Kuliah Sambil Mondok, Emang Bisa?

Setelah menyelesaikan pendidikan di tingkat SMA/MA sederajat, biasanya akan diberatkan dengan beberapa pilihan, yakni melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi, bekerja atau menikah. Tak banyak orang memilih untuk bekerja, juga tak banyak orang memilih untuk menikah. Namun, banyak juga yang memilih untuk melanjutkan ke jenjang perguruan tinggi.

Perguruan tinggi adalah satuan pendidikan penyelenggara pendidikan tinggi. Sedangkan kuliah adalah kegiatan belajar mengajar di pendidikan tinggi. Seseorang yang sedang mengenyam pendidikan di perguruan tinggi disebut mahasiswa/mahasiswi. Di perguruan tinggi juga terdapat berbagai tawaran jurusan, mulai dari agama, pendidikan, ekonomi, dakwah, dan lain-lain.

Banyak orang yang memilih untuk kuliah di luar kota yang jauh dari rumah, dengan tujuan untuk menambah pengalaman serta memperluas relasi. Mereka biasanya tinggal di indekos atau kontrakan. Tinggal di luar kota yang jauh dari rumah terkadang membuat orang tua khawatir dengan pergaulan yang ada di lingkungan sekitar. Banyak dari orang tua yang memilih untuk memasukkan anaknya di pesantren.

Banyak terjadi tindak kejahatan, pelecehan, bahkan pembunuhan yang dilakukan oleh anak usia remaja  dikarenakan kurangnya pemahaman mengenai agama, lingkungan yang kurang baik, dan kurangnya kontrol dari orang tua. Pondok pesantren adalah tempat tinggal yang tepat bagi calon mahasiswa.

Anak kuliahan sangat identik dengan tugas yang tiada henti dan aktif diberbagai organisasi kampus. Lalu bagaimana jika seorang mahasiswa yang jadwalnya sangat padat dan dia tinggal di podok pesantren yang notabennya selalu mengaji dan mengaji, apakah bisa?. Tentu bisa, bahkan ada sebutan khusus bagi seseorang yang kuliah sambil mondok yaitu mahasantri atau mahasiswa santri.

Banyak anggapan orang-orang mengenai pondok pesantren, sebagian dari mereka berpendapat bahwa ketika seseorang masuk pesantren membuat aktivitasnya menjadi kurang leluasa, padahal pondok pesantren sekarang ini semakin berkembang dan menuruti perkembangan zaman tanpa keluar dari eksistensi pondok pesantren sendiri.

Pondok pesantren mahasiswa dengan pondok pesantren pada umunya sedikit berbeda. Pondok pesantren mahasiswa biasanya lebih membebaskan santrinya menggunakan alat elektronik untuk menunjang perkuliahan di kampus dan memberikan ruang lebih santri untuk berkegiatan di luar pondok pesantren dan pastinya dengan aturan-aturan yang harus diataati. Bisa dikatakan pondok pesantren mahasiswa ini lebih santai dan lebih membebaskan santrinya untuk berkegiatan di luar pondok.

Di pondok pesantren tentu memiliki jadwal kegiatan serta peraturan-peraturan yang harus ditaati. Jadwal kegiatan pondok pesantren mahasiswa biasanya tidak sepadat pada pondok pesantren biasanya. Di pondok pesantren mahasiswa, kegiatan dimulai dengan jama’ah shalat subuh, setelah jama’ah dilanjut dengan kajian kitab subuh. Pagi sampai sore digunakan untuk mengikuti pembelajaran di kampus. Dan kegiatan pondok pesantren di mulai lagi setelah jama’ah maghrib.

Tidak hanya jurusan agama saja yang boleh tinggal di pondok pesantren, tetapi pondok pesantren mahasiswa terbuka untuk siapapun. Dari jurusan pendidikan, ekonomi, dakwah, bahkan teknik pun boleh tinggal di pondok pesantren. Kegiatan-kegiatan yang diajarkan pun sangat bermanfaat, mulai dari segi agama, sosial dll.

Di pondok pesantren diajarkan ilmu agama yang bisa dijadikan bekal bagi mahasantri untuk menghadapi kehidupan zaman millenial ini, yang mana semua hal seakan tidak ada batasnya. Pemuda pemudi Islam millenial harus mempunyai dasar dan iman yang kuat agar tidak mudah terbawa arus yang kurang baik, terutama di bidang pergaulan.

Tinggal di pondok pesantren tidak menjadi pantangan bagi seseorang untuk tidak mengikuti organisasi di kampus. Karena dengan organisasi kita dapat menggali potensi-potensi yang ada pada diri kita, dengan organisasi juga semakin banyak relasi yang kita dapat dari berbagai lintas jurusan yang ada di kampus.

Tugas banyak, deadline selalu bebarengan, urusan organisasi yang tiada henti, dan jadwal mengaji di pondok yang harus diikuti. Ini adalah salah satu tantangan mahasantri untuk bisa mengatur waktu sebaik mungkin agar semuanya dapat dijalankan dengan baik dan sempurna.

Menulis jadwal rutin atau timeline kegiatan maupun deadline tugas, bisa menjadi alternatif agar semua kegiatan bisa terlaksana. Mulai dari pagi sampai malam, mulai dari bangun tidur sampai tidur lagi. Dengan ini, kita dapat menghargai waktu dan tidak mebuang-buang waktu. Ambil kesempatan yang ada, manfaatkan waktu sebaik mungkin, dan selalu berdoa serta usaha.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini