Mempertanyakan Kebenaran

Banyak orang sibuk merebutkan kebenaran, hingga ada yang merasa menjadi yang paling benar, bahkan ada yang merasa benar sendiri. Padahal kalau sudah berhasil merebut predikat benar, belum tentu kebenaran itu diimani oleh semua orang.

Seperti yang diterangkan oleh tafsir Al-Ibris pada surat Al-Baqarah ayat 16, di sana dijelaskan bahwa orang-orang munafik pada dasarnya sudah tahu kebenaran apa yang disabdakan oleh Rasulullah Saw. Hanya saja tidak mau mereka tidak mau mengimani.

Hingga diibaratkan sebagai orang yang membeli nilai kesalahan, dibayar dengan nilai kebenaran. Bukannya untung, yang ada malah buntung.

Betapa anehnya orang menolak kebenaran yang diakuinya. Tapi, nyatanya orang-orang aneh seperti ini ada.

Sudah tahu mana jalan yang benar, tapi ia dengan suka rela lebih memilih jalan yang salah, ujungnya ia tidak akan sampai pada tujuan. Siapa lagi yang bisa ia salahkan, kalau bukan dirinya sendiri.

Dengan begitu, orang-orang yang memperebutkan kebenaran itu masih wajar. Sebab masih abu-abu mana yang salah dan mana yang benar. Buktinya masih bisa diperdebatkan.

Namun jika sudah jelas hitam putih, mana yang benar dan mana yang salah. Ia sendiri pun sudah tahu mana yang benar. Maka sangat di luar nalar, bila orang masih bersikeras ketika memilih jalan yang salah.

Bisa kita lihat perilaku aneh mereka pada pada surat yang sama di ayat 14. “Mereka saat bertemu orang mukmin, mereka akan mengaku sebagai orang mukmin, tapi ketika mereka kembali kepada kelompoknya mereka menyatakan diri masih mengimani kepercayaan lamanya, serta perilaku pura-pura iman mereka hanyalah bentuk ejekan kepada orang muslim.”

Aneh karena dia sudah tahu bahwa itu benar namun tetap tidak mau mengimani. Beda dengan orang-orang yang tidak beriman sebab tidak tahu kebenaran, wajar saja mereka tidak beriman. Dan sudah mendeklarasikan diri beriman, berarti sudah pada rute yang benar, namun bersikeras tidak mau mengimani. Aneh.

Baca Juga:  Tafsīr Al-Ijāz Fi Taisīr Al-I’jāz Al-Anbiya: 40-41

Konon, Snouck Hurgronje juga memiliki perilaku yang hampir sama. Ia mengaku sebagai Islam dan melakukan penelitian Islam Nusantara yang ada di Makkah selama 6 bulan. Lalu dengan bermodalkan semua informasi yang ia dapatkan ia membuat rekayasa untuk memukul kaum pesantren yang ada di Indonesia kala itu. (Bisa dilihat di tradisi pesantren, Zamakhsyari Dhofier, hal. 70).

Dengan demikian tidak ada jaminan bila sebuah kebenaran yang sudah terkonfirmasi, bisa membuat orang yang mengakui kebenaran itu menjadi mengimaninya. Jadi, sangat berbeda antara mengakui dan mengimani. []

Muhamad Isbah Habibii
Santri Alumni PP Bahrul Ulum Tambakberas Jombang dan Santri Alumni PP Sabilurrasyad Gasek Malang

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Pustaka