Hasan Abdillah: Sang Penegak Istiqomah dari Tanah Glenmore

“Segalanya harus didasari rasa cinta terlebih dahulu agar engkau istiqamah dalam beribadah.” (KH. Hasan Abdillah Ahmad)

Kiai Thohir bin Achmad Qusyairi berpendapat, bahwa hal yang menarik dari KH. Hasan Abdillah adalah, ketika kita mengkaji Bidayatul Hidayah, semuanya itu diamalkan oleh almaghfurlah Kiai Hasan. Hingga kini dalam kenangan, Kiai Hasan dikenal sebagai sosok yan begitu istiqamah dalam mengamalkan sunnah Nabi dan perihal kebaikan lainnya.

“Almarhum itu punya guru yang senantiasa dijadikan panutan, pertama abahnya sendiri Syekh Achmad Qusyairi, kedua adalah KH. Abdul Hamid Pasuruan, dan ketiga adalah KH. Hasan Genggong” tutur KH. Musthafa Helmy.

Ketiga guru tersebut selalu dikaji oleh KH. Hasan Abdillah, bahkan senantiasa meniru kebiasaan-kebiasaan dan akhlak beliau. Seperti halnya ketika masuk ke kamar mandi, Kiai Hasan tidak pernah melepas peci, cara makan dan sebagainya senantiasa copy paste kepada Kiai Achmad Qusyairi, Kiai Abdul Hamid Pasuruan, dan Kiai Hasan Genggong.

Dari apa-apa atau kebiasaan dari para gurunya, Kiai Hasan mengamalkannya dengan begitu istiqomah. Begitupun juga dalam hal ibadah, baik itu wajib maupun sunnah, sholawat, dan mengadakan pengajian rutin beliau lakukan dengan istiqamah.

Dari laku amaliah ibadah dan keilmuannya yang dilakukan dengan istiqamah itu, tak lupa juga Kiai Hasan banyak menularkannya pada para santri dan tamu yang berkunjung padanya.

“Hati dan anggota badan itu tidak akan tekun mengamalkan apa saja jika belum ada rasa cinta pada perkara tersebut. Begitu pula jika engkau cinta kepada Allah Ta’ala, engkau harus tekun dan cepat-cepat ibadah kepada-Nya” nasihat Kiai Hasan.

Itulah mengapa beliau mengamalkan apa-apa yang terkait dengan ibadah dan amaliah lainnya dengan istiqamah, karena didasari dengan rasa cinta.

Baca Juga:  Kebahagiaan Menurut Syed Naquib Al-Attas

Dilansir dari tulisan tim Komunitas Pegon Banyuwangi, yang bertajuk “Risalah al-Istiqamah, Referensi Amaliah KH. Hasan Abdillah Glenmore”. Tersusunnya risalah Al-Istiqamah terdapat suatu cerita yang perlu kita ketahui. Suatu ketika ada salah satu santri dari Demak bernama Kiai Ahmad Suyuthi. Ia datang ke Glenmore untuk berkunjung pada Kiai Hasan. Menurut Kiai Washil, Kiai Ahmad Suyuthi berasal dari Semarang.

Seperti tamu-tamu pada umunya, Kiai Ahmad Suyuthi diberi nasihat-nasihat untuk selalu tekun menjaga amaliah ibadah. Ketika itu juga, Ahmad Suyuthi mengusulkan pada Kiai Hasan untuk menuliskan semua amaliah-amaliah/laku ibadah yang dilakukan secara istiqamah itu. Tujuannya tak lain supaya bisa disebarluaskan dan dipelajari oleh banyak kalangan. Hal ini juga disampaikan oleh putra bungsu Kiai Hasan.

Dari apa yang diusulkan Kiai Ahmad Suyuti  mendapat tanggapan positif dari Kiai Hasan. Kemudian, Kiai Suyuti sendiri yang ditunjuk oleh Kiai Hasan untuk menyusun setiap amaliah-amaliah yang istiqamah diterapkan Kiai Hasan. Amanat gurunya itu pun bisa diselesaikan pada 11 Safar 1411 H, atau bertepatan pada 8 September 1990. Risalah tersebut disusun dengan nama “Risalah al-Istiqamah”, yang segala isinya ditulis dengan Arab pegon Jawa.

Risalah tersebut terdiri dari amaliah wajib maupun sunnah. Baik amaliah harian maupun pada waktu-waktu tertentu mulai dari Rajab, Rabiul Awal, Sya’ban, Ramadhan, Syawal dan Dzulhijah. Didalamnya terdapat 46 judul amaliah yang tercantum di daftar isinya. Mulai dari sholat wajib maupun sunnah, cara bersuci dan kumpulan doa-doa.

Tidak hanya itu, ada juga bab yang membahas tentang aqidah dan akhlak. Diantaranya hubungan/adab anak dan orang tua begitupun sebaliknya, hak wajib hubungan suami istri dan yang lain. Sedangkan perihal aqidah adalah asmaul husna, dan asma’ Syekh Abdul Qadir Al-Jailani.

Baca Juga:  Perihal “Cinta”, dan Ragam Pandangan Ulama Tentang-nya

Dari risalah tersebut juga dilengkapi dengan referensi yang jelas, baik itu dari Al-Qur’an, hadits, dan juga kitab-kitab muktabarah. Diantaranya: Tafsir al-Ibris, Durotun Nasihin, Ihya Ulumudin, Nazhatul Majaalis, Sulamul Munajah, Safinatun Naja, Al-Hikam, Aqidatul Awam, Tafrijul Khatir, dan kitab lainnya.

Edisi pertama risalah tersebut diterbitkan oleh Maktabah al-Alawiyah, Semarang, Jawa Tengah, dan terdapat endorsement dari Rais Aam PBNU KH. Achmad Shiddiq, yang masih saudara se-ayah dari Kiai Achmad Qusyairi. Kemudian edisi selanjutnya terdapat sambutan dari KH. Dailimi Ahmad, Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Huda, Badean, Blimbingsari.

Risalah Al-Istiqomah ini juga banyak yang mengkaji, seperti halnya salah satu Pondok di Lamongan yang juga terdapat Universitas di dalamnya, UNISDA (Universitas Islam Darussalam) Lamongan, biasanya dikaji khusu untuk santri baru. Lalu, juga banyak dikaji oleh ibu-ibu muslimat NU di daerah Jember, Surabaya dan daerah Jawa Tengah.

Berkata Kiai Thohir bin Achmad Qusyairi, apa yang ditulis dalam risalah al-Istiqamah tersebut sudah diamalkan sepenuhnya oleh Kiai Hasan.

“Mangkanya abah itu ngarang kitab Al-Istiqamah, ya karena memang istiqomah” tutur Kiai Washil.

Apa yang dilakukan oleh KH. Hasan Abdillah memanglah contoh yang baik untuk kita para muhibbin-nya. Begitu pula baginda Nabi Muhammad saw, yang senantiasa beramal terlebih dahulu sebelum bicara. Hal itulah yang menjadikan dakwah beliau mempunyai kekuatan ruhiyah yang kuat karena beliau terlebih dahulu mengamalkan apa yang beliau dakwahkan. Dalam bab ini, juga termaktub dalam Al-Qur’an surah Ash-Shaff ayat 3:

            كَبُرَمَقْتًاعِنْدَ اللهِ اَنْ تَقُوْ لُوْنَ امَالَا تَفْعَلُوْنَ

Artinya: “Amat besar kebencian di sisi Allah jika kamu mengatakan apa-apa yang tidak kamu kerjakan

Kiai Hasan Abdillah mengamalkan ayat di atas sebelum menasehati dan memberikan amalan-amalan pada para santri dan tamunya. Maka dari itu, istiqomah dalam melakukan segala hal kebajikan sangatlah penting, karena:

Baca Juga:  Keteladanan KH. MA Sahal Mahfudh: Patuhi Prosedur

إِنَّ ٱلَّذِينَ قَالُوا۟ رَبُّنَا ٱللَّهُ ثُمَّ ٱسْتَقَٰمُوا۟ تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ ٱلْمَلَٰٓئِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا۟ وَلَا تَحْزَنُوا۟ وَأَبْشِرُوا۟ بِٱلْجَنَّةِ ٱلَّتِى كُنتُمْ تُوعَدُونَ

“Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami ialah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka Malaikat akan turun kepada mereka dengan (dengan berkata), “Janganlah kamu merasa takut dan janganlah kamu bersedih hati: dan bergembiralah kamu dengan (memperoleh surge yang telah dijanjikan kepadamu”. (QS. Fushilat: 30).

Oleh sebab itu, sebelum wafat beliau masih bisa mengucapkan kalimat syahadat, dan Allah SWT menurunkan beberapa malaikat, allaa takhofu wa laa tahzanu (berbisik di telinganya orang yang istiqamah, siapapun yang istiqamah), termasuk beliau, almaghfurlah KH. Hasan Abdillah.

“Janganlah takut dan bersedih, keluargamu semuanya Allah yang akan menjaga, bukan manusia dan juga bukan apapun, tapi hanya Allahlah yang menjaga”

Dalam kitab Riyadhus Shalihin jilid 1 bab “Mengerjakan Kebaikan Secara Istiqamah” termaktub: Dari Aisyah r.a, dia berkata: “Agama yang disukai oleh Rasul adalah yang dilakukan oleh seseorang dengan istiqamah

Orang yang istiqamah dalam mengamalkan kebajikan, Allah menjanjikan surga kepada orang yang senantiasa istiqomah melaksanakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya, dan janji Allah itu pasti. Nikmatnya orang-orang yang istiqamah itu, surga sudah di tampakkan oleh Allah SWT. Hingga kini, kitab Al-Istiqamah masih banyak yang mengkaji, terutama kalangan santri-santri Kiai Hasan sendiri. []

Ali Mursyid Azisi
Mahasiswa Studi Agama-Agama - UIN Sunan Ampel, Surabaya dan Santri Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya

Rekomendasi

1 Comment

  1. […] setelah membaca surah Yasin langsung disambung dzikir Laa ilaaha illallah. Hal yang penting menurut Kiai Hasan Abdillah yaitu bacaan surah […]

Tinggalkan Komentar

More in Ulama