Humor

Gerakan “Cangkem Elek” di Bulan Maulid

Tidak terasa telah berjumpa kembali dengan bulan mulia, bulan kebahagiaan bagi jagat semesta, semua umat islam bersuka ria dan mengabadikannya sebagai bulan Maulid. Bulan dimana makhluk tercinta, paripurna, dan mulia yang pernah diciptakan oleh Allah dilahirkan di dunia.

Mayoritas umat Islam di Bumi Nusantara bersuka cita dengan melaksanakan berbagai tradisi dan budaya dalam menyambut bulan Maulid. Bersholawat, mengadakan pengajian, berlomba-lomba untuk bersedekah, bersilaturahmi dalam satu majelis dan banyak lagi kegiatan-kegiatan yang lain. Seluruh kegiatan tersebut merupakan ejawantah dari kecintaan dan kerinduan kepada Kanjeng Nabi Muhammad.

Namun ironi dalam semarak bulan maulid ternyata tidak lepas dari kelompok-kelompok yang tidak menyukai perayaan bulan Maulid. Pernyataan-pernyataan seputar tidak ada dalil maulid, Nabi tidak pernah mensyariatkan maulid, dan merupakan pengamalan kelompok syiah, Sangat sering terdengar dalam video-video pendek kajian seorang ustadz dan tulisan-tulisan di Web yang berafiliasi dengan kelompok-kelompok tertentu yang tidak menyukai dan tidak mengamalkan maulid.

Jika saja para Ulama’, Habaib dan Kiai yang mengamalkan dan memperingati bulan maulid, maka akan dijumpai banyak dalil-dalil agama yang menjawab, baik dalam alquran ataupun hadis yang menjelaskan tentang maulid. Namun, untuk kalangan awam yang pengetahuan agama yang tak terlalu cetek, jawaban-jawaban yang dilayangkan akan sangat variatif.

Tanpa mengurangi sedikitpun substansi yang berbasis syariat pula.
Pertama, pernyataan kalau maulid tak ada dalilnya, jawabannya kalau untuk mencintai Rasulullah yang sangat mulia dan tercinta yang selama hidupnya beliau rela berkorban nyawa harta demi tegaknya dinul Islam. Maka apakah untuk senang dan bahagia atas kelahirannya masih diperlukan dalil? Kecintaan dan kerinduan terhadap Rasulullah adalah mutlak kewajiban bagi umat Islam.

Rasulullah begitu mencintai umatnya dengan seluruh jiwa raganya. Jika untuk membalas cinta kepada beliau saja butuh alasan dan dalil, maka perlu dipertanyakan keislamannya. Maka yang mengaku paling mencintai tanpa larut dalam kebahagiaan pada hari dan bulan kelahirannya maka sejatinya cintanya palsu.

Kedua, nabi tidak pernah mensyariatkan maulid. Jawabannya kalau saja pernah merayakan ulang tahun, anniversary pernikahan, hari-hari tertentu yang berbahagia dan kemudian merayakannya. Lalu kenapa untuk merayakan hari lahir kanjeng Nabi saja masih tanya syariatnya? Apakah merayakannya dengan cara menumbuhkan kecintaan dalam satu majelis bersholawat bersama, bersilaturahmi dalam satu majelis, mengaji kepada para Kiai yang dalam nasehatnya selalu menjelaskan tentang perjuangan dan suri tauladan Kanjeng Nabi untuk kemudian menirunya. Apakah yang demikian bukan syariat? Bahkan itu lebih syariat dari yang mereka sebut syariat.

Ketiga, maulid adalah amalan orang syiah. Jawabannya, jika tidak ada dalil yang melarangnya maka selama itu baik dan sholeh. Tentu melaksanakannya adalah bentuk amalan baik. Tentu tidak mungkin merayakan maulid dengan melaknat, mengolok-ngolok, menyesatkan orang yang tidak merayakannya. Justru dengan merayakan maulid rasa kasih sayang terhadap sesama akan terus tumbuh dan bertambah, kecintaan terhadap Islam Rahmatan Lil Alamin yang dibawa Kanjeng Nabi semakin tinggi, dan bahkan para Kiai selalu memberi semangat untuk terus mencintai dan menjaga Negara Indonesia ini melalui mimbar-mimbar dalam acara Maulid.

Soal cinta dan rindu, seorang Majnun tidak akan pernah menuntut alasan untuk apa mencintai Laila. Karena sejatinya cinta adalah kata yang tak pernah terucap. Adanya dalam hati, jika cinta kepada kanjeng Nabi kau masih ragu ada atau tidak adanya dalil. Maka kesungguhan cintamu terhadap manusia yang paling sempurna perlu dipertanyakan pada Pak Didi Kempot. Pasti beliau menjawab “Cintamu Ambyar”

Arif Chasbullah
S1 Ilmu Al Qur'an dan Tafsir UIN Sunan Ampel Surabaya, Santri Ponpes Miftahul Ulum Banyuputih Kidul, Jatiroto, Lumajang.

You may also like

Tinggalkan Komentar

More in Humor