Mendidik Dengan Contoh

Dinihari, tak jarang bayi-bayi dari keluarga kami masih menangis. Bila ibuk sudah tidak mampu menidurkan kembali, maka biasanya bapak kami akan menggendongnya dan diajak keliling lingkungan pondok. Beliau menggendong kami, sambil membaca wirid ketika berjalan.

Pun ketika kami sakit atau rewel, bapak tak jarang mengajak kami ikut berjamaah ke Masjid. Kadang lanjut hingga waktu ngaji, kemudian kami dipangku beliau saat mbalah kitab. Seringkali ketiduran dipangkuan, atau kadang merengek minta diantarkan pulang kerumah dahulu ditengah-tengah pengajian belum selesai.

Ketika dirumah, ibuk tak ketinggalan juga ikut mengakrabkan kepada kami tentang amalan wirid dalam keseharian. Beliau seringkali momong kami disambi melanjutkan wiridan. Dan terutama setelah subuh, beliau akan membaca kumpulan wirid yang panjang dan lama. Dimana saat wirid bakda subuh ini, beliau tidak akan mau menimpali pembicaraan. Ketika ditanya apapun pasti langsung mengangsurkan tasbih yang ada ditangan. Sebagai isyarat kalau beliau masih belum selesai wiridan.

Tak hanya dirumah, ketika dalam perjalanan pun bapak dan ibuk selalu mencontohkan bagaimana beliau berdua berusaha teguh mengamalkan wirid yang sudah diistiqomahkan. Tak peduli seberapa jauh jarak, juga tidak peduli seberapa lama waktu perjalanan, beliau berdua selalu menjaga amalan meskipun didalam kendaraan.

Kami melihat dengan mata kepala kami disetiap kesempatan membersamai beliau berdua.

Saat waktu luang dirumah, bapak tak jarang masih memaknai kitab yang akan dibaca. Bila sudah penuh, maka bapak akan menambahi dengan harokat ataupun keterangan tambahan. Hingga kitab beliau benar-benar penuh, dan jadi. Hingga akhirnya nanti menjadi kitab yang siap dibaca oleh siapapun dan kapanpun.

Tak hanya untuk beliau, saat anak-anaknya yang sudah mulai mondok pun, bapak meluangkan waktunya untuk mengajar ngaji privat bagi anak-anaknya yang sedang liburan pondok. Dan ini juga yang membuat saya dulu malas liburan dirumah, seringkali dirumah sehari, lalu pamit liburan ke Kota lain. Hehehe

Baca Juga:  Menghafal Versus Menalar (3)

Namun semua contoh ini adalah cara orang tua kami mendidik. Beliau berdua mengajar kami dengan cara mencontohkan dan mengenalkan dalam keseharian. Karena sudah terbiasa sejak kecil diajak jamaah ke masjid, dan ikut ngaji bapak. Secara tidak sadar kami semua akhirnya akrab, dan minimal tidak alergi dengan yang namanya ngaji. Juga, sepengetahuan saya, alhamdulillah kami semua sedikit banyak pasti mau mengamalkan wirid. Meskipun tidak sebanyak dan seistiqomah bapak ibuk kami.

Pendidikan yang dimasukkan dalam keseharian, juga dicontohkan oleh pendidik, adalah metode pendidikan yang menurut saya sangat efektif. Bahkan mungkin salah satu yang paling efektif.

Sebagaimana akrab dengan ngaji dan wiridan, ketika saya di Kajen pun banyak terpengaruh oleh yai saya, Allahu yarham Yai Sahal tentang budaya membaca. Saya tumbuh dan belajar mendewasa dengan segala cerita juga kenyataan didepan mata, tentang beliau Yai Sahal yang sangat hobi membaca. Dan tentu saja, menulis. Hampir disetiap kesempatan saya memandang beliau, pasti disekitar beliau ada bahan bacaan. Entah itu kitab, buku, koran, ataupun majalah. Dan tidak hanya ada tersedia, namun hampir selalu sedang beliau baca.

Saya sering mencuri pandang dan dengar dari asisten beliau, ketika akan tindak, salah satu barang bawaan yang wajib ada disamping kursi beliau adalah bahan bacaan ini.

Menilik usia juga kesibukan beliau saat itu ( saya mondok di Kajen mulai tahun 1999, tahun dimana beliau mulai diangkat menjadi rais aam PBNU), saya sangat kagum dengan kebiasaan membaca juga menulis beliau. Sekaligus menumbuhkan sifat malu dihati saya: ” beliau yang sudah sepuh, dan sangat sibuk saja masih selalu meluangkan waktu untuk membaca. Mosok saya yang bukan siapa-siapa, dan tidak punya kegiatan apa-apa tidak membaca?,”. Akhirnya saya sedikit demi sedikit belajar membiasakan diri untuk meluangkan waktu membaca. Dan alhamdulillah masih terjaga hingga saat ini. Meskipun lama waktu dan jumlah yang dibaca sangat sedikit, dan jauh dari beliau, tapi minimal sudah ada kebiasaan dalam diri saya untuk tidak pernah meninggalkan membaca apa saja setiap hari.

Baca Juga:  Dari Nahwu Ilmi ke Nahwu Ta'limi

Saya selalu menuntut diri untuk membaca beberapa halaman buku, ataupun koran setiap harinya. Atau membaca apapun, pokok harus ada pengetahuan baru yang saya dapatkan setiap hari. Meskipun sangat sedikit.

Pun ketika saya pindah mondok ke Malang, saya pernah melihat dan mendengar cerita dari para sopir yang pernah nderekne Allahu Yarham Yai musta’in; tentang bagaimana beliau selalu menyempatkan nderes hafalan Al-Quran disetiap kesempatan. Bahkan ketika bepergian, beliau selalu membawa quran dan atau kitab dalail sebagai teman perjalanan. Tak hanya membawa, tapi selalu dibaca ketika dalam perjalanan.

Tak hanya mencontohkan, beliau juga sering mengingatkan siapapun santri yang nderekne untuk membawa quran. Dan dipesan: “nggowo quran, ko lek enek waktu longgar gae nderes( bawalah quran nak, nanti kalau ada waktu senggang gunakanlah untuk mendaras hafalan Al-Quran)”. Tidak hanya itu, beliau juga masih selalu menyempatkan waktu disetiap bulannya, dua atau tiga hari, untuk takhossus atau meluangkan waktu secara khusus di makam Sayyid Sulaiman Mojoagung, guna menjaga hafalan Quran beliau.

Bayangkan, beliau yang sudah menjadi kiai sepuh dan disepuhkan didaerah Malang. Juga sudah banyak santri yang mondok dirumah beliau, akan tetapi tidak malu dan malas untuk menyediakan waktu khusus guna menjaga hafalan Qurannya.

Saya malu betul, dan masih belum mampu meniru kebiasaan baik beliau hingga saat ini.

Masih banyak guru lain, juga laku lain yang dicontohkan oleh para guru saya. Belum mampu saya ceritakan semua, juga belum mampu saya tiru semua. Namun yang jelas, semua laku baik yang dikenalkan sekaligus contohkan oleh beliau semua, mampu menjadi materi pendidikan yang menempel dihati saya, murid beliau semua. Ada yang sudah mampu saya tiru lakukan sedikit, namun lebih banyak yang belum.

Baca Juga:  Bagaimana Puasa Kita Pasca-Ramadan?

Namun yang pasti, transfer pendidikan dengan cara ini sangat efektif bagi saya pribadi. Maka sudah selayaknya, bila saya ingin mentransfer ulang pendidikan baik dari para guru, minimal saya juga harus mengenalkan, sekaligus mencontohkan. Dengan harapan teman-teman belajar, dan atau keluarga kita akrab secara alamiah, dan lalu meniru secara naluriah.

Semoga kita mampu menjadi orang tua dan atau guru yang mampu memberi contoh dalam keseharian, dan tak lupa anak didik dilibatkan, agar mereka merekamnya dalam ingatan. Dan lalu begitulah, tanpa sadar kita telah membentuk karakter dengan perlahan. []

#salamKWAGEAN

Muhammad Muslim Hanan
Santri Alumnus PIM Kajen dan PP Kwagean Kediri

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Hikmah