Kejailan Santri dan Sanadnya Hingga Sahabat Nabi

Jika anda pernah nyantri atau setidaknya pernah mendapat cerita tentang budaya santri. Pasti anda pernah mengenal kejailan para santri terhadap santri baru. Atau budaya IN (baca: i en). Yakni kebiasaan dimana seorang santri baru atau santri yang baru saja pulang dari rumah untuk dianjurkan —bahkan diharuskan—membawa jajan atau oleh-oleh dari rumah.

Hal tersebut merupakan budaya turun temurun santri untuk melatih sifat kedermawanan dan kebersamaan. Bahkan di sebagian pesantren punya tradisi unik mengenai hal ini. Mereka punya semacam slogan atau kata-kata yang membudaya. Slogan itu tak jarang dipampang secara gagah di pintu-pintu kamar sebagai warning tersendiri bagi santri baru atau santri yang baru pulang.

Slogan yang mirip mirip hadis itu berbunyi:

من جاء بلا طعام فهو رد

Man jaa bila thoamin fahuwa roddun.

“Barangsiapa yang datang (dari rumah) tanpa membawa makanan, maka ia ditolak”

Slogan ini tentu tak hanya slogan saja. Lebih dari itu, hal ini merupakan sebuah peraturan tak tertulis bagi setiap santri yang baru saja pulang. Hal ini bisa dipahami karena kondisi di pesantren yang penuh kesederhanaan. Makanan pun dibatasi, sehingga hadirnya santri baru atau santri yang baru saja pulang merupakan kesempatan emas untuk ‘meningkatkan gizi’ makanan mereka.

Bagi santri lama yang sudah mengenal budaya ini mungkin sudah menganggap biasa. Namun apa jadinya dengan santri baru yang sama sekali tidak mengenal kultur dan budaya santri.

Biasannya mereka yang tidak paham  budaya ini cenderung akan menyimpan makanannya di kotak. Sebagai stok makanan untuk beberapa hari kedepan.

Hal ini tentu akan menjadi ‘santapan’ mantap bagi santri senior. Diam-diam biasannya jajan tersebut diambil dari kotak pemilik untuk kemudian dimakan besama-sama. Hal ini dilakukan sebagai peringatan dan pelatihan agar santri baru bisa memahami keadaanya yang hidup bersama. Makanan yang ia simpan, seharusnya teman-temanya sekamar juga ikut merasakan.

Baca Juga:  Pesantren dan Sosok Abdi Ndalem

Kejailan yang dilakukan oleh beberapa santri ini ternyata juga pernah dilakukan pula oleh beberapa sahabat tehadap ‘santri baru’ yang berasal dari suku badui. Keusilan ini dikomandoi oleh seorang sahabat yang memang terkenal usil dalam kesehariannya.

Beliau adalah Nuaiman bin Amr bin Rafaah salah seorang sahabat nabi yang terkenal dengan perangai humoris. Beberapa kali ia berhasil membuat Nabi tersenyum akan tingkahnya. Bahkan beberapa sahabat sempat bersikap sinis terhadap ulahnya yang mereka anggap sudah melebihi batas.Namun Rasulullah justru membelanya dengan sabdanya : “Jangan lakukan itu karena dia mencintai Allah dan Rasul-Nya

Dalam kitab Asad al-Ghobah fi Ma’rifat al-Sahabah karangan Syekh Izzuddin Ali bin Muhammad al-Jazri diceritakan suatu ketika datanglah seorang Badui yang hendak belajar pada Rasulullah. Karena ia datang dari pelosok desa ia datang mengendarai unta. Kemudian ia memarkir untanya itu di depan Masjid.

Kebetulan kala itu beberapa sahabat juga sedang berkumpul di pelataran masjid, termasuk juga Nuaiman. Syahdan, muncullah ide jail dari beberapa sahabat tadi untuk menyembelih unta milik badui secara diam-diam. Untuk memulusdkan ide itu ditunjuklah seorang yang lugu dan humoris untuk menjadi eksekutornya. Siapa lagi kalau bukan Nuaiman.

“Sudah lama kita tidak makan daging, bagaimana kalau engkau menyembelih unta badui yang menemui Rasul itu?”

Tak perlu menunggu lama, tawaran itu langsung dilakukannya. Ia beranggapan toh nanti Rasulullah yang akan mengganti unta tadi.

Ketika pemilik unta mengetahui untanya disembelih ia berteriak dan mengadukan permasalahan tersebut pada  Nabi SAW.

“Siapa yang melakukannya?” Tanya nabi.

Dengan kompak para sahabat yang berkumpul mengatakan “Nuaiman!”, Salah seorang sahabat disitu kemudian menunjukkan tempat dimana Nuaiman bersembunyi. Sambil tersenyum, Nabi bertanya.

Baca Juga:  Pesantren, Ilmu Hikmah dan Akhlakul Karimah

Mengapa engkau melakukan ini?”

Nuaiman menjawab.

“Tanyakan pada orang-orang yang menunjukkan kepada mu tempat persembunyianku wahai Rasulullah”.

Nabi pun tersenyum mendengar jawaban itu, Nabi paham betul apa yang menjadi maksud dan tujuan para sahabat dan nuaiman itu. Tentu mereka hanya bercanda dan ingin mendapat unta dari nabi.

Lantas mabi pun memberi ganti rugi kepada seorang badui pemilik unta tadi.

Cerita diatas menggambarkan betapa luasnya pengertian nabi akan sahabatnya yang berniat jail. Jangan disimpulkan cerita diatas bahwa sahabat nabi ‘kompak’ ingin mencuri ya. Karena sesuai konteks cerita diatas jika memang para sahabat ingin mencuri unta tersebut, logikanya pasti unta tersebut tidak disembelih di dekat masjid tersebut. Itu sama saja dengan bunuh diri.

Tujuan para sahabat diatas tentu sebagaimana dipahami nabi adalah sebatas bercanda kepada nabi. Atau dalam bahasa lain mereka sedang ‘menyindir halus’ nabi untuk mentraktir makan para sahabat. Toh dalam cerita tersebut Nabi justru tersenyum dan memberikan ganti atas unta tersebut.

Dari sini bukan maksud saya memberikan legitimasi atau pembenaran atas perilaku usil ataupun jail. Bagaimanapun sikap atau perilaku usil yang membuat orang lain tersinggung tentu tidaklah baik. Namun, saya ingin mengajak untuk melihat sisi lain daripada kejailan tersebut.

Bahwa apa yang dilakukan santri-santri terhadap santri baru tersebut tentu bertujuan untuk mendidik dan membiasakan santri baru tersebut untuk hidup dengan landasan kebersamaan. Mengenai makanan yang diambil tentu kelak setelah kejadin tersebut akan diganti. Bukan hanya diganti sesuai nilai makanan terebut, bahkan akan ditambahi dengan kebersamaan, persahabatan yang tak ternilai harganya. [HW]

Akhmad Yazid Fathoni
Santri, Pustakawan Perpustakaan Langitan

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini