Di benak sebagian orang, kata santri adalah ungkapan yang seringkali diidentikkan dengan kekolotan bahkan suatu sikap kuno. Bahkan mereka beranggapan seorang santri seakan-akan tidak punya pengaruh apapun untuk negara.

Di sisi lain, sebagian santri di era kiwari ini telah mengalami transformasi dan pergeseran nilai-nilai akibat arus globalisasi yang menjauh dari kearifan budaya bangsa.

Tuduhan-tuduhan tersebut membuat santri kurang percaya diri, alih-alih menegaskan eksistensi mereka. Menjadi santri, dalam tradisi Indonesia artinya menyerahkan sepenuh hati dan jiwa raga berupa pengabdian spiritual untuk Kiai, dan pengabdian sosial untuk lingkungan sekitar atas ilmu yang sudah didapatkan tanpa melepaskan identitas santri.

Peran Sentral dan Teladan Seorang Kiai
Nyantri, bukan sekadar proses belajar-mengajar. Pun pesantren, bukan sekadar penddikan biasa yang sering dipahami secara keliru. Lebih dari itu, nyantri merupakan sebuah peristiwa spiritual santri bersama kiai, sebuah upaya untuk mencari jati diri manusia, untuk menjadi manusia yang paripurna (insan kamil).

Dalam pendidikan pesantren, kiai, sebagai figur guru dan pengasuh spiritual, memiliki peran sentral dalam pembentukan karakter santri. Selain pengajaran keagamaan, nilai-nilai dan teladan adalah asupan utama yang ditransfer dalam kehidupan pesantren. Nilai yang tidak bisa didaparkan di lembaga pendidikan lain selain pesantren.

Karenanya, Kiai adalah sosok teladan paripurna bagi santri. Karena keteladanan sejatinya merupakan sesuatu yang patut untuk ditiru seperti disebutkan pepatah arab “lisanul hal afsahu min lisanul maqal”. Oleh karena itu para kiai lebih senang mengajarkan santrinya dengan contoh dalam keseharian disamping melalui pengajian dan ceramah.

Seperti nasionalisme yang ditekankan lewat nguri-nguri kebudayaan di lingkungan sekitar pesantren yang kemudian diterapkan menjadi praktek keberagamaan yang mudah dan toleran sehingga diterima beragam masyarakat. Sosok kiai yang mumpuni dan bijaksana sangat menentukan sejauh mana ajaran agama dapat diterima masyarakat Indonesia yang majemuk.

Proses transfer nilai lainnya melalui ziarah kubur ke makam ulama dan para wali yang sudah turun-temurun dilaksanakan dan memang merupakan kebiasaan ulama terdahulu di berbagai belahan dunia. Salah satu bentuk penghormatan dan rasa terima kasih kepada sang guru atas ilmu dan barokah mereka, bahkan sekalipun tak pernah berjumpa, atau hanya mengaji kitab sang alim tersebut.

Identitas yang Melekat

Menyebut istilah “menjadi santri” sebagai jati diri, teringat kutipan yang dikatakan oleh seorang santri bernama Sastrawijaya dalam karya Serat Poerwa Tjarita Bali tahun 1875, tentang ungkapan “dados santri”.
Dados santri disini melampaui batas pengertian nyantri di sebuah pesantren dan setelah itu selesai, menjadi alumni. “Dados santri” tidak mengenal istilah alumni, tamat, atau lulusan. Ketika Sastrawijaya menyebut dirinya “dados santri”, berarti identitasnya melekat selamanya. Sama seperti sebutan “bangsa Indonesia” melekat pada diri kita seumur hidup (meskipun pindah kewarganegaraan).

Dalam menunjukkan eksistensinya, santri harus berani mengglobal, tidak takut melanglang buana, namun tetap memerhatikan etika khas santri. Santri harus punya sikap yang lentur namun tetap berakhlak santun dalam berinteraksi di manapun. Santri juga harus berfikir kritis dalam menyikapi berbagai permasalahan yang dihadapi.

Tentang “menjadi santri”, KH Saifuddin Zuhri memberikan sebuah konstruksi tentang saiapa sebenarnya santri, seperti yang dituturkan dalam bukunya “guruku orang-orang dari pesantren” :
Para santri adalah anak-anak rakyat,
Amat paham tentang arti kata rakyat,
Paham benar tentang kebudayaan rakyat,
Tentang keseniannya,
Agamanya,
Jalan pikirannya,
Cara hidupnya, semangatnya, dan cita-citanya, suka dukanya, tentang nasibnya, dan segala lika liku hidup rakyat, santri lahir dari sana, demikian mereka hidup, dan lalu mati pun disana pula,….
Sebab itu…,
Para santri dan kiai sangat paham
Tentang arti hidup dalam penjajahan.

Jelaslah bahwa santri sebagai jati diri, adalah prinsip hidup yang harus dibawa sampai mati, beranilah unjuk diri di manapun berada, berani berbicara dan tampil di tengah masyarakat untuk menyelesaikan permasalahannya. Dengan demikian santri menjadi teladan masyarakat dengan mengamalkan ilmunya untuk kemaslahatan bersama.

Penegasan Eksistensi

“كن عالما أو متعلما أو مستمعا ولا تكن رابعا فتهلك”

“Jadilah pembelajar, atau pengajar atau orang pedengar ilmu ,dan jangan menjadi yang keempat, maka kamu akan celaka.”

Menjadi santri, berkaca pada ungkapan Kiai Saifuddin Zuhri, bukan hanya mengaji. Santri harus berani bersuara untuk masyarakat dan membenahi masyarakat. Tentunya, dengan cara-cara yang baik dan tanpa menghakimi, alias memerhatikan situasi dan kondisi masyarakatnya. Inilah khas santri dengan mengedepankan akhlak dan nilai-nilai.

Mengenai eksistensi, sebagian masyarakat menilai santri hanya tentang pengajian. Padahal banyak santri yang sudah menjadi tokoh dan sudah memberi kontribusi dan menempati posisi penting. Seperti Gus Dur, Pak Lukman Hakim (Menteri Agama), Imam Nahrawi (Menpora) dan lainnya.

Moralitas dan Kepercayaan Diri

Jamak diketahui bahwa santri orang yang mendalami ilmu agama. Pada perkembangannya, santri tidak hanya dibekali ilmu agama saja, melainkan ilmu-ilmu dan keterampilan yang menunjang bakat dan minat mereka untuk menghadapi persaingan global.

Di era kiwari ini, kompetensi memang penting. Tetapi, di samping itu ada yang lebih penting dan fundamental : moralitas dan kepercayaan diri. Kompetensi yang tidak ditopang moralitas dan kepercayaan diri bisa memunculkan ketidakseimbangan. Santri, terlebih sebagai sosok mumpuni dalam ilmu agama, mengemban tugas mulia dalam menebarkan ajaran Islam Rahmatan lil Alamin.
Dua kunci utama tadi harus dimiliki santri ketika berjuang di tengah masyarakat agar mampu bersosialisasi dan bersyiar. Terlebih moralitas, adalah yang paling utama bahkan di atas ilmu yang dimiliki santri sendiri. Masyarakat akan mendengarkan hanya jika sang santri mampu memberi teladan baik dan menerima ajakannya.

Memang dan patut disesali ada sebagian santri kiwari yang telah luntur moralitasnya. Oleh karena itu, realitas yang ada sekarang harus kita bawa ke arah yang positif dengan memerhatikan dua kunci penting tadi.

Jika santri mampu memegang teguh prinsip, dan tidak mudah goyah serta senantiasa menyebarkan nilai nilai Islam dengan kelembutan, baik tutur kata maupun tingkah laku, maka menjadi insan kamil itu bukan hal yang mustahil.

Katakanlah sekeras-kerasnya : “akulah santri, aku bisa berkontribusi untuk negeri”.

Nurul Qoyyimah
Santri Asal Tegal, Jawa Tengah yang hobby membaca dan menulis.

Sebelum Lahir, Mbah Maimoen Sudah NU

Previous article

Tingkatan Orang dalam Membaca al-Qur’an

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar