Croissant: Hari-Hari Pertama menjadi Mahasiswa Jamiah Abu Nur

Jam 09.30 berdering, tak terasa sudah waktunya istirahat dari aktivitas “mengaji”. Kami menyebutnya begitu, kendati sebenarnya kami adalah mahasiswa di kampus Abu Nur, sebuah kampus yang didirikan oleh Syekh Ahmad Kaftaro dan terletak di pusat kota Damaskus, Syiria.

Kami baru tiba dari Indonesia bersama 31 mahasiswa penerima beasiswa Abu Nur tanggal 10 November 2021 lalu. Pada saat yang sama, masyarakat Indonesia sedang memperingati hari Pahlawan. Kami juga akan memulai perjuangan di negeri orang untuk menuntut ilmu di negara yang jauhnya kurang lebih sekitar 8700 km. Jarak tersebut memakan waktu tempuh tercepat via udara kurang lebih 10 jam. Itupun jika kecepatan pesawat penerbangan 900km/jam. Kalau pesawat terbang lebih lambat, sekira 500km/jam, kita bisa sampai 17 jam kemudian. Semoga semangat para pejuang menular pada kami dalam rangka jihad fi sabilillah li tholabil ilmi.

Hari itu, saya dan teman saya, Said Humaidi, seorang santri alumni Jember, kebetulan tidak sarapan pagi. Karena habis sholat jamaah subuh tadi kita langsung pergi ke kamar dan ketiduran.

Entah kenapa pagi itu kami tak kuasa menahan kantuk. Mungkin masih efek jetlag. Di Indonesia pada saat yang sama, waktu masih tengah malam. Karena perbedaan waktu 5 jam antara Indonesia Syiria, maka saat di Jakarta sudah pada bangun, di Syiria kami tengah terlelap.

Sebelumnya sih kami sudah belajar adaptasi dengan mengisi waktu menjelang jam sarapan pukul 6.30, dengan mengobrol ringan. Kadang saya menyempatkan diri membaca kitab karangan Syekh Muhammad Ramadhan Al-Buthi, fiqh Syirah Nabawi. Kebetulan saya mengambil jurusan Syariah dalam program ini.

“Bektas, tuku jajan yuk!”

Kata Said. Dia ini alumni beberapa pesantren di Jatim, diantaranya PP Dalwa Pasuruan dan Suci Gresik. Saya sendiri alumni Tambakberas dan Sidogiri. Jadi dialek kami tidak jauh beda.

“Menisan gae sarapan, awak dewe kan gurung sarapan”

” Oh ya, awak dewek kan gurung sarapan. Emang kate tuku opo iki?” tanya saya.

Baca Juga:  Deklarasi Kemanusiaan Universal

Sarapan kami biasanya terdiri dari roti dan selai strawberry. Kadang ada menu nasi kabuli, namun tidak selalu ada. Beberapa menu lain biasanya berupa roti dengan pendamping susu. Perut saya relatif bisa menerima makanan baru ini, kecuali yoghurt. Yoghurt disini rasanya masam. Berbeda jauh dengan di Indonesia.

Yang istimewa di sini, tukang masak asrama adalah para hafidz. Sehingga saat mereka masak, lisannya kalau tidak mengaji pasti membaca sholawat. Subhanallah. Sungguh, saya merasa beruntung sekali menjadi bagian dari mujamma ini.

” Tuku seng wingi loh kang, sing dituku bang Thoriq gae arek kamar. Roisan jenenge” lanjut Said.

Bang Thoriq, lengkapnya Thoriq Jhiran Fatah adalah senior dan ketua kamar tempat kami tinggal di asrama kampus Abu Nur. Beliau sudah 3 tahun di sini. Mahasiswa mumtaz jurusan Ushuluddin ini kesehariannya kalau tidak mengaji ya membaca kitab. Di awal kami tiba, beliau banyak membantu sedekah wifi untuk kami saat ingin menghubungi tanah air. Maklum jaringan agak sulit didapatkan. Mungkin karena efek embargo. Untuk mendapatkan card baru kami harus mendaftar dulu dengan menggunakan paspor. Sedangkan paspor masih belum dibagikan lagi.

” oke siap” kata saya.

Segera kita menuju asrama untuk ambil uang. Asrama kami terletak di lantai 7, kelas perkuliahan untuk mahasiswa baru berada di lantai 5, dan tempat kita sarapan ada di lantai 1. Sering kita harus bolak-balik dari lantai satu ke lantai lain. Bisa 5 kali bolak-balik dari lantai 1 ke lantai 7 dalam sehari. Tidak terbayangkan bukan, seandainya menggunakan tangga manual? Untungnya, mujamma Syeh Kaftaro ini dilengkapi fasilitas lift. Sehingga kami tidak terlalu merasa capek kendati harus naik turun berulangkali.

Di asrama, kita kebetulan bertemu bang Andi. Beliau ini senior di jami’ah keturunan bangsawan Bugis di Sulawesi. Sudah 3 tahun menimba ilmu di kampus ini dan mengambil jurusan Syariah.

“Bang Andi, antum mau beli jajan? Kalau iya, kita ikut. Soalnya kita tidak tahu jalan ke tokonya”.

Baca Juga:  Kewirausahaan Bagi Generasi Santri

Begitu sapaan kami. Khas mahasiswa baru yang tidak tahu arah.

Bang Andi sama sekali tidak keberatan.

Kami pun bareng-bareng pergi ke toko roti.

Jalannya lumayan jauh. Pertama kita harus ke lantai 3 dulu. Di lantai ini biasanya kita jamaah sholat. Karena di lantai inilah masjid kampus berada. Lalu kami berjalan menuju gerbang kampus. Di sana terletak pintu luar menuju pertokoan.

Hawa dingin menusuk kulit saat kita keluar gerbang.

“Dinginnya…” kata saya.

Maklum, saat ini Damaskus sedang mengawali musim dingin. Suhu menunjukkan angka 7 derajat Celsius. Dimulai dari bulan November dan akan memuncak saat memasuki bulan Desember. Biasanya saat itu akan turun salju sampai dengan bulan Januari. Masuk musim semi akan mulai saat bulan Maret nanti.

Meskipun saya sudah memakai jaket tebal yang disiapkan dari tanah air, rasa dingin masih sangat terasa bagi kami yang terbiasa dengan iklim tropis. Bagi masyarakat lokal sendiri mungkin tidak terlalu merasakan dingin yang menusuk, karena saya melihat banyak dari mereka yang hanya mengenakan kaos saja. Ohya orang Syiria sangat rapi dalam berpakaian. Rata-rata mereka mengenakan jas dan sepatu, meskipun sedang beraktivitas di pasar. Alamat nih, sarung dan sandal saya gak bakal bisa keluar kamar ini. Kecuali kalau saya mau dibilang aneh. Atau aib, begitu mereka sebut. Dus, saya harus mulai belajar berpakaian rapi dimanapun berada.

Kami terus berjalan melewati taman. Meskipun tanaman sudah mulai layu karena suhu dingin, tapi masih relatif bisa dinikmati keindahannya.

Saat sedang asyik-asyiknya melihat pemandangan, tak terasa kaki ini sudah sampai di toko roti. Pemiliknya seorang pria separuh baya. Tukang roti di sini kadang juga seorang Syeh yang mengajar di ma’had.

“Antum mau beli berapa banyak? Ini ada rasa keju sama coklat” kata bang Andi.

Saya membeli 1 roti rasa coklat, Said beli 2 rasa coklat dan keju. 3 temen saya yang lain, mas Azma, Baihaqi, Rifqi juga ikutan coba-coba.

Baca Juga:  Tawasul (di Medsos) Sebagai Ikhtiar Melawan Pandemi

Ukuran roti di sini sangat besar, diatas rata-rata ukuran roti di Indonesia. Saya sendiri juga tidak terlalu hobi makan roti, sehingga merasa cukup membeli 1 saja. Sekedar buat sarapan. Ternyata rotinya sangat enak. Perpaduan rasa gurih roti dan manis sesuai toppingnya. Crunchy di luar namun lembut di dalam. Di tanah air, saya jarang menemukan roti ini dijual umum. Atau saya yang mungkin tidak tahu.

Sebelumnya bang Andi juga bilang, “Antum yakin beli 1? Apa gak kurang?”

“Gak Bang, sudah cukup ini. Takut nanti kebanyakan” kata saya menyadari perut saya yang kecil.

Namun, saat dicicipi, tanpa terasa roti sebesar itu sudah habis. Menyesal juga cuma beli 1. Harganya sih tidak terlalu mahal. Sekitar 800 lira. Kalau dikonversikan dalam bentuk rupiah sekitar 5000 rupiah. Cukup murah mengingat beberapa waktu yang lalu harga roti sempat naik akibat situasi politik di Syiria. Saya jadi merasa geli sendiri karena tadi Said menyebutnya dengan nama roti roisan bukan croissant.

Croissant sendiri umum dijumpai di beberapa toko roti di Damaskus selain jenis lain seperti hummus, shawarma, khubz, dll.

Secara historis, croissant mempunyai legenda sebagai simbol kemenangan Wina atas serbuan Turki Usmani di Eropa. Lalu dibawa Perancis saat menjajah Syiria tahun 1917-1920. Karena riwayatnya yang agak kontroversial ini, croissant sempat difatwakan haram oleh Komite Syari’ah di Aleppo karena dianggap merepresentasikan penindasan dan kolonialisme Barat atas dunia Islam.

Setelah cukup kenyang, kamipun menuju kelas untuk menyelesaikan perkuliahan hari itu.

Walau ada keinginan untuk beli roti lagi, tapi waktu istirahat sudah habis. Kita harus bergegas menuju kelas agar tidak terlambat. Masih ada hari lain untuk mengeksplorasi kuliner atau hal lain. Semoga. []

Ahmad Beghtasy Dhiyaul Haq
Mahasiswa Jamiah Abu Nur Damaskus Pernah nyantri di Tambakberas dan Sidogiri. Pengalaman jurnalistik : Pimpinan Redaksi di Mata Baca Sidogiri Menulis di beberapa portal pesantren seperti Zawaya, tambakberas.id, dan cerita santri.id.

Rekomendasi

Tinggalkan Komentar

More in Santri