Ulama besar guru para kiai besar ditanah air, khususnya Masyarakat Sunda. Sampai sekarang, beliau dikenal Mama Sempur, (bapak kami dari Sempur), Mama kalau bahasa Jawa artinya Romo, atau bahasa Arab; Abuya.

Sampai saat ini setiap hari makamnya ramai diziarahi, tiap tahun dihauli. Selai puluhan karya tulis, ulama Sunda dengan kapasitas keilmuan internasional ini mempunyai banyak murid yang jadi tokoh besar yang tersebar diberbagai kota, sebut saja diantaranya Abuya Dimyati Banten, Abuya Sanja Banten.

Buku-bukunya hingga kini terasa relevan, seperti buku “ihyail Mayit fi Fadli Ahli Bait” dan “idahu alkurataniyah fima yataalaqu bidalalati Wahabiyah“. Setiap fatwa yang dimuat, beliau merujuk pada banyak referensi, seperti ketika beliau mengutip hadis “man mata fi huni Ali muhammad mata mukminan, wa man mata fi bugdhi Ali Muhammad mata kafiran“, beliau mengutip 15 kitab.

Yang menarik, dalam kitab ihya mait, beliau menekankan pentingnya mempelajari agama secara metodologis, secara manhaji, bukan harfiah, tekstual.

Ari ngaji fikih helaken hela usul fikih ilmu aqliyah talar Hela dhabitna ulah lalawora gera dele ibarat-ibarat usul fikih, malah Syeikh Mahali Dina kitab Mahali ala jamul jawani ngandika:

“اذ لو طلبها قبل ضبطها لم يأمن فوات ما يرجيه وضياع الوقت فيما لا يعنيه

“Kalau mengaji fikih awali dengan mempelajari Usul fikih dan ilmu logika, hafalkan dahulu definisinya, jangan sembarangan coba lihat prinsip-prinsip usul fikih bahkan syeikh Mahali dalam Mahali ala jamul jawani: “karena kalau mempelajari fikih sebelum mempelajari metodologinya ia tidak akan aman dari kehilangan apa yang diharapkan dan kehilangan waktu untuk sesuatu yang tidak bermanfaat “.

Baca Juga:  Pesantren, NU, dan Islam Nusantara (1)

Barangkali ini juga jawaban kenapa selama ini, khususnya Ramadan kali ini hanya para kiai dan ustaz pesantren yang mampu membaca kitab, seperti ramai online sekarang.

Karena kitab itu disusun secara metodologis, maka kalau tidak menguasai usul fikih, nahwu Sharaf, kaidah fikih, Mantik, arud dll, maka tidak akan mampu. Karena seni dari membaca kitab kuning adalah penerapan secara langsung ilmu-ilmu itu kedalam setiap kata dan kalimat.

Jamal al-Bana menulis dalam bukunya, orang Arab sendiri sangat kesulitan dengan bahasa Arab yang digunakan dalam kitab kuning itu, karenanya beliau sendiri menulis al-fiqhu fi tsaubihi Al-jadid, bahkan baru-baru ini ulama Wahabi menjadi lelucon di Timur Tengah karena menulis buku “usul fikih al-sunah“.

Kata Sunah ditambahkan hanya karena ingin menulis usul fikih picisan mudah dibaca dan tidak mampu membaca mustasfa al-ghazali, al-ibhaj atau jamul jawami.

Membaca buku-buku Mama Sempur, saya semakin bangga dengan banyaknya ustaz muda yang mempunyai penguasaan cakap dalam kitab kuning. Karena cara beragama Rasulullah Saw manhaji, metodologis, dan kita masih tersambung melalui para kiai kita kepada Rasulullah saw.

Dan kitab kuning itu sebagai tembok pembatas, kalau kanan tidak akan terlalu nganan, demikian kalau kiri tidak akan terlalu kiri. Kitab kuning seperti barier, pembatas yang elastis.

Kawan-kawan secara umum, misalnya tersambung melalui KH. An’im Falahudin Mahrus kepada Abuya Dimyati Banten, kepada Syeikh Ahmad Tubagus Bakri, kepada Syeikhunan Khalil, Kiyai Soleh Darat, Syeikh Nawawi Banten dan seterusnya.

Saya sendiri beberapa kali talaqi kepada Abuya Dimyati, berarti hanya terhalang 1 sanad kepada mama sempur. Tapi yang sangat membahagiakan, kita semua yang mengikuti kiai telah beragama secara rasional, secara manhaji, cara beragama yang diajarkan Rasulullah Saw dan para sahabatnya.

Baca Juga:  Islam Nusantara yang Disalahtafsirkan: Ngaji Bareng Gus Muwafiq

Itulah kenapa saat ustaz sebelah ribut hadis dukhan, kiai-kiai kita santai saja ngisap dukhan, karena hadis dukhan berlawanan dengan akal sehat. [HW]

Ahmad Tsauri
Dosen IAIN Pekalongan, Alumnus UIN Sunan Kalijaga, dan Pondok Pesantren Lirboyo Kediri.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Pustaka