Menelaah Kemanusiaan serta kaitannya dengan Beragama

Dari sekian banyak perspektif, kenapa banyak manusia yang sering menggunakan perspektif buruknya? Jika manusia hanya dipandang dari satu sisi, maka hidup ini takkan berwarna sama sekali, kehidupan ini tidak akan pernah menuai kemesraan. Dan pada tataran yang lebih dalam, kita akan kehilangan inti dari beragama yang sebenarnya.

Padahal di awal terutusnya nabi saw, ada satu pemuda yang bertanya ‘kenapa kamu diutus ke dunia wahai rasul?’ jawaban nabi saw cukup sederhana -rumit di praktekkan- “saya diutus untuk menyambung tali silaturrahim, melindungi darah manusia, membuat aman orang-orang di jalan”.- Jika menggunakan istilah Habib Ali (الأمان المجتمعى), (تامين الحياة), (الأمن العام)-, sebenarnya setelah nabi saw menyebut tiga point itu, beliau melanjutkan (تكسير الأوثان و عبادة الله وحده) yang mana kedua ini adalah titik sublim dari manusia yang telah menggapai semua tuntunan dengan benar. Namun pertanyaannya kenapa nabi saw harus mengakhirkan dua point Tauhid penting dari tiga tersebut? Habib Ali menjawab dengan memaparkan bahwa ketiga point tersebut adalah pemicu seseorang agar dapat merasakan dan menjiwai imannya, karena jika kita andaikan dalam suatu lapisan masyarakat masih saja ada permusuhan, ketidakadilan, kesewenang-wenagan, maka pasti ‘hati kita’, sebagai sebuah tempat paling mendasar akan kehilangan kestabilanya, impilaksinya bisa jadi, kita beragama karena terpaksa, atau bahkan sebaliknya, yang padahal asas beragama adalah لاإكراه فى الدين. Maka dengan ini, Langkah pertama setidaknya bisa perlahan-lahan membumikan potret ajaran nabi saw, berawal dari ketiga point tadi, sampai akhirnya di titik paling tinggi “Tauhid”.

Tidak berhenti di situ, Ibn muqoffa’ seorang yang dulunya majusi menulis satu buku yang sangat apik, bertajuk ‘الأداب الصغير’. Dalam salah satu isinya beliau menyebutkan

Baca Juga:  Kupasan Ilmiah; Agama dan Kebertuhanan Manusia

على العاقل ان يتفقد محاسن الناس ويحفظها على نفسه

“Seorang yang berakal sehat pasti akan berusaha mencari sisi terbaik dari setiap insan, lalu menirunya”.

Redaksi ini berhasil menampar manusia yang sering memandang liyan dengan perspektif buruk, selalu yang dicari kesalahannya, aib-aibnya diumbar, bahkan mengungkit kesalahan di masa lalunya. Bukanya kita harus sadar?, ibn muqoffa’ jauh-jauh hari seseorang yang hidup di zaman Abbasiyyah, sudah mewanti-wanti agar, terhadap manusia lebih berbaik sangka, mengambil kebaikannya, menirunya, bahkan itu intinya. Agar sesama manusia saling menebar dan mencerminkan kebaikan yang ada.

Lantas fakta manusia diciptakan hanya untuk beribadah adalah benar. Namun fakta ketidaktahuan kita serta melupakan terhadap tujuan ibadah pun benar. Seperti solat, agar tegaknya Amar ma’ruf Nahi munkar. Berpuasa, agar manusia senantiasa bertaqwa. Menunaikan zakat, agar mensucikan kepribadian manusia. Dan pada dasarnya kita diciptakn bukan sendirian, artinya kita punya tanggung jawab sosial yang diemban setiap insan. Untuk itu dari sekian Hadaf dari syariat tadi, D. Hamdi zaqzuq mengerucutkan inti dari syariat menjadi paling sedikit tiga dasar. “الرحمة” ini merupakan pengejawentahan dari kalam allah swt “وما أرسلناك الا رحمة للعلمين”. Yang kedua “إقامة العدل بين الناس دون استثناء حتى مع الاعداء” dan ini juga bersumber dari firman allah swt :ولايجرمنكم شنئان قوم على الا تعدلوا اعدلوا هو أقرب للتقوى”. Sedangkan yang ketiga “تأكيد المصلحة الحقيقية للناس فى دنياهم وأخراهم”. Maka sudah selayaknya ibadah kita harus selalu diselaraskan dengan tujuannya, bahkan lebih lanjut D. Hamdi zaqzuq menerangkan dalam bukunya “الفكر الدينى”, bahwa “ibadah” dalam ayat “وماخلقت الجن والإنس الا ليعبدون” lebih luas dari sekedar ibadah, namun setiap perbuatan yang dilandasi ridho allah swt dan membuat manfaat terhadap sesama serta menolak menyakiti manusia adalah tercakup dalam mahfum ibadah di ayat tersebut.

Baca Juga:  Islam Toleran dan Komitmen Kemanusiaan

Berarti menjadi manusia adalah memahami agama itu sendiri, artinya agama kita sudah mengeluarkan ajaran-ajaran yang sangat memanusiakan manusia, bahkan semua makhluk selainnya. Untuk itu, jika manusia yang beragama islam masih saja tidak benar dalam satu sisi, impilkasinya Cuma satu, dia belum memahami bagaimana menjadi manusia yang baik. []

Ahmad Reza Wibowo
Mahasiswa Universitas Al-Azhar Kairo, Mesir

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini