Gus Baha dan Tradisi "Entertainment" Pesantren dalam Ruang Digital (1)

Sekitar awal tahun 2013 saya sudah mulai “mengenal” ceramah Gus Baha lewat jaringan internet secara tak sengaja ketika mencari rekaman kajian Kiai Imron Jamil Jombang yang saat itu saya nilai sebagai salah satu kiai “cerdas” dimana kajiannya relatif komplit menunya. Apalagi penjelasan Gus Jamil (Begitu saya menyebut beliau saat itu) selalu merujuk bukan hanya pada kitab kuning tapi juga nalar rasional yang “modern”.

Dalam upaya mencari berkah ilmu para kiai itulah saya menemukan pengajian Gus Baha dalam versi MP3 dan mulai mendengarkan secara seksama. Ternyata penjelasan dan teknik penyampaian Gus Baha yang lebih santai dan juga memiliki kemiripan dengan Gus Jamil dalam memberikan sarah atau memaknai secara “rasional” membuat saya jatuh cinta pada beliau.

Sejak saat itulah saya rajin mengumpulkan pengajian Rutin beliau baik yang di Jogja, Rembang ataupun Bojonegoro yang di-upload di internet oleh santri beliau. Saat itu beliau belum populer atau terkenal seperti saat ini. Bahkan penikmatnya hanya santri-santri setia yang juga dilarang keras menampilkan foto dan apalagi video. Hanya suara beliau yang khas yang bisa kita nikmati. Tapi yang namanya Kang Rukhin dan Kang Mustofa sudah menjadi “ikon” di setiap kajian di Jogja.

Ketika saya mendapatkan beasiswa PIES ke ANU Australia, saya semakin leluasa mengumpulkan dan mendengarkan kajian Gus Baha dan bahkan sempat mendiskusikan kepada Gus Nadhirsyah Husein agar segera bisa mengenalkan Gus Baha ke kalangan intelektual “sekolahan”. Karena saat itu saya juga sudah tahu jika Gus Baha sudah menjadi “staf khusus” di UII Jogjakarta. Setelah saya kirimi Gus Nadhir rekaman pengajian Gus Baha, ketua Syuriah NU Australia ini tersenyum dan bilang “Saya tidak begitu memahami kalau pakai bahasa Jawa”. Kala itu saya juga mengusulkan kepada beliau agar mengundang Gus Baha ke Australia.

Baca Juga:  Santri sebagai Identitas Abadi

Kemunculan Gus Baha saat itu sebenarnya sudah bisa dirasakan akan menjadi kiai “besar” karena pemikiran dan sudut pandangnya yang khas, rasional, to the poin, terbuka, tidak monoton, meskipun tetap ada guyonan khas pesantren.

Lebih dalam lagi kajian Gus Baha selalu memuat pilihan atau alternatif rujukan yang mencerdaskan dan membuat pendengarnya merasa tidak digurui dan menjadi lebih cerdas dalam memilih fatwa ulama. Gus Baha memiliki kemampuan mengkomunikasikan wacana yang dikenal atau terkesan rumit menjadi lebih sederhana, dan bisa diterima oleh masyarakat umum. Hal inilah yang menjadikan orang yang awam agama dari semua golongan dan latar klas serta status sosial bisa menerima kehadiran Gus Baha.

Di sisi lain Gus Baha juga mampu menampilkan narasi keteladan para nabi dan sahabatnya yang lebih bervariatif. Dengan bekal inilah pakar tafsir ini mampu menumbuhkan sikap optimisme ummat, agar tidak terlalu hidup dalam tekanan doktrin agama yang kaku. Dalam bahasa kiai muda Rijal Mumazziq Z Gus Baha dikenal sebagai ulama yang lebih menekankan dan menawarkan spirit “raja’” dibandingkan “khauf” dalam beragama. “Allah dihadirkan dan dikenalkan Gus Baha kepada masyarakat dalam sifat Rahman-Rahim dan Al-Ghafur-Nya.” Sehingga memberikan rasa optimis kepada para santri dan Muhibbin Gus Baha yang lintas golongan dan status sosial tersebut. #Bersambung. []

Muhammad Khodafi
Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Ulama