

“A religion is a source of happiness and I would not deprive anyone of happiness. But it is a comfort appropriate for the weak, not for the strong and you are strong. The great trouble with religion any religion is that the religionist, having accepted certain propositions by faith, cannot thereafter judge these propositions by evidence. One may bask at the warm fire of faith or choose to live in the bleak uncertainty of reason–but one cannot have both.”
– lRobert A. Heinlein.

Kebahagiaan merupakan sesuatu yang penting dalam hidup. Baik bahagia di dunia maupun bahagia di akhirat. Baik bahagia lahir maupun bahagia batin. Bahagia bisa diraih oleh siapapun tanpa mengenal statusnya. Begitu pentingnya setiap orang selalu belajar, bekerja dan berdoa kepada Tuhan untuk dapat meraih kebahagian.

Banyak orang berharap bisa hidup bahagia di sepanjang rentangan hidupnya. Namun yang terjadi bahwa bahagia yang diraih hanya di waktu kecil, waktu belajar, waktu bekerja, dan atau pensiun hingga wafatnya. Sedihnya ada ada yang tidak bisa rasakan bahagia selama hidupnya. Semoga nantinya tanpa mengenal status dan realitasnya selama hidupnya. Bisa temukan bahagia di akhirat.

Banyak yang berpikir bahwa dengan ilmu bisa meraih bahagia, karena dengan ilmu yang tinggi dapat memperoleh pekerjaan yang bisa membahagiakan. Dengan ilmu yang cukup bisa mengantarkan pergi ke seluruh pelosok dunia. Dengan berilmu bisa berkontribusi untuk membantu pemecahan masalah bangsa. Dengan ilmu bisa menempatkan diri bersama sama orang terhormat. Namun tidak sedikit orang yang berilmu tidak menemukan bahagia, karena menjadi sombong, ujub, dan takabur yang tidak mau mengakui kepandaian, kehebatan dan kebesaran Tuhan.

Baca Juga:  Bagaimana Berilmu yang Rendah Hati?

Banyak yang berpikir bahwa dengan harta bisa meraih bahagia, karena dengan harta, kita bisa makan, minum, berpakaian, bertempat tinggal, dan berkendaraan, yang terbaik dan ternyaman. Dengan harya, kita memiliki lebih banyak pilihan untuk mendapatkan jodoh untuk membangun keluarga yang ideal. Dengan harta kadang orang bisa serbu jabatan yang diinginkan. Dengan harya bisa shadaqh jariyah, infaq, dan menyantuni orang tak punya. Tapi apakah kebahagiaan itu otomatis bisa diraih oleh orang yang berharta , tidak. Karena orang yang berharta dengan menghalalkan secara cara, rakus terhadap harta, dan tidak pernah menikmati limpahan harta. Demikian juga orang berharta bisa orang menjadi kufur nikmat dan tidak pandai bersyukur. Akibatnya bahwa orang itu menjadi takabbur.

Banyak yang berpikir bahwa tahta bisa menjadikan orang itu mulia dan bahagia. Bahagia, karena memiliki banyak previlage yang tidak dimiliki banyak orang. Bahagia, karena bisa terhormat dan berkuasa menentukan nasib banyak orang. Bahagia, karena menjadi pusat perhatian banyak orang. Namun tidak bisa dipungkiiri bahwa justru tahta bisa menimbulkan banyak kesusahan, karena keterbatasan kapasitas, tidak bisa menjaga amanah, banyaknya intervensi dari pimpinan yang lebih tinggi.

Banyak yang berpikir bahwa orang yang ahli solat dan ibadah bisa bahagia karena selalu terjaga hidupnya oleh Allah SWT dan sangat potensial mampu menjadikannya sebagai ahli syurga. Apalagi juga bisa menjadi teladan keluarga dan orang-orang terdekat serta masyarakat lainnya. Bahkan bisa mendapatkan maqam yang lebih terpuji dan lebih terhomat di mata Allah SWT.

Namun pada kenyataannya, bahwa orang yang ahli sholat bisa juga menjadi kurang terhormat, karena mereka tidak bisa menjaga waktu sholat dan sering melaikan sholatnya, serta suka memamerkannya. Ketulusan dan keikhlasan hati dalam beramal dan beribadah merupakan sesuatu yang berarti dalam menggaet hidup bahagia.

Baca Juga:  Arti Kebahagiaan Hakiki Menurut Raden Sosrokartono

Dengan menyadari itu semua, maka kita semakin bisa meyakini bahwa letak kebahagiaan itu setidak-tidaknya berada dan bersumber di tiga hal, yaitu pada pikiran, hati, dan agama. Bagaimana memaknai ilmu, harta, tahta, dan sholat, karena dengan memahaminya secara benar, kehormatan kita akan terjaga dan membaik yang bisa menghadirkan kebahagiaan yang hakiki yang diridloi oleh Allah SWT. Sebaliknya jika kita salah memahami dan salah menyikapi sehingga tidak sesuai dengan pikiran, hati dan agama kita, maka kerugian dan kesusahan yang kita dapatkan.

Prof. Dr. Rochmat Wahab, M.Pd., M.A.
Beliau adalah Guru Besar dalam Bidang Ilmu Pendidikan Anak Berbakat pada Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Yogyakarta. Ia menjabat Rektor Universitas Negeri Yogyakarta untuk periode 2009-2017, Ketua III Ikatan Sarjana Pendidikan Indonesia (ISPI) masa bakti 2014-2019, Ketua Umum Asosiasi Profesi Pendidikan Khusus Indonesia (APPKhI) periode 2011-2016, dan Ketua Tanfidliyah Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama DIY masa bakti 2011-2016

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah