Dimana Manusia Dapat Menyerupai Hewan Menurut Pemikiran Ibn Bajjah
Pandangan Ibn Bajjah dan Al-Farabi tentang Mutawahhidin

Masih dalam buku referensi yang sama dan begitu menarik untuk dibaca, yaitu karya Sirajudin Dzar “Filsafat Islam”. Pemikiran Ibn Bajjah dan Al-Farabi dalam sebuah pengertian Mutawahhidin, terdapat perbedaan yang bertolak belakang antara keduanya. Al-Farabi mengatakan bahwa yang diasingkan atau terisolasi dari suatu negara itu bukanlah kalangan para filosof yang ada pada negara yang dikatakan tidak ideal, beliau mengatakan bahwa yang terasingkan justru orang orang atau individu yang tidak berguna bagi bangsanya atau bisa disebut sampah negara.

Orang-orang yang seperti ini terisolasi atau terasingkan dari kemunitasnya atau masyarakat negara tersebut serba dan saling sempurna, hal inilah yang dapat meruntuhkan suatu negara ideal, begitulah menurut Al-Farabi. Sedangkan Mutawahhidin menurut pemikirannya Ibn Bajjah dalam terbentuknya suatu negara yang ideal. orang yang terisolasikan itu justru yang mempunyai kelainan dalam berfikir. Maksudnya, yang mempunyai cara berpikir mendalam bahkan bisa disebut sesat dan radikal.

Akan tetapi orang yang seperti ini tidak sampai terjerumus ke dalam pemikirannya. Dengan demikian, antara Ibn Bajjah dan Al-Farabi saling bertolak belakang dalam pemikiran Mutawahhidin ini, dan terjadi suatu keputusan epistimologi. Pemikiran dan pemahaman Ibn Bajjah melalui terma, sedangkan Al-Farabi adalah sebuah pemikiran yang rancau yang seharusnya kita hindari. Arti Tadbir setelah dipertegas oleh Ibn Bajjah yang berarti tentang pengaturan tingkah laku dari manusia. Kemudian Ibn Bajjah melakukan suatu tindakan pengamatan dan analisa tentang tingkah laku manusia itu sendiri.

Tiga Bentuk Perilaku Manusia

Dalam diri manusia, terdapat tiga komponen utama yaitu indra, jasmani, dan akal. Oleh karena itu Ibn Bajjah membagi menjadi tiga bentuk perilaku manusia. Pertama yaitu, perbuatan seseorang yang berasal dari jasad atau jasmani, bisa juga disebut suatu tindakan yang nyata dilihat serta dirasakan oleh panca indra. Contoh: bergerak ke samping, turun ke bawah, memanjat ke atas.

Baca Juga:  Saya Siap Menjadi Kaya, Saya Bersedia Menjadi Manusia, Saya Bangga Menjadi Indonesia

Kedua, yaitu suatu perilaku yang murni berasal dari tabiat. Kategori ini juga tidak termasuk dalam tadbir dan tidak dapat diterima oleh tadbir, karena pada waktu itu Ibn Bajjah menjelaskan bahwa antara hewan dan manusia tidak lagi ada perbedaan. Maksudnya perilaku atau tingkah laku manusia tidak ada bedanya dengan hewan yang hanya mengutamakan hawa nafsu. Ketiga, yaitu sebuah perbuatan berasal dari suatu posisi manusia dimana menunjukkan sebagai entitas (keberadaan) yang memiliki akal (berakal).

Dalam hal tersebut terbagi menjadi dua bagian atau konsep. Pertama, perbuatan atau tingkah laku yang berasal dari ilham Sang Maha Pencipta (Tuhan). Kedua, suatu perbuatan yang yang mucul dari dalam diri kita sendiri. Di dalam konsep suatu perbuatan yang berasal dari Tuhan itu tidak menerima tadbir karena manusia tidak bisa secara bebas dalam berfikir untuk mencari suatu kebenaran dan apa yang menjadi tujuan dari manusia sendiri.

Manusia tidak bisa dikatakan sebagai “manusia” jika suatu perilaku berasal dari ilham Tuhan. Karena manusia tidak bisa memiliki kebebasan dalam melakukan seuatu tingkah laku sesuai dengan kehendaknya sendiri. Begitu juga yang disebut tadbir, yang hanya berlaku jika suatu apa pun dari tingkah laku atau perbuatan berasal dari dalam diri manusia dan juga bersifat bebas.

Dengan adanya ini, manusia dapat bisa dibedakan dan mempunyai perbedaan dengan hewan serta tumbuhan. Tidak hanya itu, jika suatu perbuatan yang berasal dari diri sendiri dan atas kehendak sendiri itu menggambarkan cerminan dari sebuah penalaran. Dan penalaran berasal dari ciri-ciri manusia.

Dimana Manusia Bisa Serupa Dengan Hewan

Sebuah karakter dalam diri manusia yaitu hanyalah semata untuk menentukan tingkat kapabilatas yang selama ini terdapat dalam diri manusia. Tetapi jika perbuatan manusia menggunakan naluri yang sifatnya kehewanan semata atau (quwwah hayyawanah), hal ini dapat menimbulkan akal bisa tunduk terhadap naluri kehewanannya/kebinatangannya.

Baca Juga:  "Kiai Sae" (KH. Muhammad Arwani Amin-Kudus)

Jika sudah begini, manusia bagaikan hewan yang tak seperti manusia sewajarnya. Karena, boleh saja ia disebut manusia, akan tetapi jika akalnya seperti hewan, maka dapat dikatakan pula labih buruk dan lebih hina daripada hewan. Sebab, hewan dalam melakukan segala sesuatunya itu hanya dasarnya hewan hanya diberi mafsu saja, tidak diberi kemampuan berfikir.

Beda halnya dengan manusia, manusia diberi akal juga diberi pikiran dan dapat membedakan dan mengetahui baik buruknya sesuatu.

Akan tetapi, ada juga sebagian manusia yang tidak seperti hewan perbuatannya. Manusia yang dimaksud kali ini yaitu yang dapat mengendalikan akal kebinatangannya dan segala perbuatannya. Manusia yang seperti ini sifatnya masih sama pada umumnya yang bersifat manusiawi. Dia melaksanakan berbagai kegiatan atau perilaku yang menjadi dasar titik temunya antara binatang dan manusia.

Contohnya: seperti makan dan minum. Manusia sama seperti hewan membutuhkan makan dan minum. Tetapi bagi menusia hal tersebut bukan tujuan utama dalam hidupnya, bagi manusia makan dan minum adalah sebuah kebutuhan yang mutlak. Kerena dengan makan dan minum, manusia dapat melakukan berbagai aktivitas yang sifatnya positiif dan baik.

Terdapat pada buku Risalah al-Wadi’ dan Tadbir al-Mutawahhid, karya Ibn Bajjah. Ia menuliskan sebuah kritikan pada seluruh sufi secara umum dan khusunya pada al-Ghazali. Sehingga pada akhirnya Ibn Bajjah disebut sebagai pemicu terpisahnya akademisi Islam di bagian Barat dan hasil pemikiran al-Ghazali. Hal itu sama juga dengan Ibn Bajjah telah menumbuhkan dan menanam bibit-bibit permusuhan antara al-Ghazali dengan Akademisi Islam bagian Barat, dan yang selanjutnya di teruskan oleh Ibn Rusyd dan Ibn Tufail.

Tetapi hal itu semua bukan sebuah faktor utama dari yang mempengaruhi pemikiran dari beliau. Bentuk pemikirannya juga dipengaruhi dari pengalaman hidupnya juga. Akibat dari para bangsawan Murabithin yang jauh dari perilaku beragama mengakibatkan hati Ibn Bajjah seakan tersayat dalam kesehariannya. Merekapun juga tidak berperilaku dengan baik dalam hal kekuasaan juga dan jauh sekali dari agama. []

Ali Mursyid Azisi
Mahasiswa Studi Agama-Agama - UIN Sunan Ampel, Surabaya dan Santri Pesantren Luhur Al-Husna, Surabaya

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Opini