Kepada Para Pembencinya, Gus Dur Bilang "Gitu Saja Kok Repot!"

Ketika Gus Dur menjadi presiden, reaksi datang bukan hanya dari para pecintanya, melainkan juga para pembencinya. Para pengagumnya optimis tokoh kita ini bisa membawa kebaikan bagi bangsa dan negara, sebaliknya tidak demikian dengan para pembencinya.

Para pendukung Gus Dur, dalam konteks media, terpusat di Tabloid Warta dan Majalah Aula. Keduanya dikelola oleh PWNU Jawa Timur. Keduanya seolah menjadi corong kebijakan Presiden Gus Dur maupun pembela pribadinya. Jika Warta kini sudah almarhum, Aula terus berkembang oplahnya.

Ketika Gus Dur diserang habis-habisan dari berbagai sudut di tiga bulan pertama pemerintahan hingga kejatuhannya, Aula tetap memberikan pembelaan. Tajuk yang diturunkan dalam kurun waktu pertengahan hingga akhir pemerintahan Gus Dur, dalam penilaian saya, bersifat emosional dan frontal. Waktu itu, saya yang masih duduk di bangku Madrasah Aliyah merasa menikmati sensasi pembelaan ini. Khas NU dan berwatak Jawatimuran. Blokosutho, blak-blakan.

Selain menikmati Warta dan Aula, saya yang waktu itu mondok di Ponorogo, sering membaca Majalah Sabili dan Panji Masyarakat. Selain dipinjami salah seorang guru, saya juga sering membaca keduanya di Toko buku La Tansa, yang dikelola pesantren modern di kota ini. Isinya mengerikan. Narasi yang disuguhkan oleh Sabili, saya kira lebih pada pembunuhan karakter Gus Dur. Penyematan gelar tokoh “pegiat pluralisme” dilakukan dengan nada minor dan pejoratif. Demikian pula dengan istilah “Sepilis” alias Sekularisme, Pluralisme, dan Liberalisme, yang dari singkatannya saja sudah terdengar aneh dan dimirip-miripkan dengan penyakit kelamin. Pemberitaan soal kepemimpinan Gus Dur dilakukan dengan negatif, apalagi jika berkaitan dengan kebijakan presiden dalam mendamaikan umat Islam dan Kristen di Maluku.

Panji Masyarakat, yang merupakan anak ideologis Masyumi, memang tidak sekeras Sabili. Hanya, dalam liputan skandal beraroma fitnah bernama Aryanti-Gate, Panji Masyarakat sangat tendensius. Saya cermati, pengunaan narasumber anomin atau yang lazim disebut dengan istilah ”…..narasumber yang tidak mau disebutkan namanya” beberapa kali terjadi. Tentu, saya tidak tahu apakah benar-benar ada, atau hanya fiksi belaka. Wallahu A’lam.

Ketika membubarkan Departemen Penerangan serta membuka kran kebebasan pers, Gus Dur bisa dibilang memberikan peluang bagi jurnalis menghajar dirinya dari berbagai sudut pandang. Kebebasan pers memang cenderung brutal setelah puluhan tahun dikerangkeng oleh Orde Baru. Para pewarta menikmati euforia ini. Tapi, sebagai seorang demokrat, Gus Dur paham pers adalah salah satu pilar demokrasi, yang pada suatu ketika juga bisa menyalak keras kepada dirinya sebagai penguasa.

Di dua tahun kekuasaannya itu, saya sebagai pelajar menikmati “pertarungan bebas” antara kubu pembela dengan pembenci. Masing-masing melakukan manuver, membela atau menjatuhkan Gus Dur melalui pemberitaan, dengan berbagai caranya yang khas dan sensasional. Sabili, misalnya, memilih narasumber tokoh NU yang berseberangan dengan Gus Dur, untuk melakukan serangan “nabok nyilih tangan”.

Baca Juga:  Mengenang KH Hilman Almusri Cianjur, Ulama Sekaligus Penulis

Tokoh NU ini diwawancarai, diarahkan melalui pertanyaan yang tajam, dan diakhiri dengan pertanyaan simpulan yang “mengunci”.
Sabili kini sudah almarhum setelah pernah mencapai tiras ratusan ribu eksemplar, demikian pula dengan Panji Masyarakat. Keduanya pernah menjadi dua “media Islam” paling populer di awal tahun 2000. Namun, berbagai problem internal yang melanda mematikan keduanya. Apa kabar Warta? Tabloid ini juga sudah kukut. Kini, di antara keempat media di atas, hanya Majalah Aula yang bertahan sebagai media petarung opini. Semoga senantiasa terbit!

*

Tentang buku, manakala sowan Gus Dur pada 4 Januari 2009, saya bertanya tentang seorang penulis yang selalu bersikap tendensius dan bahkan menulis buku beraroma fitnah kepadanya. Bagaimana tanggapan Gus Dur? “Biarin saja mas, wong dia itu cari nafkah. Dah, gitu aja kok repot.”

Enteng sekali Gus Dur menyikapi ini! Salut!
Jika di awal tulisan ini saya mengetengahkan pertarungan brutal dalam hal pembentuk opini antara media pecinta dan pembenci Gus Dur, maka dalam paragrap di bawah ini saya mencatat beberapa judul buku yang secara keras melakukan serangan kepada Presiden Gus Dur di era kepemimpinannya.

Buku-buku ini terbit di tengah penggalangan opini melemahkan pemerintahannya. Sebagian memang berisi kritik obyektif, namun sebagian besar berisi pembunuhan karakter Gus Dur, dan bahkan fitnah belaka. Di antaranya:
Pertama, buku “Rakyat Indonesia Menggugat Gus Dur”.

Awalnya, saya mengira buku ini berkelas. Sayang, ternyata hanya kumpulan kliping pemberitaan media massa. Buku ini terbit pada Oktober 2000, diterbitkan oleh Wihdah Press. Penerbit ini terkenal sebagai penerbit yang banyak memunculkan karya simpatisan Negara Islam (Daulah Islamiyah), seperti Irfan S. Awwas, Muhammad Thalib, juga karya Rustam Kastor, purnawirawan jenderal yang diduga turut andil dalam bentrok umat Islam versus kaum Kristen di Ambon pada 2000-an. Selain itu, penerbit ini juga turut serta dalam memperluas wacana teori konspirasi melalui berbagai terbitannya. Penyunting buku ini, Arsyil A’la al-Maududi, saya kira juga nama samaran.

Sebagai buku kumpulan kliping pemberitaan, harap dimaklumi jika isinya hanyalah pemberitaan negatif di zaman pemerintahan Gus Dur. Dalam Kata Pengantar-nya, Arsyil A’la al-Maududi menceritakan sosok Frangkie Abdullah, mualaf yang awalnya jatuh cinta kepada Gus Dur dan sepak terjangnya, lantas kecewa dan berbalik arah menjadi tidak suka. Frangkie, yang di dalam Kata Pengantar disebut “….katakanlah begitu namanya” (bukankah ini tokoh rekaan?), akhirnya mengumpulkan berbagai pemberitaan hasil koleksinya, lantas diterbitkan Wihdah Press ini.

Di antara sumber rujukan koleksi kliping berita ini adalah: Gatra, Tempo, Forum Keadilan, D & R, Panji Masyarakat, Sabili, Media Dakwah, Adil, Republika, Kompas, Suara Merdeka, Media Indonesia, Sinar Pagi, Tabloid Aksi, detik.co(m)., berpolitik.co(m)., jaknews.co(m)., dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Mengenang Gus Im

Sebagai pengumpul kliping, penyunting sudah melakukan framing sejak awal, dengan mengarahkan pembaca bahwa Gus Dur: musyrik, pezina, koruptor, plin-plan, kontroversial, presiden yang dikendalikan pembisik, pembela orang kafir, komunis, pembela PKI, menyakiti umat Islam, dan lain sebagainya.

Lebih spesifik, untuk meyakinkan apabila Gus Dur menjadi musuh bersama “Umat Islam”, penyunting memilih wawancara para “tokoh Islam” yang memang berseberangan dengan Gus Dur, khususnya sejak awal tahun 2000, misalnya Hidayat Nur Wahid, Amien Rais, KH. Alawy Mohammad, KH. Syukron Ma’mun, KH. Yusuf Hasyim, hingga Yusril Ihza Mahendra. Tentu saja bisa diduga motif politiknya berdasarkan bendera partai masing-masing nama ini. Adapun sahabat Gus Dur, sesama “Jombangers”, Nurcholis Madjid dan Emha Ainun Nadjib, memilih mengkritik Gus Dur sesuai dengan kapasitas intelektualnya.

Buku ini terbit pada Oktober 2000, tepat satu tahun pemerintahan Presiden Gus Dur. Tentu saja, kritik yang ada terasa wajar bagi seorang demokrat sejati seperti Gus Dur. Hanya saja, dalam banyak hal 80 persen buku ini memang menggiring opini pembaca bahwa selain selingkuh, Gus Dur juga koruptor, dan tidak layak dijadikan sebagai tokoh Islam dan presiden RI. Panah-panah fitnah ini memang diarahkan dalam rangka memperkeruh pandangan sebagaian besar umat Islam terhadap presidennya.

Buku lain yang terbit di era kepresidenan Gus Dur adalah karya Hartono Ahmad Jaiz. Tidak tanggung-tanggung, tukang nyinyir sana sini ini menerbitkan dua karya memojokkan Gus Dur dalam kurun 2 tahun. Karya Pertama, “Bahaya Pemikiran Gus Dur” (al-Kautsar: 1999), laris manis saat putra Kiai Wahid Hasyim dilantik sebagai presiden. Awalnya terbit pada April 1999, lalu cetak ulang berkali-kali pada tahun selanjutnya. Karya lain ditulis bersama Abduh Zulfidar Akaha. Judulnya lebih bombastis, “Bila Kyai Dipertuhankan: Membedah Sikap Beragama NU”. Karya terakhir ini bukan kritis, tapi nyinyir dan menghina. Diterbitkan pada April 2001, di saat menjelang Gus Dur “dikudeta” secara merangkak.

Sesuai judulnya, Hartono memang melakukan manuver berbelok, mengawali dari mengkritisi (tepatnya, nyinyir) kepada Gus Dur, lantas berbelok arah menghantam NU. Beberapa hal yang dinyinyiri Hartono tidak tepat, bahkan menjurus fitnah, sebagaimana keahliannya selama ini. Hartono dan Abduh melalui buku ini memberikan semacam karpet merah bagi para pembenci untuk memahami NU dengan cara negatif.

Buku lain yang laris manis di kalangan aktivis harakah Islam dan partai Islam adalah karya Adian Husaini. Karya ini terbit pada Februari 2000, dan mengalami cetak ulang beberapa kali setelahnya. Tentu, buku tipis berjudul “Gus Dur, Kau Mau Kemana?: Telaah Kritis Atas Pemikiran dan Politik Keagamaan Presiden Abdurrahman Wahid” ini banyak diminati oleh lawan politik Gus Dur, khususnya dari kalangan Poros Tengah yang mulai kecewa terhadap berbagai manuver RI-1 yang tidak bisa disetir mereka sebagaimana harapan awal.

Baca Juga:  Abul Hasan al-Asy'ari dan Akidah Ahlus Sunnah Waljamaah

Di antara yang dibidik oleh Adian Husaini adalah aliansi sekuler Gus Dur dan CSIS, pluralisme agama ala Gus Dur, pembelaan berlebihan terhadap minoritas Kristen, dan kunjungan Gus Dur ke Israel beberapa tahun sebelum menjadi presiden RI. Beberapa wacana ini juga tampak diulang-ulang dalam kajian terbatas yang dilakukan oleh para aktivis partai dakwah dan “Partai Islam” dalam kurun tahun 1999 hingga satu dasawarsa berikutnya. Saya pernah berbincang dengan aktivis Partai Keadilan Sejahtera dan juga Pemuda Ka’bah, underbouw PPP. Pandangan mereka tentang era Gus Dur sama minornya dengan pandangan Hartono Ahmad Jaiz, Abduh Zulfidar Akaha, dan Adian Husaini.

Dengan demikian, bisa ditarik garis kesimpulan awal, apabila “pembusukan opini” dijalankan secara sistematis dan berpola melalui, antara lain, jejaring para aktivis partai Islam melalui buku dan kajian internal.

Boleh-lah diakui apabila Gus Dur selama menjabat sebagai presiden memang kerap melontarkan statamen kontroversial dan tindakan yang unprecditable. Namun, dalam pandangan yang lebih jernih, selain sudah mulai dikepung lawan di kanan kiri serta para brutus di sekitarnya sehingga harus berkejaran dengan waktu sebelum “turun tahta”, tindakan Gus Dur lebih banyak dilakukan atas dasar mashlahat jangka panjang.

Kritik yang proporsional terhadap pribadi dan kebijakan Gus Dur sebagai presiden justru lahir dari anak-anak muda NU yang menerbitkan karya berjudul “Neraca Gus Dur di Panggung Kekuasaan”. Buku ini diterbitkan oleh Lakpesdam NU pada 2002, setahun setelah Gus Dur lengser keprabon.

Khamami Zada dan kawan-kawan muda NU melihat Gus Dur tidak secara hitam putih, melainkan banyak warna. Tidak menyorotinya sebagai patron, melainkan sebagai penguasa. Karena itu mereka bisa melakukan pembacaan kritis terhadap pemerintahan Gus Dur dan berbagai keputusannya sebagai kepala negara.

Kritik yang lebih obyektif malah tampak dalam “Biografi Gus Dur: The Authorized Biography Of Abdurrahman Wahid” (LKiS: 2004) yang ditulis oleh kawan lamanya, Greg Barton. Penulis asal Australia ini tidak hendak memuja-muji Gus Dur hingga tampak sebagai penjilat.

Barton memotret Gus Dur dengan kompleksitas pribadi dan latarbelakangnya: ideologi, keluarga, pendidikan, dan pergaulannya.

Dalam Kesimpulan di buku Biografi Gus Dur (hlm. 483), Barton dengan obyektif memaparkan berbagai kelebihan Gus Dur, kekurangannya sebagai pribadi, serta berbagai fakta yang menyebabkan dirinya terjatuh dari kekuasaannya. Ketika ingin memuji, Barton menulisnya dengan hormat. Ketika mengkritik, dia juga tidak terjatuh pada penghinaan. Semua dia lakukan dengan proporsional dan obyektif. Wallahu A’lam Bisshawab. [HW]

*Artikel di atas termuat dalam buku “Goro-Goro Menjerat Gus Dur” yang saya tulis bersama para Nahdliyyin muda lainnya. Buku ini dibedah oleh PMII INAIFAS dalam PKD hari Ahad besok.

Rijal Mumazziq Zionis
Pecinta Buku, Rektor INAIFAS Kencong Jember, Ketua LTN NU Kota Surabaya

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini