Dua Sisi Cemburu

Cemburu. Satu kata yang sudah mafhum bagi jamak kita. Siapakah di antara kita yang tidak pernah cemburu? Well, dilihat dari lanskap disiplin ilmu manapun, cemburu memang sama tuanya dengan sejarah manusia. Hal ini bisa dibuktikan dengan kehadiran penduduk bumi kala itu yang baru berjumlah enam orang, yaitu: Adam, Hawa, Qabil, Habil, dan kedua saudara perempuannya. Tentu Anda masih ingat terkait cerita itu, bukan?. Berkat cemburu itulah peristiwa pembunuhan untuk kali pertama terjadi. Bahkan, konon nabi Adam a.s “terusir” lantaran kecemburuan “Iblis”.

Mari kita lihat dari lanskap kehidupan kita. Cemburu sering kali diidentikan dengan anggapan ketidakadilan yang orang lain berikan kepada kita. Melihat orang lain diperlakukan atau diberikan sesuatu ‘lebih’ dibanding terhadap kita. Terlebih bila kita sedikit menyinggung dalam hubungan percintaan. Tentu cemburu dalam hubungan ini jauh lebih rumit. Apa sebab? Tak jarang respon yang dipantulkan seseorang yang sedang cemburu berkonotasi negatif dan cenderung berlaku posesif.

Memang tak hanya dalam hubungan percintaan saja. Hubungan persaudaraan, hubungan pertemanan, hubungan kekeluargaan, dan hubungan yang lain juga sama. Cemburu sama-sama bisa memicu respon yang bisa membidik mata hati dan menusuk jantung kesadaran kita. Bisa kita saksikan dalam banyak peristiwa–lantaran cemburu yang berlebih memicu terjadinya peristiwa yang berujung tragis. Baik itu cemburu sosial atau cemburu personal.

Cemburu personal, misal. Dalam suatu rumah tangga, seorang istri cemburu hebat setelah mengetahui suaminya selingkuh. Kecemburuan istri mengobarkan api kemarahan yang dahsyat hingga berakhir dengan sang istri menghabisi nyawa suami.

Bayangkan bila kita berada di posisi sang istri. Apakah bila orang yang kita cintai hilang dari kehidupan kita, justru itulah yang memberikan efek puas bagi kita? Saya rasa tidak. Setiap orang tidak ingin yang dicintai pergi. Luapan emosi dan kekecewaan berlebih saja yang memang sudah tidak bisa dibendung—hingga apapun bisa dijadikan pelampiasan dan pembenaran suatu lakon tragis. Ujungnya; ya, penyesalan.

Baca Juga:  Sayyidah Aisyah Juga Cemburu

Kendati banyak sisi negatif dari cemburu, cemburu bukanlah suatu hal yang tidak wajar. Cemburu menjadi lumrah, bahkan menjadi ‘pas’ dan ‘asyik’ bila diiringi dengan kontrol diri agar tidak kebablasan. Dalam dari itu, adanya cemburu menjadi ‘bumbu’ dalam suatu hubungan. Anda tidak percaya? Mari kita buktikan. Anda bisa rasakan saat menikmati masakan yang dibumbui dengan masakan yang tidak dibumbui. Kemudian bedakan antara kedua masakan itu. Tentu jauh lebih nikmat dan bercita rasa tinggi masakan yang dibumbui, bukan?

Demikian halnya dengan cemburu. Cemburu menjadi ‘bumbu’ untuk mengelola kepekaan–sehingga menghadirkan harmonisasi dalam suatu hubungan. Sungguh indah ya, bila kita bisa mengelola kecemburuan?

Mari kita menilik sebuah penelitian yang diselenggarakan oleh dua profesor psikologi University of Delaware yang mengatakan bahwa rasa cemburu bahkan dapat “membutakan” seseorang. Saya sependapat akan hal itu. Melihat fenomena yang kerap terjadi, alih-alih terlampau sayang dan takut kehilangan, seseorang akan melakukan hal apa saja di luar kendalinya saat dirundung perasaan cemburu. Kendati demikian–lagi; Cemburu tidak melulu berkonotasi negatif. Tergantung si pembawa ‘cemburu’ untuk mengelolanya.

Pada akhirnya, mari kita berterimakasih kepada ‘cemburu’. Sebab disadari atau tidak—kita pernah merasakan cemburu–hingga membawa kita untuk melihat sisi lain dari ‘cemburu’. Terimakasih cemburu. Semoga kamu bisa berdamai selalu denganku. []

Tri Faizah
Penulis adalah Mahasiswa UIN Raden Intan Lampung Jurusan Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir sekaligus Mahasantri Ma’had Al-Jami’ah UIN Raden Intan Lampung.

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini