Kanjeng Nabi merupakan sosok manusia terhormat, sempurna lahir batin. Meskipun demikian, bukan berarti Nabi melangit dengan bekal wahyu dan pangkat kenabiannya, Nabi justru makin membumi dan tetap menjaga kedekatan dengan para sahabatnya.

Karena kedekatan itulah, Nabi biasa bercanda dan mencandai, bahkan tak jarang menjadi sasaran iseng atau dikerjai salah satu sahabatnya. Loh, memang boleh Nabi dikerjai? Bukannya gak sopan gitu?

Sebagai utusan Tuhan, Nabi tidak pernah kehilangan sisi kemanusiaannya, perilakunya sangat manusiawi, sehingga Nabi benar-benar paham bagaimana caranya memanusiakan manusia. Hal inilah yang menjadi kata kunci kesuksesan dan kegemilangan Nabi dalam mengemban risalah kenabiannya.

Lalu siapa sosok sahabat yang berani mengerjai Nabi itu? Adalah Nu’aiman bin Amar. Nu’aiman adalah salah satu sahabat dari kalangan Ansor yang terkenal “mbeling” tetapi istimewa, karena menjadi bagian dari Ahlul Badr (pernah mengikuti perang Badar).

Pada awal-awal masuk Islam, Nu’aiman belum bisa meninggalkan kebiasaannya mabuk dan minum khamr, tetapi di satu sisi ia juga sangat mencintai Nabi dan tidak bisa jauh-jauh dari Nabi. Akhirnya, Nu’aiman memilih mabuk di dekat Nabi. Nah, mbeling banget, bukan?

Cerita nakal Nu’aiman berlanjut, yaitu ketika Nu’aiman melihat penjual madu yang letih kepanasan setelah berkeliling menjajakan madunya di Madinah. Seharian berkeliling, tak satupun madunya terjual.

Nu’aiman menjumpai penjual madu itu dan mengajaknya menuju rumah Kanjeng Nabi. “Berikanlah madu itu kepada Rasulullah SAW.” kata Nu’aiman.

Kepada penjual Madu, Nu’aiman berkata, “Aku akan pergi karena masih ada urusan. Sebentar lagi penghuni rumah itu akan keluar dan membayar kepadamu harga madu itu.”

Sang penjual madu cukup lama menunggu, tapi tak satupun yang keluar dari rumah itu. Maka, ia beranjak mendekat dan mengetuk pintu, “Wahai penghuni rumah, ada hadiah madu untukmu, tetapi sekalian bayarlah pula harga madu itu.”

Baca Juga:  Meneladani Kompetensi Pedagogik Religius Rasulullah SAW

Kanjeng Nabi SAW di dalam rumah terhenyak, tetapi segera menyadari bahwa sedang dikerjai Nu’aiman. Tanpa berkata apapun Rasulullah SAW menemui penjual madu dan membayarnya.

Saat bertemu di kemudian hari, Nabi mengkonfirmasi kejadian itu pada Nu’aiman. Lalu Nu’aiman menjawab, “Ya Rasulullah, aku tahu engkau suka sekali menikmati madu. Tapi aku tidak punya uang untuk membeli dan menghadiahkan kepadamu. Maka, aku mengantarkan saja kepadamu dan semoga aku mendapat taufik dan hidayah menuju kebaikan”.

Nabi terbahak mendengar penjelasan Nu’aiman dengan ekspresi lugu seolah tidak bersalah. Jika Nabi saja berani dikerjai oleh Nu’aiman, maka perilaku iseng Nu’aiman terhadap orang lain justru lebih parah.

Di waktu lain, yang menjadi sasaran iseng adalah sahabat Abdullah bin Ummi Maktum, tukang adzan selain Bilal bin Rabbah. Hanya saja, Abdullah bin Ummi Maktum memiliki penglihatannya yang terbatas.

Ketika Abdullah bin Ummi Maktum ingin buang air kecil, segeralah Nu’aiman mendekati dan mengantarnya untuk buang air kecil. Ketika ditanya siapa, Nu’aiman hanya diam saja.

Bukannya diantarkan ke tempat yang semestinya, Nu’aiman justru membawa Abdullah bin Ummi Maktum menuju masjid, untuk kemudian menyelinap sesaat. Karena saat itu lantai masjid juga masih berupa tanah sebagaimana tempat lainnya, Abdullah bin Ummi Maktum tidak menaruh curiga sedikitpun. Maka sekonyong-konyong, jadilah ia kencing di masjid.

Lalu hebohlah orang-orang sekampung saat ada yang memergoki aksinya, dan ramai-ramai “mengadili” Abdullah bin Ummi Maktum. Sambil menggerutu, Abdullah bin Ummi Maktum ingin “membalas dendam” pada orang yang telah mengerjainya.

Tak lama kemudian, Nu’aiman muncul dan menggandeng Abdullah bin Ummi Maktum menjauhi kerumunan. “Kau ingin tau siapa orang yang mengantarmu kencing di masjid?”, Nu’aiman berkata lirih kepada Abdullah bin Ummi Maktum.

Baca Juga:  Hakikat Mencintai Rasulullah, Mampukah Dijangkau Logika?

Bergegaslah Nu’aiman membawa Abdullah bin Ummi Maktum menuju hadapan seseorang. “Orang yang kau cari sekarang berada tepat di depanmu”, bisik Nu’aiman.

Tanpa pikir panjang, Abdullah bin Ummi Maktum segera memukul orang di hadapannya itu dengan tongkat sekeras-kerasnya. Di saat bersamaan, Nu’aiman melarikan diri sambil tertawa terbahak-bahak.

Tahukah kamu siapa orang yang dipukul oleh Abdullah bin Ummi Maktum itu? Dia adalah sahabat Abu Bakar As Shiddiq.

Nah, jika kita menemukan kebiasaan santri mengerjai temannya, atau bahkan berani mengerjai kiainya, maka jangan heran. Bisa jadi ia telah mendapatkan sanad keisengan yang menyambung langsung dengan sahabat Nu’aiman. [HW]

Muhammad Makhdum
Alumni Magister Pendidikan Sains Universitas Negeri Malang, Pengurus PC LTN NU Kabupaten Tuban dan Ahlul Ma'had Lembaga Tinggi Pesantren Luhur Malang.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Humor