Islam di Arab dan Islam di Nusantara

Islam adalah agama yang diturunkan oleh Allah swt kepada Nabi Muhammad saw, sebagai pedoman unntuk kebahagiaan hidup, baik di dunia dan akhirat. Yang secara bahasa Islam bermakna penyerahan diri, artinya seorang penganut Islam atau muslim, harus tunduk kepada Allah swt serta ketentuan-Nya. Namun secara teologis, Islam adalah system nilai dan ajaran-ajaran yang bersifat Ilahiyah. Agama ini muncul pertama kali di wilayah Arab, yaitu tahun 610 M yang di tandai dengan diterimanya wahyu Al-Qur’an oleh Nabi Muhammad saw. Hingga akhirnya, Islam menyebar ke berbagai penjuru dunia.

Misi agama Islam adalah menyeru umat manusia untuk mengikuti jalan Allah dan Rasulnya- mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya terang. Islam juga mengajarkan bahwa, manusia diciptakan Allah sebagai pengemban amanat. Salah satu amanat yang Allah berikan kepadanya adalah, menjadi Khalifah (pemimpin) Bumi. Karena itu, manusia wajib hidup dan berkehidupan dengan garis yang sudah di tetapkan Allah swt, dan tidak boleh menyalahinya sedikitpun. Begitulah agama Islam.

Islam Arab

Arab merupakan tempat turunya wahyu Allah Yang Agung, yaitu Al-Qur’an, tepatnya 17 Ramadhan atau 6 Agustus 610 M. Wahyu turun ketika Nabi Muhammad saw sedang berkhalwat (mengasingkan diri dari hiruk pikuk dunia) di Goa Hiro. Wahyu pertama yang turun adalah Q.S Al-Alaq ayat 1-5. Peristiwa tersebut menandai permulaan turunnya wahyu dan sebagai penutup diutusnya para Nabi dan Rasul terdahulu. Nabi Muhammad saw adalah Rasul terakhir yang diutus, beliau dilahirkan pada hari senin 12 Rabiul Awal tahun Gajah, bertepatan dengan 20 April 571 M. Beliau lahir dalam keadaan yatim. Nabi Muhammad saw. lahir dan besar dalam balutan tradisi dan budaya Arab, yang memiliki ciri khas dalam kestrukturan masyarakatnya, yaitu Kabilah. Kabilah merupakan organisasi keluarga besar yang anggotanya, satu sama lain memiliki pertalian darah. Namun, tidak semua anggota kabilah memiliki pertalian darah, adakalanya ikatan tersebut terbentuk dari proses perkawinan, politik atau karena sumpah setia terhadap kabilah tertentu. Nabi Muhammad saw merupakan keturunan dari kabilah Quraisy, dari Bani Muthalib, Ayahnya bernama Abdullah, dan Ibunya bernama Aminah.

Bangsa Arab termasuk rumpun bangsa Semit, yaitu keturunan Sam Ibn Nuh, serumpun dengan bangsa Babilonia, Kaldea, Asyuria, Ibrani, Punisia, Aram dan Habsyi. Bangsa Arab merupakan rumpun bangsa Semit yang masih bertahan sampai sekarang, sedangkan sebagian besar sudah lenyap dan tidak dikenal lagi. Arab adalah tempat tumbuh dan berkembangnya Islam dari masa kenabian hingga sekarang. Hal tersebut menjadikan Arab sebagai kiblat utama dalam kemajuan peradaban Islam di Dunia. Kebudayaan Arab tidak lepas dari nilai-nilai Islam, sehingga terjadi semacam distorsi ajaran Islam, yang pada akhirnya menjadi sebuah polemik dikalngan umat Islam, dan menjadi tanda tanya besar apakah kebudayaan tersebut merupakan kebudayaan Arab atau kebudayaan Islam (Syariat Islam).

Ada dua tanggapan mengenai pertanyaan tersebut di atas, pendapat pertama mengatakan bahwa kebudayaan tersebut lebih tepat disebut sebagai kebudayaan Arab, atau istilah lainnya kebudayaan Padang Pasir, karena kebudayaan ini lahir di tanah Arab. Meski begitu Abdul Muin Majid menyimpulkan bahwa tidak mudah mengetahui dasar-dasar kebudayaan Islam. Karena seperti halnya kebudayaan lain, kebudayaan Islam tidak muncul dengan begitu saja, tetapi ada proses pendahuluan yaitu munculnya kebudayaan-kebudayaan lain yang mendahuluinya. Kebudayaan Islam merupakan perpaduan dari kebudayaan lama dan baru. Antara keduanya kadang saling menopang, saling menutupi bahkan saling mengubah. Pendapat kedua beranggapan bahwa itu disebut kebudayaan Islam, karena meskipun kebudayaan ini lahir di Arab, tetapi dalam perkembangan nya, Islam adalah agama yang mendominasi dalam kebudayaan ini, dan syariat Islam merupakant satu-satunya pengikat bagi bangsa-bangsa Islam di dunia, baik di Asia, Afrika maupun Eropa.

Baca Juga:  Islam Agama Ilmu

Islam Arab merupakan Islam yang tumbuh dan berkembang di wilayah atau daerah Arab dengan kultur budaya Arab, yang sesuai dengan hukum dan syariat Islam. Problematika bangsa Arab sangat kompleks, mulai dari perselisihan antar madzhab, benturan penafsiran hukum, perseteruan politik, radikalisme, dan fanatitifisme agama, yang mana dampaknya sangat berpengaruh besar terhadap esensi Islam sendiri. Agama yang seharusnya dapat menuntun hidup menjadi terarah dan berkah, malah sebaliknya, agama dijadikan sebagai alat politik untuk mendapatkan kekuasaan, dampaknya adalah hancurnya peradaban dan kemanusiaan di tanah Arab.

Konflik politik dan radikalisme menjadi titik sentral problematika yang terjadi di tanah Arab. Politik telah menghancurkan stabilitas dan keamanan bangsa Arab. Irak, Afganistan, dan Syiria adalah bukti nyata hancurnya negara-negara Arab yang berlatar belakang politik. Radikalisme juga menjadi problem utama di Arab. Radikalisme seakan sudah mendarah daging dalam kultur budaya Arab. Bangsa Arab memang dikenal memiliki sikap yang keras dan fanatik terhadap golongan. Hal ini bisa dilihat dari karakteristik aliran Syiah yang sangat memuja-muja Ali sebagai pemimpin mereka. Sikap fanatik ini lah yang mengakibatkan perselisihan dan permusuhan di internal bangsa Arab.

Arab yang seharusnya menjadi contoh peradaban dan kemanusian Islam seakan kehilangan jati dirinya. Citra Arab buruk di mata dunia, hal ini menjadi tanda tanya besar, kenapa bangsa Arab yang notabennya adalah bangsa yang paling dekat dengan Islam, karena Islam turun dan berkembang di sana, tapi dalam kenyataannya tidak mencerminkan cara keberislaman yang baik, malah sebaliknya Islam di Arab menjadi momok menakutkan bagi bangsa lain, karena sumber kekacauan dunia berpusat di Arab. Bukti konkret sumber kekacauan di Arab adalah ISIS. ISIS tidak hanya menimbulkan kekacaun di tanah Arab saja, namun terornya sudah merambah ke dunia internasional. Alih-alih menjadikan Islam sebagai rahmatan lil alamin, malah menjadi laknatan lil alamin.

Itu lah segelintir potret tentang kehidupan Islam yang ada di tanah Arab. Islam turun dan berkembang di tanah Arab, tidak menjadikan sebuah jaminan bahwa bangsa Arab bisa menjadi Islami dan bisa menjadi contoh Islam yang rahmatan lil alamin sebagaimana yang diterangkan dalam Al-Qur’an.

Baca Juga:  Tentang Islam: Golongan Eksklusif, Jihad, dan Seruan Toleransi
Islam Nusantara

Islam Nusantara merupakan Islam yang lahir dalam balutan tradisi dan budaya Indonesia. Seperti kita ketahui bahwa Indonesia terkenal dengan kultur budayanya yang ramah dan santun. Indonesia juga dikenal sebagai negara multikultural, mulai dari suku, bahasa, adat, budaya, dan agama. Namun hal itu tidak menghalangi bangsa Indonesia untuk bersatu dan damai. Malah perbedaan tersebut menjadikan rahmat dan karunia dari Tuhan, karena dengan adanya perbedaan tersebut menjadikan masyarakat Indonesia menjadi toleran, yaitu saling menghargai dan menghormati satu sama lain.

Penyebaran Islam di Nusantara tidak lepas dari peran Walisongo sebagai penyebar Islam di Nusantara. Walisongo, merupakan tokoh penyebaran dan pengembangan agama Islam di Indonesia, khususnya di Jawa. Kata wali secara istilah mempunyai arti julukan untuk orang-orang Islam yang diberi tugas untuk menyebarkan Islam, yang dianggap sebagai “Kekasih Allah”, yang dikaruniai kekuatan gaib atau karamah, serta mempunyai ilmu yang tinggi dan sakti mantraguna. Sementara kata songo masih menjadi perdebatan dalam penafsirannya. Ada yang beranggapan bahwa arti kata songo berasal dari bahasa Arab yakni “Tsana” yang maknanya sama dengan “Mahmud”, yaitu terpuji atau mulia. Ada juga yang mengatakan bahwa arti dari kata songo berasal dari bahasa Jawa yang berarti sembilan, Jadi menurut pendapat ini Walisongo diartikan sembilan wali penyebar Islam di Indonesia..

Fakta sejarah menyatakan bahwa penyebaran Islam di Indonesia dilakukan dengan cara damai, toleransi, tanpa paksaan, tanpa adanya pertumpahan darah, dan tanpa merusak tradisi atau budaya lokal. Metode dakwah yang dipakai oleh Walisongo adalah al-hikmah, yang secara populer, atraktif, dan sensasional dipraktekkan dalam balutan tradisi dan budaya Indonesia. Cara pelaksanaan dakwah ini dipergunakan untuk merespon masalah masyarakat awam yang taklid terhadap ajaran nenek moyang nya. Sekaten merupakan bentuk nyata Sunan Kalijaga mengedepankan nilai toleransi terhadap budaya masyarakat dalam penyebaran Islam di Jawa, yang mana hal ini menjadi Oppertune tersendiri dalam metode penyebaran agama Islam agar diterima dengan sukarela, tanpa menghapus kebudayaan yang ada, namun mengubah nilai yang terkandung di dalamnya agar sejalan dengan syariat Islam.

Baca Juga:  Menakar Film Jejak Khilafah di Nusantara dalam Bingkai Pemikiran Kiai As’ad Syamsul Arifin

Sikap seperti itulah yang ingin ditanamkan kembali oleh sebagian umat Islam Indonesia untuk menjawab tantangan dan kondisi negara Indonesia yang mengalami perkembangan, baik dari segi ekonomi, sosial, budaya, dan agama. Hal inilah yang melahirkan istilah Islam Nusantara, sebagai respon terhadap gejala sosial dan budaya yang berkembang di masyarakat, sehingga ada anggapan bahwa Islam harus mampu dan bisa menyesuaikan diri dengan perkembangan zaman. Islam Nusantara juga bisa dijadikan sebagai perbandingan terhadap Islam Arab.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Islam Nusantara merupakan Islam yang ideal, jika dibandingkan dengan Islam Arab. Islam Nusantara mampu membawa umat Islam dalam persatuan dan kesatuan, dalam keamanan dan perdamaian, serta mampu membangun keharmonian sosial, budaya dan agama. Islam Nusantara bukan tidak mungkin akan menjadi kiblat umat Islam dunia, dalam artian sebagai contoh teladan dalam keberislaman yang mengedepankan sikap persaudaraan, dan toleransi. Jika Islam Nusantara dikembangkan dan dijaga dengan baik, bukan tidak mungkin Islam Nusantara akan melahirkan sebuah peradaban dan kemanusian baik di Indonesia maupun Dunia. []

Salman Akif Faylasuf
Santri/Mahasiswa Fakultas Hukum Islam, Universitas Nurul Jadid Paiton Probolinggo

    Rekomendasi

    1 Comment

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini