Mendeteksi Penyimpangan dalam Tafsir

Sebagai kitab petunjuk bagi seluruh umat manusia, al-Qur’an menjadi kitab yang fleksibel. Setiap kata mengandung banyak makna sehingga al-Qur’an terus selaras dengan zaman. Dalam menafsirkan al-Qur’an, sering kali mufassir terjebak pada pra-pemahaman dan latar belakang ideologi yang dibangun. Mufassir tidak dapat melahirkan karya yang benar-benar mengarah dari apa yang dimaksud dari makna ayat tersebut. Ketika makna dari ayat tu tidak tepat sasaran, maka dampaknya adalah menjauh dari makna dan yang dituju dari ayat tersebut.

Situasi semakin rumit ketika ini banyak ditemukan di beberapa tafsir yang tidak dapat dipertanggungjawabkan keabsahannya. Banyak sekali motif yang melatar-belakanginya. Dalam menyuarakan kritik tafsir, fayed tidak hanya menyampaikan dalam bentuk tulisan saja, akan tetapi juga berbentuk forum kajian. Ia sangat geram dengan munculnya penafsiran sekterian yang sangat subjektif dan hanya berdasarkan kemauan ideologi mufassir, tanpa mengindahkan variabel penafsiran yang ada.(17)

Boleh dibilang, buku ini adalah buku pertama kritik tafsir berbahasa Indonesia yang ditulis oleh salah satu dosen terkemuka di Indonesia. Rekam jejaknya pun juga sangat menjanjikan dibidang kajian tafsir. Sehingga para pembaca tidak perlu khawatir terhadap karyanya.

Kritik tafsir adalah salah satu jabang ilmu yang membahas penyelewengan tafsir. Term ad-dakhil baru ditemukan di Al-Azhar pada tahun 1999 an. Sebelumnya, istilah ini menggunakan berbagai macam istilah dari manhaj naqd at-tafsir, isroiliyat wa al-maudhu’at hingga muncullah term ad-dakhil yang diusung oleh Abdullah Fayed. Singkatnya, buku ini merupakan gagasan abdulah Fayed, penulis mencoba menulis dan mengetengahkan gagasan yang diusung oleh Fayed beserta memberi catatan penting sebagai bahan pengayaan dan pendalaman.

Sebenarnya potensi terjadinya ad-dakhil telah muncul sebelum datangnya Islam. Pasalnya, jazirah arab sebagai tempat turnnya al-Qur’an ada sekelompok ahli kitab yang sebagian besar adalah kaum yahudi.(54) Mereka berhijrah dan masuk jazirah arab karena diyakini bahwa nabi akhir zaman akan lahir disana. Ini menjadi bagian pembuka penulis sebagai pengenalan bahwa cikal bakal terjadinya penyimpangan dalam tafsir.

Baca Juga:  Bangun Sebelum Subuh Adalah Ciri Orang yang Bertakwa: Tafsir Surah Ali Imran Ayat 16-17

Tafsir yang kita anggap suci selama ini tidak sepenuhnya putih. Ada banyak tafsir yang menyeleweng dengan berbagai kepentingan, ini nyata adanya. Penulis membahas perkembangan, motif dan bentuk dari kritik itu sendiri sebagai pembuka dalam buku ini. Terjadinya intraksi antar Nabi dan kaum yahudi (ahli kitab) atau kaum yahudi memeluk agama islam menjadi asal muasal israiliyat masuk ke ranah islam.

Disisi lain, faktor politik dan kekuasaan sangat memberi pengaruh terhadap ayat ayat tertentu. Perpindahan kekuasaan setelah khalifah Utsman bin Affan ke Ali bin Abi Thalib sangat nampak jelas, terjadi pemalsuan hadits dan sebagainya. Fanatik tokoh. Ini menjadi ruang kesempatan emas golongan yang tidak puas terhadap kepemimpinan khalifah dengan menyebar hadits palsu.

Dalam menafsiri al-Qur’an, sumber otentik adalah al-Qur’an itu sendiri. Setiap kata, ayat di dalamnya saling terhubung, saling melengapi. Kita tidak bisa mengambil satu ayat dan menafikan ayat lain demi kepentingan pribadi. Posisi kedua adalah hadits. Nabi sebagai sumber dari keduanya adalah orang yang paling paham terhadap ayat al-Qur’an. Para sahabat juga sangat berperan dalam perkembangan tafsir. Ada beberapa sahabat yang memang sangat paham betul terhadap ayat tertentu.

Banyak dari kalangan sahabat berbahagia terhadap surat tentang kemenangan islam. Namun, salah satu sahabat sedih karena ketika islam sudah sampai pada puncak kemenangannya, maka bisa dipastikan tugas nabi selesai dan sebentar lagi mereka akan berpisah dengan orang yang sangat mereka cintai. Ini menjadi bukti kuat jika para sahabat semisal bintang, seperti sabda nabi.

Perihal lain yakni perbedaan madzhab, fanatik madzhab. Perbedaan adalah suatu kepastian, manusia tidak bisa menghindarinya. Namun, munculnya beragam sekte dan madzhab menjadi bomerang bagi umat islam. Mereka tidak segan-segan menjadikan al-qur’an sebagai justifikasi terhadap ajaran mereka.(72)

Baca Juga:  Yuk Berdzikir

Tafsir sekterian yang subjektif mejadikan ad-dakhil tumbuh subur dan berkembang dalam islam. Padahal mufassir dituntut melihat ayat secara jujur dan objektif tanpa terbelenggu dengan dokter sekterian sehingga hasilnya benar-benar murni.

Penulis menempatkan prosedur, penerapan kritik tafsir dibagian akhir. Boleh mengkritik asal membangun dan benar. Kita tidak boleh mengkritik dengan membabi buta, tanpa aturan. Ada kode etik yang harus dilalui. Bagaimana kita menghadapi tafsir yang diselingi kisah israiliyat, tafsir fanatik madzab atau tokoh, maka semuanya ada dalam buku.

Buku ini layak sekali dibaca oleh para sarjana al-Qur’an agar lebih seksama lagi dalam memahami tafsir al-Qur’an. Tak selamanya tafsir itu benar, namun teks suci yang ditafsiri abadi dan selalu benar. Tafsir adalah out put dari olah pikir manusia yang berusaha memahaminya lebih dalam. Namun, ada beberapa tokoh yang menyelinap dan meinfiltrasi tafsir al-Qur’an demi berbagai kepentingan. []

 

Buku: Metode Kritik Ad-Dakhil Fi At-Tafsir

Penulis: Dr. Muhammad Ulinnuha

Penerbit: Qaf

Terbitan: Februari, 2019

ISBN: 978-602-5547-39-3

Musyfiqur Rozi
Alumnus Institut Ilmu Keislaman Annuqayah dan Santri Annuqayah Lubangsa Utara

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Pustaka