(Kumparan.com)

Cinta, sebuah pertanyaan yang rasa-rasanya selalu dieprtanyakan apa maknanya sejak dulu kala sampai sepanjang sejarah perjalanan umat manusia, apan pun itu. Dan hal tersebut sudah menjadi satu keniscayaan logis serta fakta yang tak bisa ditolak. Setiap generasi dan zaman akan mengurai dan memaknai cinta dengan caranya masing-masing. Yang oleh itu, cinta selalu menjadi bahan percakapan yang tak pernah basi atau kadaluarsa.

Lalu apakah cinta itu sendiri?

Apakah cinta hanya terbatas pada lawan jenis? Antara laki-laki dan perempan saja?

Mari merenangi lebih dalam dan berekreasi lebih jauh untuk mencari cinta

Cinta sendiri adalah kata yang sering fiosof, sufi, sastrawan, penyair atau siapapun saja sebut. Pada dasarnya mereka yang membicarakan cinta adalah mereka yang selalu membicarakan tentang hal paling mendasar dalam hidup. Oleh sebab itu tak heran bila ada adagium Cinta adalah energi paling purba di alam semesta.

Peapatah tersebut bisa dibilang benar adanya, apalagi bila kita selaku muslim hendak mengurai cinta dari sudut pandang Islam. Tak perlu jauh membayangkan dan kemana hendak mencari dalil tentang bahwa Islam itu cinta dan Tuhan itu Maha Cinta itu sendiri. Cukup kita membuka lembar pertama Al-Qur’an pada surat Al-Fatihah, niscaya kita akan membaca kalimat yang sering kita sebut sebagai Basmallah. Dari kalimat tersebut bila kita urai, kita sudah menemukan jawaban atas pertanyaan kita. Di mana Tuhan selaku Sang Penguasa memiliki sifat Welas Asih atau kasih sayang yang tertulis dari kalimat Al-Rahman dan Al-Rahim.

Maka tepat sekali bila mengatakan bahwa Islam adalah Agama cinta yang membawa kedamaian tak hanya bagi umat manusia, namun seluruh alam semesta. Pasalnya kitab Islam sendiri telah menunjukan bahwa dia (Islam) adalah cinta lewat ayat pertama dalam surat pertama.

Dalam agama, cinta selalu menjadi alasan yang tepat untuk pemeluknya sampai keapada Tuhannya. Cintalah yang selalu menjadi landasan para sufi untuk menempuh jalan-jalan makrifat. Dan bagi para fiosof, cinta adalah alasan untuk selalu mencari yang sejati.

Gus Mus, dalam salah satu acara televisi mengatakan bahwa Tuhan memiliki seratus cinta, dan yang satu Tuhan berikan kepada alam semesta dan isinya untuk saling mencintai, dan yang Sembilan puluh Sembilan Tuhan berikan khusus kepada makhluk bernama manusia. Betapa mulia Tuhan dan kasih sayang-Nya kepada manusia.

Cinta lah yang sejatinya mampu membebaskan manusia dari penjara apapun, termasuk penjara ego, penjara penghormatan sosial atau malah penjara mencintai yang berharap cintanya berbalas.

Sujiwo Tejo, dirinya pernah mengatkan bahwa cinta itu tak ada karena-karena. Kalau ada seorang yang mampu mampi menjawab alasan mencintai karena A, B, C atau yang lain, berarti itu bukan cinta tapi kalkulasi.

Manusia, yang diciptakan atas dasar cinta, sejatinya dalam hidupnya dirinya tak pernah bisa lepas dari cinta. Keterarikan atau dorongan manusia unntuk berbuat baik, sejatinya adalah salah satu bentuk dari implementasi cinta. Cinta juga sebagai dorongan dan penyebab dari manusia untuk berbuat serta bertingkah laku baik sesuai huku universal. Apa itu huku universal? Adalah hukum yang semua orang sepakat, yaitu bahwa kebaikan adalah sesuatu yang didambakan semua orang.

Oleh karenanya, cinta adalah hal yang tak terbatas pada hubungan antara lelaki dan perempuan semata. Cinta lebih luas dari itu, lebih jauh dari itu, lebih dalam dari itu. Dan cinta tak boleh disempitkan sebatas itu saja.

Dalam dunia pesantren, misal, kita bisa saksikan kecintaan Kiai (guru) terhadap santri (murid) membuat sang Kiai rela mendarma baktikan diri dan hidupnya guna mendidik santri-santrinya, menjadi pewaris Nabi yang siap diri menghidupkan ajaran agama sepanjang hayat. Dan kepada santri, sebagai wujud atas kecintaanya, membuat dirinya rela mengabdikan dan melaksanakan serta membantu tugas apapun yang diperlukan Kiai semisal memasak, bertani, atau sering kita sebut mereka adalah Abdi Ndalem.

Maka cinta adalah energi yang mampu membuat manusia terangkat derjatnya, dengan cinta, manusia mampu lepas dari segala belenggu yang bersifat duniawi. Dengan cinta juga manusia layak untuk menyandang gelar sebagai manusia yang sesungguhnya.

Selamat mencari, cinta,

Wallahu A’lam Bishawab

Teni Maarif
Mahasiswa UIN Raden Intan jurusan Pendidikan Agama Islam semester 7 sekaligus Mu’allim (Pengurus Ma’had Al-Jami’ah UIN Raden Intan)

KH Anwar Manshur, Ta’limul Muta’allim Berjalan

Previous article

Pembelajaran yang Memerdekakan

Next article

You may also like

Comments

Tinggalkan Komentar

More in Aktifitas