Dari Kota Malang Kita Menggugat Pembelajaran Daring

Kota malang sangat identik dengan istilah kota Pendidikan. Istilah itu lahir buka self claim saja, akan tetapi di kota malang sendiri memiliki sejumlah perguruan tinggi ternama. Sebagai kota pendidikan, banyak mahasiswa berasal dari luar Malang yang kemudian menetap di Malang. Terutama dari wilayah Indonesia Timur seperti Bali, Nusa Tenggara, Sulawesi, Kalimantan, Maluku, dan Papua, bahkan dari luar negeri sekalipun.

Selai itu indeks Pendidikan di kota malang juga sangat tinggi. Contoh jika kita mengacu pada hasil UNBK tahun 2017 kota malang meraih predikat rata rata nilai tertinggi se-provinsi Jawa Timur dengan angka 78,9 dari total 15.729 siswa.

Akan tetapi sejak adanya Pandemi COVID-19 Diknas dan Kemenag kota Malang meliburkan seluruh siwa dari tingkatan TK/RA sampai tingkatan SMA/MA. Terhitung mulai 16 maret 2020 sampai detik ini, tidak kurang dari 335 hari siswa siswi di kota malang bergelut dengan kejenuhan dalam belajar.

Tidak dipungkiri, memanglah kebijakan pendidikan daring sepanjang pandemi COVID-19 jadi pemecahan utama supaya proses pendidikan senantiasa bisa berlangsung. Tetapi dalam penerapannya ada hambatan serta kekurangan.

Sektor pendidikan Indonesia kini tengah mengalami persoalan serius karena tidak semua pendidik, siswa atau orang tua benar-benar siap melaksanakan kegiatan belajar dan mengajar di tengah-tengah pandemi COVID-19. Harus diakui bersama, ada banyak persoalan muncul di masyarakat terkait pelaksanaan proses belajar mengajar secara daring di tengah pandemi COVID-19 ini.

Keluhan yang muncul terkait pembelajaran daring pun muncul beragam. Seperti bagaimana cara memahami karakter psikologis siswa dan pendidikannya agar pola pengajaran Belajar dari Rumah (BDR) yang diberikan dapat tepat guna. Kemudian bagaimana pula persiapan para pendidik guna menyiasati kesulitan siswa belajar dari rumah yang notabene banyak kendala dan gangguan dengan segala permasalahannya.

Baca Juga:  Eksistensi Tradisi Pesantren Melalui Daring

Keluhan yang timbul terpaut pendidikan daring juga timbul bermacam- macam. Semacam bagaimana metode menguasai kepribadian psikologis siswa serta pendidikannya supaya pola pengajaran Belajar dari Rumah( BDR) yang diberikan bisa pas guna. Setelah itu bagaimana pula persiapan para pendidik guna mendalami kesusahan siswa belajar dari rumah yang notabene banyak hambatan serta kendala dengan seluruh permasalahannya.

Ditambah perkara dengan pola belajar dari rumah bila posisi rumah siswa serta rumah pendidik yang sulit signal, sedikit fitur pc, gawai/ gadget yang tidak menunjang, tidak sanggup beli kuota dan kasus sosial yang lain. Pendidik pula wajib sigap serta kreatif dalam membuat suatu virtual classroom yang menarik sehingga gampang dimengerti oleh siswa.

Di kota Malang sendiri meskipun sudah lama terkenal dengan sebutan kota Pendidikan nyatanya kalang kabut menghadapi adanya pandemi kali ini. Dari data yang di himpun oleh litbang kompas per tahun 2020, dari 2800 an jumlah guru di kota malang yang dikrucutkan dengan metode  purposive sampling ditemukan fakta yang mencengangkan.

Bahwasannya hanya ada 364 guru yang kompeten dalam melakukan pembelajaran di era pandemi ini. Itu artinya 85 persen guru di kota malang sangat kelabakan untuk menjalankan pembelajaran secara daring. Meskipun hal itu tidak hanya di sebabkan oleh minimnyanya SDM saja.

Pada skala nasional penerapan pembelajaran secara daring juga menemui banyak kendala. Seperti tidak meratanya subsidi internet, tidak adanya penanganan khusus untuk daerah-daerah yang masuk dalam zona 3T, banyaknya tenaga pendidik yang berusia lebih dari 45 tahun, kurangnya fasilitas di tataran basis (desa-desa) dan yang paling utama adalah tidak adanya keseriusan dari kemendikbud untuk mengawal dan mengevaluasi tentang kebijakan yang sudah dibuat.

Baca Juga:  Merubah Ujian Menjadi Tantangan (Coronavirus dan Pembelajaran)

Kondisi-kondisi itu menjadi perhatian Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI). Survei KPAI tentang pelaksanaan proses belajar jarak jauh di 20 provinsi dan 54 kabupaten/kota menyebut 73,2% siswa dari 1.700 responden, atau 1.244 siswa, mengaku terbebani tugas dari para guru. Sebanyak 1.323 siswa dari seluruh responden berkata sulit mengumpulkan tugas karena guru meminta mereka mengerjakannya dalam waktu singkat.

Kita tidak tahu sampai kapan pandemi di kota malang ini akan berakhir. Berdasarkan fakta fakta di atas sudah barang tentu kebijakan pembelajaran secara daring sangat tidak efektif. Dengan kata lain, apabila kebijakan ini tidak di revisi maka cepat atau lambat kita akan menemukan fakta bahwa indeks pengetahuan di kota malang akan merosot.

Sementara seperti yang kita ketahui semua di sektor lain seperti ekonomi peribadatan, pariwisata sudah di buka besar-besaran meskipun dengan embel-embel prokes yang tidak pernah diaplikasikan secara maksimal. Dengan mengacu fakta fakta tersebut, idealnya pemerintah dan akademisi harus segera mencari WIN WIN SOLUTION.

Lantas siapa yang berani memulai campaign menyuarakan bahwa kebijakan pembelajaran daring di kota Malang adalah usaha pembodohan yang mungkin tidak disengaja?. Ya mana saya tahu saya kan ikan. []

Muhammad Ghofar Ali
Praktisi Pendidikan Kota Malang dan Aktivis Muda NU

    Rekomendasi

    Tinggalkan Komentar

    More in Opini