Membaca dan Meneladani Ketokohan Alm. KH. Abdul Chaliq Hasyim (1) : Pahlawan yang Terlupakan

Abdul Chaliq Hasyim merupakan salah satu putra Hadlrotusysyaikh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari (w. 1965 M) yang namanya mungkin tidak semasyhur kakaknya, KH. Wahid Hasyim. Apabila KH. Wahid Hasyim berkiprah di ranah kenegaraan, maka KH. Abdul Chaliq Hasyim adalah sosok tokoh yang besar kontribusinya dalam bidang militer dan pendidikan. Konon beliau juga pernah menjadi Pengasuh Tebuireng, pesantren peninggalan ayahnya sejak tahun 1953 M menggantikan kakak iparnya, KH. Ahmad Baidhowi Asro. Pada era itulah, Kyai Chaliq melakukan pembaharuan sistem pendidikan pesantren yang semula hanya berfokus pada pengajaran kitab kuning menjadi pengajaran berbasis sistem klasikal. Beliau juga menghidupkan kembali sistem tamrin (ulangan) yang sempat populer di era Ayahnya dalam semua unit pendidikan (Madrasah Ibtidaiyah, Wustho, maupun Muallim) sebagai bahan evaluasi pembelajaran pesantren.[1]

Nasab dan Kelahiran

Beliau lahir pada tahun 1916 M (1336 H) dari rahim sosok perempuan shalihah bernama Nyai Hj. Nafiqoh (w. 1941) yang dipersunting oleh KH. Muhammad Hasyim Asy’ari pada tahun 1892 M (1310 H). Dari Nyai Hj. Nafiqah inilah lahir sepuluh putra-putri shalih-shalihah yang kelak akan berjuang meneruskan misi dakwah sang Ayah, yakni: Hannah, Khairiyah, Aisyah, Azzah, Abdul Wahid, Abdul Hafidz, Abdul Karim, Ubaidillah, Mashurroh dan Muhammad Yusuf. Abdul Hafidz inilah nama asli Abdul Chaliq yang diganti setelah KH. Hasyim melaksanakan haji bersama sang istri pada tahun 1950-an.  Nyai Hj. Nafiqah  sendiri merupakan seorang putri keturunan ningrat asal Sewulan, Madiun.[2]

Masa Kecil dan Pendidikan Mula

Sejak belia Gus Chaliq telah mendapatkan bimbingan rohani dari kedua orang tuanya, termasuk nilai-nilai tentang pentingnya membela tanah air. Setiap sebelum Gus Chaliq tidur, sang ibu selalu menanamkan jiwa cinta tanah air (hubbul wathan). Sang ibu juga sering menceritakan tentang kekejaman penjajah yang sewenang-wenang menjajah bangsa Indonesia, khususnya kaum muslimin. Tidak disangka dari cerita-cerita sang Ibu itulah, lahir rasa cinta tanah air yang begitu kuat pada diri Gus Chaliq kecil, sekaligus kebencian terhadap penjajah. Jadilah Gus Chaliq kecil dikenal sebagai anak yang pemberani. Selain mendapat pendidikan non-formal dari kedua orang tua, Gus Chaliq sejak kecil saat menginjak usia Sekolah Dasar, juga mengenyam pendidikan di Pesantren Sekar Putih, Nganjuk-Jawa Timur. Selepas dari sana melanjutkan ke Pesantren Kasingan, Rembang, Jawa Tengah asuhan kakek Gus Mus yaitu Kyai Kholil bin Harun yang terkenal sebagai pakar ilmu Nahwu. Kyai Kholil bin Harun kerap dijuluki sebagai ‘Syibawaihi zamanihi’ (Imam Syibawaih pada masanya).

Baca Juga:  Covid-19 di Pesantren (2): Terinfeksi Korona Bukan Aib
Masa Muda dan Guru-guru Gus Chaliq

Setelah Gus Chaliq dianggap mampu mendalami ilmu pengetahuan, beliau diizinkan untuk melanjutkan pendidikan ke Pesantren Sekar Putih-Nganjuk-Jawa Timur. Selepas dari sana beliau meruskan ke Pesantren Kasingan-Rembang-Jawa Tengah yang diasuh oleh kakak Gus Mus, yaitu Kyai Kholil bin Harun. Namun disana Gus Chaliq kesulitan menemukan air tawar. Bahkan untuk mencuci baju para santri harus menempuh jarak 5km. Namun Syeikh Hasyim Asy’ari telah memahami hal tersebut, sehingga setiap satu minggu sekali belia mengirimkan baju bersih kepada Gus Chaliq.

Belum puas dengan ilmu yang diperoleh, Gus Choliq melanjutkan pengembaraannya ke pondok pesantren di Kajen-Juwono Pati-Jawa Tengah, yaitu pondok mbah Kyai Mutamakkin. Konon ketika mondok di Pati beliau sering menghafalkan beberapa kitab sambil tidur-tiduran di makam mbah Kyai Mutamakkin.

Pada tahun 1932 M dalam usia 16 tahun Gus Chaliq pergi ke tanah suci, Makkah al-Mukarromah untuk menunaikan haji. Beliau tidak menyia-nyiakan kesempatan berharga tersebut, bermukimlah beliau untuk beberapa tahun sambil memperdalam ilmu agama dan mengaji kepada beberapa syeikh di Makkah, salah satunya bernama Syekh Ali al-Maliki al-Murtadha. Bersama beliau Gus Chaliq memperdalam tentang Ushul Fiqih, Adab (Sastra Bahasa Arab) dan Filsafat Islam. Sepulang dari Mekah, Gus Chaliq mengikut sertakan dirinya dalam beberapa organisasi dan pergerakan untuk memperjuangkan kemerdekaan Indonesia dan tegaknya agama Allah SWT.[3]

 

Referensi:

[1] Muhammad Yahya, Dawud Ubaidilah Habibi,2011, “Pahlawan yang Terlupakan : Sang Kiai Kadigdayan” Jombang : Pustaka Tebuireng, hal.20.

[2] Muhammad Yahya, Dawud Ubaidilah Habibi,2011, “Pahlawan yang Terlupakan : Sang Kiai Kadigdayan” Jombang : Pustaka Tebuireng, hal.63

[3] Muhammad Yahya, Dawud Ubaidilah Habibi,2011, “Pahlawan yang Terlupakan : Sang Kiai Kadigdayan” Jombang : Pustaka Tebuireng, hal.63

Siti Khoirun Niswah
Santri Pondok Pesantren Darun Nun Malang S1 ditempuh di UIN Maulana Malik Ibrahim Malang dengan dengan konsentrasi disiplin Bahasa dan Sastra Arab

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Ulama